
Kini Sonia dan Dino sudah berada di dalam salah satu bank untuk membuka rekening Sonia, setelah melewati beberapa proses. Akhirnya rekening Sonia pun jadi dan dia langsung mengirimi uang kepada keluarganya sebesar 500 juta. Dan saldo Sonia pun masih tersisa 500 juta yang baru saja ditransfer atas nama Leo.
Sekaligus membuat m-banking di sebuah HP baru yang dipersembahkan untuk Sonia, yang baru saja Dino berikan barusan atas rekomendasi Leo dari konter terdekat dengan bank yang sedang mereka duduki.
"Sekarang ponsel anda ini Nona, dan yang lama itu buang saja sebab kartunya sudah beralih ke ponsel ini!" ucapnya Dino sembari menyerahkan ponsel baru yang lebih bagus dan canggih kepada Sonia.
"Ini buat saya?" Sonia malah bertanya sebelum mengambil ponsel tersebut.
"Tentu, Nona. Saya membelikan ini karena suruhan dari Tuan Leo Lie untuk anda, pastinya dia tidak mau Anda terlihat biasa!" balasnya Dino tanpa menatap ke arah Sonia, pria tampan tersebut tampak segan bila harus menatap wajah Sonia yang teduh dan anggun.
"Mimpi apa aku semalam? tidak pernah bermimpi ataupun berharap ponsel yang baru, ponsel yang lama juga masih bisa ku pakai kok!" gumamnya Sonia sembari melihat ponsel yang lama.
"Dan begini cara Anda untuk mengecek m-banking!" Dino langsung mengajarkan Sonia Gimana caranya mengecek m-banking dan juga transfer.
"Lho kok, ini ada saldonya 500 juta kan yang barusan saya kirimkan ke orang tua saya?" Sonia merasa heran.
"Cobalah Anda cek lagi, uang itu masuknya dari mana atas nama siapa." Dino menyuruhnya untuk mengecek lagi dan mengamati dengan seksama.
"Ini nama pengirimnya Leo Lie. jadi apakah dia yang ngirimnya?" Sonia menatap ke arah Dino.
"Tentu saja Nona. Dan ini baru permulaan, belum nanti-nanti dia transfer ke rekening anda untuk keperluan lainnya." Jelasnya Dino.
Sejenak Sonia terdiam dan melamun. Tiba-tiba terdengar dengan suara notifikasi dari ponsel barunya. Notifikasi m-banking, atas nama Leo Lie kembali mengirim uang sebesar Rp 300 juta.
Disusul dengan sebuah chat dari kontak yang tidak dikenal dan dia mengatakan kalau uang yang 300 juta itu untuk ke salon, belanja semua keperluan Sonia dan sisanya buat belanja keperluan dapur untuk satu minggu.
"Ini kontak siapa, Tuan?" Sonia memperlihatkan chat yang ada di ponselnya.
"He he he ... Nona itu kontak disimpan saja karena kontak itu kontak suami mu!" lalu dia mengajak Sonia untuk pergi dari bank tersebut.
Dan selanjutnya Dino akan membawa Sonia ke salon kecantikan.
Sonia masih bingung tidak habis pikir, baru saja bikin rekening uangnya sudah banyak.
"TUan. Aku tidak mengerti karena ada uang 500 juta yang barusan dia kirimkan, kenapa kirim lagi 300 juta buat ke salon belanja keperluanku dan dapur?" Sonia mengerutkan keningnya dan dia melihat ke arah Dino yang kini sudah duduk di belakang kemudi.
__ADS_1
"Kalau soal itu. Saya kurang tahu Nona, coba tanyakan saja pada pihak yang bersangkutan." Akunya Dino yang tidak tahu menahu soal saldo yang 500 juta.
Kemudian Sonia terdiam mengingat-ingat apa saja yang dikatakan Leo. "Oh iya, dia bilang ... kalau dia akan membayar aku untuk pelayanan ku semalam kemarin, karena kalau malam ini katanya lain lagi bukan untuk dibayar! ya ... aku baru ingat." Batinnya Sonia sambil mengangguk pelan.
Mobil Dino terus meluncur ke sebuah salon kecantikan yang dari luar saja sudah terlihat megahnya. Dan Sonia langsung disambut ramah oleh para staf salon dan dengan cepat diberi pelayanan.
Dari mulai medicure, pedicure dan perawatan kecantikan lainnya rambut dan juga kulit.
Setelah beberapa jam perawatan, akhirnya selesai juga dan kini tampak banget Sonia banyak berubah dari mulai bentuk kuku, rambut menjadi pirang bergelombang. Dan katanya rambut Sonia bisa kapan saja jika ingin diluruskan.
"Anda sungguh berbeda dan tampak sangat cantik. Tuan Leo pastinya akan sangat suka. Sekarang karena sudah lewat jam makan, sebaiknya Anda makan dulu!" Puji Dino yang akhirnya mengajak Sonia untuk makan siang.
