
"Lepaskan aku? aku mohon lepaskan aku! aku tidak sudi bila harus melayani mu lagi. Aku bukan pe-**-cu*, aku wanita baik-baik! lepaskan aku?" Sonia berteriak-teriak sambil memukul-mukul dada Leo.
"Saya tidak peduli kamu mau teriak sekencang apapun! karena ruangan ini kedap suara, lagi pula siapa yang mengatakan mu seperti itu? karena kamu hanya akan melayani saya seorang! yang namanya wanita itu bagai piala bergilir dari pria satu ke pria lainnya. Tapi kamu tidak akan! Karena kamu hanya milik saya!" ucapnya Leo sembari menindih tubuh Sonia dan membuatnya tidak bisa berkutik.
"Aku tidak sudi, lepaskan aku?" Sonia terus berontak dan mukul-mukul dada dan bahunya Leo, namun pria itu tidak peduli sama sekali. Dia tetap aja berada di posisinya mengungkung Sonia sambil menatap! meneliti wajah cantik Sonia.
"Kemarin aku memberi mu obat, agar tubuh mu merasa lemah tak berdaya, dan nggak bisa berontak, tapi kali ini saya tidak akan memberikan mu obat apapun! aku tidak peduli kamu berontak. Sekalipun menyakiti ku, tapi tidak akan menghentikan niat ku." Suara Leo yang bergetar dengan nafas yang mulai memburu.
Membuat Sonia semakin panik, dia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi terhadap dirinya dan pria itu pasti melakukannya lagi.
Benar saja! tangan Leo sudah mulai menggerayangi bagian tubuh Sonia dan membuka kancing piyamanya di bagian dada gadis itu.
"Cuich ..." Sonia meludahi wajah pria tersebut dan mengenainya.
Dengan refleks Leo terdiam setelah Sonia ludahi wajahnya, kemudian dia mengusap wajah dengan telapak tangan yang dia usapkan ke sprei, tangannya yang basah tersebut.
Tatapannya Leo sangat tajam pada Sonia seakan ingin menusuk jantung. Baru kali ini dia di kurang ajar oleh seorang wanita. Kedua tangannya Leo mengepal kalau saja lawannya itu adalah seorang laki-laki sudah tentu Leo Hajar habis-habisan.
Mamun sosok Leo tidak pernah berani untuk menyakiti wanitanya dengan tangan, kecuali dengan mulut dan secara tidak disengaja. Dia paling anti menampar ataupun memukul wanita, yang akan menyakiti psikis wanita tersebut.
Kecuali tamparan dengan uang dan kemewahan. Dirasa setiap wanita pasti suka kalau ditampar! dipukul dengan uang yang banyak serta dimanjakan dengan segala kemewahan.
"Lepaskan? brengsek, se-**-n lu. Ja*a-n*m, tidak punya perasaan, lepaskan aku? apa kau tidak ingat kalau ibumu itu seorang wanita? keluargamu. Bagaimana kalau mereka diperlakukan seperti ini oleh pria bejat seperti kamu!" teriak kembali Sonia sembari berusaha untuk bangun.
Tetapi tubuhnya terlalu berat untuk Sonia singkirkan, bahkan sekarang kedua tangan Sonia pun dikunci di atas kepala oleh satu tangan kekarnya pria tersebut. Sehingga Sonia hanya bisa menggerakkan tubuhnya dan teriak-teriak bahkan mengeluarkan kata-kata kotor dan kasar kepada Leo.
Laki-laki itu hanya menyeringai dan tidak peduli dengan umpatan kasar dari Sonia! justru dia semakin tertantang dan bersemangat. Kini Leo membungkam mulutnya Sonia dengan bibirnya, dengan gerakan yang sangat lembut dan tidak terburu-buru! Leo men**-sap dan me-lu*at bibir wanitanya dengan penuh gairah.
Nafas Sonia terengah-engah apalagi ketika tangan kanan Leo me**mas kedua balon yang sudah terlepas dari penghalangnya nya itu bergantian. Walaupun pikiran dan hatinya berontak namun tak dapat dipungkiri bila tubuhnya merespon dengan baik setiap sentuhan Leo.
