
Saat ini Sonia sedang berada di dalam salon yang letak nya tidak jauh dari area apartemen bersama bu Elsa dan oma Monalisa. Sonia akan merawat diri agar tambah cantik dan menarik.
“Kau sudah sering ke sini? atau baru?” selidik oma Monalisa sambil mengedarkan pandangan ke arah suasana sekitar.
“Aku baru beberapa kali saja ke sini, Oma sama Ibu mau ikut perawatan dan biar aku yang membayar nya.” Sonia menawarkan untuk melakukan perawatan pada oma dan bu Elsa.
“Saya mau pedicure dan medicure. Saya tidak ingin kalah dengan yang masih muda lainnya. Juga perawatan wajah,” kata oma Monalisa sambil mendudukan dirinya di kursi perawatan tanpa di persilakan karena akan menunggu giliran.
Bu Elsa dan Sonia saling pandang dan dengan bibir yang menunjukan senyumnya, kemudian keduanya pun mulai perawatan yang di perlukan. Seperti Sonia perawatan rambut, wajah dan tubuhnya.
Setelah beberapa jam kemudian dan perawatan pun selesai dan membuat mereka kembali ke apartemen. Namun sebelumnya mereka pun makan dulu di restoran seafood.
“Apa ku mampu membayar makanan ini?” selidik oma Monalisa pada Sonia.
Sonia yang duduk di depannya sambil menempelkan punggung tangannya di bawah dagu menatap datar pada oma.
“Aku, bisa kok Oma. Aku di kasih uang sama Leo Untuk belanja atau keperluan ku,” jawabnya Sonia.
“Itu pasti, bila kau tidak punya uang ... biar Ibu saja yang membayarnya nanti.” Timpalnya bu Elsa sambil menarik hidangan yang baru saja datang.
“Tidak apa Bu ... aku ada kok uang, dan kalian cukup makan saja dan aku yang akan membayar semuanya.” Tambahnya Sonia sambil mulai menikmati makan siangnya dengan sangat lahap.
Sonia kini sudah berada di dalam apartemen, oma dan bu Elsa jadinya mereka berdua pulang dan meninggalkan lagi Sonia sendirian di apartemen.
Saat ini Sonia sedang bersantai di ruang televisi. Suara bell terdengar begitu nyaring di telinga Sonia dan membuat Sonia merasa heran siapa kah yang datang? membuat Sonia langsung beranjak dan mendatangi pintu, namun sebelum membukanya dia mengintip! ingin tau siapa yang datang bertamu.
__ADS_1
Alangkah terkejutnya Sonia, karena yang datang itu adalah Bobby yang sedang berdiri di depan pintu. “Bobby?” gumamnya Sonia sambil mematung dan dia tidak berani untuk membukanya takut ke napa-napa, risih dan khawatir akan menimbulkan fitnah.
Sonia berdiri di dekat pintu dia bukannya tega dan membiarkan Bobby di luar! namun dia belum siap menerima pertanyaan tentang dirinya dan Leo karena pasti dia bertanya atas pertemuan semalam di pesta.
Bobby sudah beberapa kali menekan bell dan tidak ada yang membuka kan pintu tersebut. Lama dia berdiri di sana tetapi hasilnya nihil, dia tidak bertemu dengan Sonia. Dia penasaran dengan hubungan Sonia dengan pengusaha muda yang bernama Leo Lie.
Bobby menatap ke arah pintu yang tertutup rapat dan tidak ada tanda-tanda akan ada yang membuka. Pada akhirnya Bobby menyerah juga dan meninggalkan tempat tersebut.
“Huuh ... akhirnya ... tuan Bobby pulang juga, maaf ya aku bukan tidak ingin bertemu atau tidak mau berterima kasih pada mu yang sudah berbuat baik pada ku. Tapi aku belum siap untuk bercerita karena kau pasti akan bertanya tentang semalam di pesta itu aku dengan Leo.” Gumamnya Sonia setelah mengintip lagi dari balik pintu dan Bobby sudah pergi.
Langkah Sonia kembali ke tempatnya semula sambil menonton televisi, menikmati secangkir Nescafe. Yang baru saja dia buat.
Babarapa waktu kemudian. Sonia di kagetkan dengan suara gawainya yang berada di samping.
Retttt ....
