
Tiba-tiba, Sonia diseret oleh Pak Amin dan Cindy keluar dari rumah tersebut! ternyata bukan isapan jempol belaka. Mereka mengusir Sonia dari rumah itu, sementara sang Ibu tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ayah, Cindy. Kenapa kalian berbuat seperti ini padaku? kalian tidak tahu apa-apa dan aku tidak pernah menjual diri ataupun menjadi pe-la-cur, justru aku di jual oleh Hera dan pada akhirnya aku sudah menikah dengan laki-laki yang pernah membeli ku. Kalian harus percaya itu!" pekiknya Sonia.
Suara Sonia sembari terus diseret oleh Pak Amin dan Cindy ke teras rumah, Pak Amin terlalu kecewa kepada Sonia yang dia pikir sudah keluar dari jalurnya.
Bu Melani hanya mengikuti dari belakang sambil menangis tersedu, rasanya tidak tega namun dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa dengan yang menjadi keputusan suaminya itu.
Tas dan koper Sonia yang kebetulan masih berada di teras, ditendang oleh Cindy ke arah halaman dan brugh ... pintu pun ditutup bahkan terdengar dikunci dari dalam.
Sonia mendekati pintu dan menggedor nya. "Ibu, Ayah. Buka pintunya! aku mau masuk, jangan usir aku dari sini. Kalian adalah keluargaku, Ibu dengarkan aku, Bu ... apa yang aku katakan adalah benar. Sesungguhnya aku kerja di butik! tapi Hera menjual ku."
Kedua tangan Sonia terus bergantian menggedor daun pintu yang sama sekali tidak dipedulikan oleh orang-orang yang berada di dalam. "Aku di jual Hera Bu ... sehingga akhirnya aku dinikahi oleh pria yang sudah membeli ku, kalian harus percaya padaku. Dan berapa hari lagi dia akan datang menemui ibu dan ayah di sini. Maafkan aku Ibu, Ayah maafkan aku? hik-hik-hik."
"Ayah dan Ibu itu tidak ingin kau tinggal di sini, pergi jauh-jauh dan kamu sudah dicoret dari kartu KK. pergi sana? cari laki-laki yang banyak agar uang mu juga semakin banyak! udah pergi sana?" Cindy mengibaskan tangannya dan dia berdiri di balik jendela.
"Cindy, bukain pintunya Cin! biarkan aku masuk ... Ibu ... Ayah! aku ingin masuk! maafkan aku?" pintanya Sonia kepada Cindy dan juga ayah ibunya yang berada di dalam.
Suara kegaduhan itu terdengar oleh para tetangga, sehingga mereka masing-masing muncul dari tempat masing-masing dan Ibu yang tadi kembali mendatangi dan menghampiri Sonia.
"Ada apa ini? ada apa? kok kamu bukannya disambut bahagia, anak pulang dari luar Negeri, ribut-ribut kayak gini. Aneh!" kata si Ibu tersebut sambil memegangi kedua bahu Sonia yang sedang menangis tersedu.dan terus-terusan menggedor pintu.
"Bu Melani ... bukain pintunya? kenapa kalian membiarkan Sonia di luar? dia jauh-jauh dari luar Negeri untuk menemui kalian! malah diperlakukan seperti ini. Tidak kasihan apa?" kata si Ibu sembari mengetuk pintu.
__ADS_1
"Ibu Darma, biarkan saja dia pergi dia bukan anak saya lagi. Saya tidak Sudi punya anak seperti dia! biarkan dia pergi," bentaknya Pak Amin dari balik pintu.
Membuat para tetangga merasa heran dan saling bertanya-tanya. Ada apa ini yang sebenarnya? termasuk ibu Darma yang melihat ke arah Sonia.
"Ini Ada apa sebenarnya? kok jadi gaduh begini ya? sudah, sekarang kamu ikut ibu yuk? kamu istirahat nya di rumah ibu, nanti juga orang tua mu akan luluh! namanya juga orang tua yuk, ikut sama ibu!" ibu Darma mengajak Sonia untuk mendatangi rumahnya dan beristirahat di sana.
Sonia mengusap wajahnya yang banjir dengan air mata, lalu dia menghela nafas dalam-dalam dan kemudian dihembuskan dengan sangat panjang, berusaha menenangkan diri dan berusaha sabar.