"Boleh, kebetulan perutku sudah keroncongan. Lapar he he he!" Sonia menunjukkan giginya yang putih bersih berbaris rapi.
"Aku ingin makan yang ada nasinya!" pintanya Sonia setelah duduk di sebuah meja makan yang bernomor sekian.
"Naik Nona, pesan saja Seperti yang anda mau. Di sini menyediakan siput dan juga nasi!" kata Dino setelah duduk berhadapan dengan Sonia.
Mereka langsung membuka daftar menu dan dengan cepat memesan apa yang mereka inginkan. Sonia memesan siput bersama nasi, sementara Dino memesan daging dan keduanya memakai nasi. Dino pun ketularan Sonia untuk menggunakan nasi putih sama lauknya.
"Setelah makan, Aku pengen ... apakah di sini ada terdapat mushola?" tanya Sonia sembari celingukan ke arah luar.
"Tentu, ada dimana-mana juga. Nanti di depan ada, saya antarkan!" Dino pun menoleh ke arah belakang.
Kemudian Sonia pun segera menyudahi makannya karena dia takut waktunya keburu habis, setelah Dino membayar bill bekas makan. Mereka langsung beranjak ke tempat yang Sonia tuju.
Dina menunggu di luar sementara Sonia sedang mengerjakan salatnya.
"Tuan Leo sangatlah beruntung dapat ditemukan dengan wanita seperti dia dan semoga berangsur-angsur tuan Leo lebih merubah dirinya. Seperti sekarang ini mungkin dia sudah mengurangi kegiatannya dengan wanita-wanita malam." Gumamnya Dino sembari menatap ke arah dalam sebuah mushola.
Melihat Sonia Tengah menggunakan mukenanya di dalam sana. Mungkin benar kuat pepatah mengatakan, semua akan berubah demi cinta. Semoga Tuan Leo merubah segalanya demi cintanya kepada wanita tersebut. Kebetulan memang Tuan Leo juga mempunyai background yang baik," Dino menghela nafasnya dalam-dalam.
Lalu dia mendongak melihat langit-langit yang begitu tampak cerah dan terlihat beberapa burung berterbangan berkicau riang.
Setelah itu mereka langsung pergi ke sebuah Mall untuk mengajak Sonia shopping. Belanja semua keperluan Sonia mulai dari pakaian dan lainnya. Seperti tas sendal dan sepatu.
__ADS_1
Ketika selesai membayar dan tinggal pulang. Terdapat sebuah insiden yang membuat Sonia hampir spot jantung, gimana tidak? kalau tepat di depan mata ada korban tembak tersungkur.
Sonia tertegun, diam tak bergeming di tempat. Sementara korban sudah bangun dan di bawa oleh pihak yang bersangkutan dengan jalan tertatih.
"Nona, mari kita pulang?" Dino menyentuh bahunya Sonia yang tampak sangat shock.
"Ha?" Sonia bergumam sangat pelan tanpa menoleh pada Dino.
Dino berjalan menggiring Sonia sambil melihat orang yang tadi kena tembak tersebut dan yang lawannya adalah masih anak buah dari Leo Lie. Atau bawahannya juga.
Soni masih tampak shock. Dengan tanpa bicara apapun matanya masih terbayang di ingatan dengan sangat lekat kejadian itu.
"Anda jangan merasa aneh, Nona di sini sudah termasuk biasa dengan kejadian itu." Ucap Dino setelah berada di dalam mobil.
"Sudah biasa? aku ngeri." Sonia bergidik ngeri.
"Iya, sudah biasa dan itu orang-orang yang tentunya punya sangkut paut dengan sindikat atau persatuan dalam sebuah jaringan." Tambahnya Dino.
"Gimana kalau mau keluar? bila tidak aman seperti itu!" Sonia merasa takut.
"Kalau orang yang tidak tahu apa-apa tentunya aman-aman saja Nona. Karena orang yang tidak bersalah dan tidak ada hubungannya, justru akan di lindungi oleh salah satu sindikat jadi anda tidak perlu khawatir Nona." Tambahnya Dino.
Jiuuuuus ....
Mobil melaju sangat cepat. Meninggalkan tempat tersebut kembali ke apartemen.
"Tuan, aku mau belanja keperluan dapur." Kata Sonia setelah tinggal beberapa meter lagi masuk ke area apartemen.
"Soal itu, boleh! mampir dulu di swalayan depan apartemen." Dino mengangguk.
Sonia buru-buru memasuki swalayan dan belanja semua keperluan dapur. Dan kali ini membayarnya dengan uang kes yang tadi dia sempat mengambil uang kes dari ATM ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa like comment subscribe kasih bintang 5 dan terima kasih
__ADS_1