Sonia mengembangkan kedua pipinya seraya berpikir, kemudian dia beranjak dari duduknya dan mengambil hoddy nya yang berwarna abu dan dia pakai langsung. Ambil tas dan dompet, lalu dia pergi dari apartemen tersebut, dan dia berjalan menuju parkiran. Ia pun sudah menghubungi sopir untuk mengantarnya ke area taman dan dia pun bersedia untuk mengantarnya.
...----------------...
“Aku sudah sering menghubungi dia, tapi tidak bisa, dan sulit sekali untuk bertemu dia Cer.” Kata Bobby pada Cery sambil duduk di terasnya kontrakan Cery.
Cery yang sibuk dengan gawainya itu sejenak terdiam dan tidak merespon perkataan dari Bobby. Lalu Cery mengangkat wajahnya melihat ke arah Bobby yang tengah melihat ke arah dirinya. “Dia sudah membalas dan dia sebentar lagi akan datang ke taman.”
“Yakin? Dia mau datang ke taman?” Bobby ingin meyakinkan dirinya kalau Sonia akan datang.
__ADS_1
“Mau datang kok, tapi tidak ku bilang kalau ada Tuan Bobby.” Jawabnya Cery sambil menatap pria tersebut. “Kenapa emang, ngebet amat ingin bertemu dia?”
“Ada yang ingin kau tanya kan saja sama dia.” Sahutnya Bobby sambil meneguk minumnya.
“Kalau soal kerjaan, biarkan saja ... karena dia juga bilang sama aku dia punya kerjaan lain sehingga dia punya penghasilan yang aku rasa lebih dari cukup tuh.” Cery berbicara sedikit mengenang.
“Apa, punya kerjaan! apa emang?” selidiknya Bobby.
“Kerjaan nya apa sih, aku gak tak tau, tapi yang jelas ... uang nya banyak dan barang pun yang dia pakai seperti gawai. Tas, dompet termasuk barang branded kok, malah dia pun di antar oleh mobil mewah dan berAC, pokonya dia bikin aku iri deh, Tuan Bobby.” Cery meyakinkan sambil mengenang seperti yang dia lihat waktu itu pada Sonia.
Bobby melamun mendengar cerita dari Cery dan pikirannya langsung traveling yang tidak-tidak, bahkan berpikiran jelek jangan jangan seperti Cery yang menjadi langganan lelaki hidung belang. Buktinya dia tinggal di apartemen dan bersama pria pengusaha tersebut. Apa lagi kalau bukan simpanan pria berduit. Di tambah lagi kata Cery barang-barang yang sonia pakai barang branded semakin mendekati ke sana saja pikiran Bobby.
Sangat di sayangkan memang, kalau pikiran jeleknya terbukti dan membuat dia kecewa berat. Padahal kalau dia membutuhkan uang lebih dia bisa bantu dan dengan cara memberikannya pekerjaan, bahkan dia pun mau bila menikahi Sonia. Karena Bobby sebenarnya cinta sama Sonia namun dia seakan tidak ada waktu untuk mengungkapkan perasaannya pada Sonia. Di tambah lagi semakin ke sini semakin sulit untuk bertemu dan komunikasi pun semakin sulit.
Bobby menghela nafas dalam-dalam dan ia hembuskan dengan kasar, berharap semua yang ada dalam pikirannya yang khususunya jelek-jelek, tidak benar dan tidak terbukti.
“Kok Tuan Bobby melamun sih? mikirin apa sih?” selidik Cery merasa heran.
“Saya takut saja! kalau Sonia melakukan sesuatu yang tidak-tidak,” keluhnya Bobby sambil mengembuskan nafasnya melalui mulut.
Cery dibuat heran maksud Bobby yang tidak-tidak itu seperti apa. "Maksud tuan Bobby apa sih? yang tidak-tidak gimana?"
"Saya takut kalau Sonia jadi simpanan laki-laki hidung belang pasti seperti saudaranya, Hera." Jawabnya Leo sembari berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Ya ampun ... tapi tidak mungkin tidak mungkin Sonia seperti itu!" Cery menggeleng tidak percaya.
__ADS_1
Cery melamun sambil membereskan yang berantakan. Lalu dia pun beranjak menyusul Bobby yang sudah berdiri dan hendak berjalan ....