
Langkah Leo begitu cepat sehingga Sonia kesulitan untuk melangkah. Namun dia berusaha untuk bisa mengikuti langkahnya.
Sehingga sampailah di dekat mobil dan memasukinya. Setelah berada di dalam mobil. Sonia baru sadar kalau tangan Leo yang memegang tangannya itu berdarah.
"Tuan. Tangan mu kenapa?" Sonia sangat terkejut melihatnya.
"Tidak apa." Jawabnya Leo dengan nada dingin.
Sonia langsung mengeluarkan tisu lalu mengelap tangan Leo yang berdarah tersebut.
"Tidak usah!" Leo menarik tangannya.
Namun Sonia Bersi kerah membersihkan darah itu dengan tisu basah.
Wanita muda itu tidak tega melihat tangan Leo seperti itu. Sehingga Sonia tidak menyadari kalau mobil tersebut sudah melaju dengan cepat.
Dino menyodorkan sebuah kotak obat pada Sonia agar memperban tangan Leo yang luka tersebut.
Kemudian Sonia langsung memperban luka nya Leo yang terus berdarah. Dengan ekspresi wajah nya yang cemas.
Leo memandangi ke arah Sonia yang sedang memperban tangannya itu. Lalu bergumam. "Terima kasih."
"Sama-sama." Balas nya Sonia.
"Kau cemas ya? takut ku kenapa-napa!" Leo menatap lekat dengan bibir sedikit menyungging.
"Tidak, siapa bilang?" Sonia mengusap sudut matanya yang sedikit berair.
"Hem ... bilang saja. Sekarang kau cinta kan sama aku?" ucap Leo kembali.
"Tidak, sotoy. Sok tahu." Sonia mengelak dan tidak mau mengakui.
"Alah ... ngaku saja bila seperti itu." Leo tersenyum dan langsung mengecup bibirnya Sonia dan tidak perduli kalau di dalam mobil tersebut ada supir Dino.
Membuat mata Sonia melotot dengan sempurna, dia sangat terkejut menerima serangan serentak dari Leo.
__ADS_1
"Em ... lep-lepas?" Sonia berontak.
Kemudian Leo Lie menjauh dan melepaskan ciumannya, dia tampak bahagia sembari mengusap bibirnya yang basah.
"Kau ini apa-apaan? tidak nyadar kalau.di sini ada orang, nggak punya malu sekali!" suara Sonia memekik dengan menik mata yang bergerak ke arah depan di mana ada sopir dan Dino.
Namun lain lagi dengan Leo, dia malah menyelingai sangat puas. Lalu dia mengalihkan pandangan ke arah luar, pikirannya kembali teringat pada kejadian tadi di mana dia harus berkelahi hanya gara-gara ucapan pria yang dia anggap kurang ajar terhadap Sonia.
Wajah Sonia yang memerah hanya bisa menunduk malu, malu kepada orang-orang yang ada di depannya itu. Bisa-bisanya Leo berbuat seperti itu.
Setibanya dari parkiran apartemen Sonia langsung disuruhnya masuk oleh Leo, sementara dia katanya mau ngobrol dulu sama Dino.
Sehingga Sonia menuruti perintah dari Leo dan buru-buru turun dan berjalan dengan gegasnya menuju apartemen tempatnya tinggal.
"Kau harus memberi pelajaran pada orang-orang itu. Jangan sampai dia berbuat ulah apalagi membuat rugi perusahaan, bila perlu habisi dia," ucapnya Leo dengan tegas.
"Baik, bos. Akan saya laksanakan!" jawabnya Dino sembari ngangguk-anggukkan kepalanya.
Sonia yang kini sudah berada di dalam apartemen, dia langsung mengganti gaunnya dengan pakaian rumah. Serta membuka semua aksesoris yang melekat di tubuhnya.
Namun terdengar suara derap langkah yang mendekati pintu kamarnya, membuat Sonia mengarahkan pandangan ke tempat sumber suara tersebut.
Benar saja, di detik kemudian pintu pun ada yang mendorong dan tampak Leo sudah bertelanjang dada! berjalan memasuki kamar Sonia dan menghampirinya.
Namun dengan tangan yang ia ke belakang kan. Dan tiba-tiba dia memberikan sebuket bunga mawar merah kepada Sonia.
Membuat Sonia melihat ke arah bunga tersebut dengan mata yang tidak berkedip, dari mana bunga itu? tadi dia tidak melihat ada di mobil ataupun di ruangan apartemennya! tapi kenapa tiba-tiba Leo sudah membawa untuknya.
"I-ini untukku? dari mana, tadi aku nggak melihat ada bunga itu di mobil, ataupun di apartemen?" tanya Sonia sembari mengambil bunga tersebut.