"Terima kasih, Bu ... tapi biar aku menginap di rumah teman saja!" tolaknya Sonia dan beralasan akan datangi rumah temannya. Tapi dalam hati dia ada niat untuk pergi saja ke hotel dan beristirahat di sana, sekalian menyiapkan tempat agar nanti kalau Leo datang langsung ke hotel saja.
"Tapi teman yang mana?mendingan kamu istirahat di rumah Ibu saja, hari dah hampir sore juga." Ibu Darma menatap cemas ke arah Sonia.
"Ibu jangan khawatir, aku tidak apa-apa dan aku mau ke rumah teman saja. Terima kasih atas tawarannya ibu!" ucap Sonia kepada ibu Darma.
"Baiklah, kalau begitu. Hati-hati ya?"
"Terima kasih, ibu-ibu terima kasih banyak! biar aku pergi ke rumah teman!" kata Sonia sembari mengangguk pelan dan ketika Sonia mau mengambil tas dan koper, tiba-tiba datang ketiga adik laki-lakinya.
Yaitu Iman, Luky dan Rendy, mereka baru saja pulang dan masih mengenakan seragam sekolah padahal hari sudah menjelang sore.
"Kak Sonia, beneran ini Kak Sonia? kapan pulang? ya ampun aku kangen banget!" kata Rendy saling timpal dengan Iman juga Luki yang lebih dulu memeluk Sonia.
Mereka berpelukan dengan sangat erat dan penuh haru, entah anak-anak ini tidak mengerti atau memang tidak tahu dengan cerita yang meracuni kedua orang tuanya dan juga Cindy.
__ADS_1
"Lho, kakak kenapa belum masuk? emangnya di rumah gak ada siapa-siapa? kan ada Ayah sama Kak Cindy!" ucap Rendy setelah memudarkan rangkulannya kepada Sonia.
"Justru ayah mu telah mengusir kakak mu ini. Sonia!" kata Bu Darma menatap ketiga anak laki-laki Pak Amin.
"Ha? di usir?" suara ketiga adik laki-lakinya berbarengan dan saling bertukar pandangan satu sama lain.
Lalu Luky mendorong pintu yang nyatanya dikunci dari dalam, sehingga dia pun berteriak-teriak meminta pintunya agar dibukakan. Tidak lama kemudian ... pintu terbuka dan yang membukanya adalah Cindy.
Dan langsung menyuruh ketiga adiknya masuk! jelas ketiga adik laki-lakinya itu merasa heran dan tidak mengerti, kemudian mengajak Sonia untuk masuk! namun terkena bentakan dari Cindy yang cuman menyuruh ketiganya masuk tanpa Sonia.
"Kenapa Kak Sonia nggak boleh masuk? ini kan rumah rumahnya juga, aku jadi nggak ngerti!" kata Iman dan semuanya menggaruk tengkuknya.
"Aku juga bingung. Ada apa ini? emangnya ayah sama Ibu nggak senang kak Sonia pulang dan dapat berkumpul kembali dengan kita." Timbalnya Luky.
"Mendingan kita masuk Kak?" Rendy menarik tangan Sonia agar masuk ke dalam rumah.
"Heh, bocah-bocah. Nggak denger apa? kalian bertiga itu masuk! dan biarkan dia di luar, suruh dia pergi dari sini. Ayah dan ibu tidak mau melihat dia berada di sini, buruan masuk?" tatapan Cindy begitu garang bahkan suaranya pun meninggi menyuruh ketiga adik laki-lakinya masuk.
Karena ketika adik laki-lakinya tidak kunjung masuk, membuat Cindy kembali memekik. "Apa kalian juga ingin diam di luar dan tidak bisa masuk ha? mau masuk kagak kalian itu ha?"
"Kak Cindy. Ini kenapa sih Kak Sonia, kan baru pulang dari luar Negeri. Bukan nya di sambut bahagia penuh rasa rindu malah diperlakukan seperti ini! gimana kalau posisi Kak Sonia dirasakan oleh mu! gimana perasaan mu ha?" Rendy tampak menentang Cindy.
Membuat Cindy berwajah merah padam dan hendak melempar sendalnya pada Rendy ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya ya, makasih