"Kamu tidak perlu bertanya apalagi merasa heran, kamu tinggal terima saja dan coba lihat Ada apa di dalamnya!" ucap Leo sambil mendudukan dirinya di sampingnya Sonia.
Sonia melihat ke arah bunga dan Leo bergantian, kemudian sorot matanya tertuju ke arah bagian dalam buket bunga yang ada sebuah kotak kecil, terselip di sana. Sonia mengambil kotak tersebut dengan tangan bergetar.
Bagi Sonia ini kali pertamanya dia mendapatkan sebuah hadiah dari seseorang, karena dulu juga Zai tidak pernah romantis ini atau memberikannya hadiah ataupun bunga. Apalagi bunga BANK he he he ....
__ADS_1
Sebelum membukanya, Sonia menatap ke arah Leo yang juga memandangi dirinya.
"Buka dannpihatlah isinya apa, dan aku ingin tahu kamu suka atau tidak? kalau suka bilang suka, kalau seandainya tidak suka bilang saja tidak. Saya paling tidak suka sema orang yang berpura-pura!" ungkap Leo.
Lalu kemudian Sonia membuka kotak tersebut yang membuat mulutnya menganga, matanya melotot dengan sangat sempurna. Karena apa yang sedang dia lihat sebuah cincin berlian yang teramat mewah berbentuk lov.
"Wah ... indah sekali, ini asli buat aku?" pada akhirnya Sonia bersuara juga setelah merasa shock melihat keindahan cincin tersebut.
Leo mengangguk dan berkata. "Iya dong itu asli berlian dan juga asli buat kamu. Kalau buat orang lain ngapain aku kasihkan kamu!"
Sonia memasukkan cincin tersebut ke jari manisnya yang pas jarinya itu. "Makasih ya kalau ini buat aku aku nggak membayangkan sebelumnya, kalau akan memiliki parhiasan seperti ini!"
"Di rekening, uangmu lumaya ada, kenapa kamu nggak membelinya sendiri. Atau bilang saja padaku atau Dino kalaa tidak ingin memakai uang mu sendiri. Pasti aku belikan, apartemen rumah mobil. Perhiasan asal kamu mau! aku belikan kok!" ungkapnya Leo nggak ada yang sangat meyakinkan.
Bibir Sonia mengembang. Wajahnya sumringah sorot matanya pun berbinar, tampak kalau dia sangat bahagia. Dia benar-benar merasa tersanjung dan dihargai.
"Kamu mau apa? bilang saja padaku! gaun sutera yang mahal tas branded, sepatu dari kulit rusa. Aku akan berikan nya untuk mu!" Leo menatap dekat ke arah Sonia dengan tangan menyentuh tangan Sonia lalu mengusapnya dengan lembut.
Sonia tidak serta merta menjawab, karena dia pun merasa bingung mau apa? rasanya dia gak pengen apa-apa kalau untuk di sana, kecuali uang yang bisa dia kirimkan untuk orang tuanya di kampung. Biar di sana bisa membeli sawah, bangun rumah yang bagus. Kendaraan dan sebagainya.
Sonia menggeleng kan kepalanya karena dia memang bingung dan tidak membutuhkan apapun!
"Gila, masih ada wanita yang tidak membutuhkan apapun!" kini giliran Leo yang menggelengkan kepalanya, dia merasa aneh dan heran! di zaman seperti ini masih ada wanita yang tidak membutuhkan apa-apa atau barang-barang mahal.
"Di sini. Aku tidak membutuhkan apa-apa! karena apa yang kau beri sudah cukup, aku mau pergi ada mobil yang siapmengantar ku! aku mau tidur? ada tempat tidur yang empuk dan bagus seperti ini. Dan juga tempat tinggalnya, mau makan? aku tinggal masak atau belanja atau juga makan di luar, semua pasilitas sudah kau memberikan! terus aku mau apa lagi? pakaian aku bisa membelinya walaupun dengan sederhana! tidak perlu yang wah. Tas, aku nggak perlu tas berganti-ganti! apa lagi?"
Ujar Sonia dengan sangat panjang lebar, membuat Leo mengulum senyumnya seraya terus menggeleng masih ada wanita yang kayak gini.
"Kecuali uang yang anda berikan! karena aku ingin membahagiakan keluarga ku dan juga untuk masa depanku di sana!" sambungnya Sonia.
Leo menganggukkan kepalanya dia mengerti dengan maksud dan tujuan Sonia mengenai uang ....
...🌼---🌼...
Hai apa kabar semua reader ku yang cantik-cantik dan semoga kabar baik ya. Makasih masih menunggu ku untuk update
__ADS_1