__ADS_1
Apalagi bagaimanapun saat ini bukan yang pertama kalinya, tapi yang kedua yang dilakukan oleh pria yang sama.
"Ja-jangan! Jangan lakukan ini padaku, Jangan lakukan, Tu-Tuan? ach ... jangan!" suara Sonia di sela-sela bungkam mulut dari Leo.
Leo tidak peduli, dia tidak mengindahkan permintaan dari Sonia. Malah justru dia tersenyum melihat reaksi Sonia yang mulai teran**ang.
"Jangan munafik beb ... biarpun pikiran dan hatimu menolak. Tapi tubuhmu merespon dan menikmatinya! jadi rileks saja nikmati ini semua, lagi pula kau hanya melakukannya denganku tidak dengan pria manapun." Suara Leo dengan setengah berbisik.
"Ach Tuan ... aku mohon lepaskan aku. Jangan lakukan lagi cukup kemarin saja. Jangan lakukan lagi padaku! aku mohon, Tuan. Jangan lakukan ini lagi!" pintanya Sonia dengan lirih dengan gerakan tubuh dan meliuk-liuk, serta tangannya yang dikunci oleh tangan Leo.
Leo semakin tersenyum puas mendengar rintihan dan permohonan dari Sonia, dan kini tangan Leo semakin bergerilya kemana-mana! termasuk mendekati lembah yang mulai bermadu. Mendatangi dan menjamah gua kecil sejuta nikmat tersebut.
Tubuh Sonia semakin meliuk-liuk merasa antara geli dan entah apa itu namanya. Ingin sekali menyingkirkan tangan pria tersebut yang menjamah bukit nan rimbun.
Sonia semakin merasa tidak tahan antara merasa geli dan ingin sesuatu yang entah apa itu, dia pun tidak mengerti, terus menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri. Untuk menghindari sentuhan dari Leo yang terus saja menyerangnya nya dengan kecupan yang bertubi-tubi.
Sesuatu telah menghujam miliknya Sonia dan terus di dorong, Leo menenggelamkan sesuatu di dalamnya. Serta memainkannya dengan santai.
Sonia menjerit tak karuan, bikin Leo semakin bersemangat untuk menggerakan miliknya nya di dalam sana.
"Auw. Sakit ..." rintih Sonia dengan tangan yang kini merangkul punggung Leo! mulutnya terbuka seraya membuang nafas yang terasa sesak.
Sebab, seiring dengan jeritan dari Sonia, tangannya Sonia. Leo lepaskan. Dan kini kedua tangannya Leo Lie menumpu menahan beban tubuhnya yang berada di atas dan menindih tubuh Sonia.
"Och baby, nikmat sekali. Aku merindukan mu sejak waktu itu." Racau Leo sambil terus menggerakan tubuhnya.
"Lepaskan aku, Tuan. Ku mohon jangan lakukan lagi padaku, sudah. Sudah! cukup?" suara Sonia terengah-engah serta tangan mencengkram punggung Leo bahkan mencakar nya.
"Santai baby. Rileks ... nikmati malam ini bersama-sama. Aku tidak akan pernah membiarkanmu di jamah orang lain, selain diriku saja. Hanya aku yang bisa menikmati tubuh mu baby, och ... baby! och ..." ucap Leo dengan di akhiri lenguhan yang panjang.
__ADS_1
Air bening mengalir dari kedua sudut mata Sonia yang terasa panas mengalir ke pipi belakang. Hatinya menjerit, dia sadar kalau ini salah dan dia tahu kalau ini tidak seharusnya dilakukan.
"Hentikan! sudah-sudah aku nggak sanggup lagi? lepaskan aku, Tuan. Ach Tuan ... lepaskan diriku!" kini suara Sonia semakin lirih dan bergetar dan tubuhnya berapa kali menegang.
Seiring semakin cepatnya gerakan dari tubuh Leo yang memecut kudanya semakin kencang.
"Ayo baby. Keluarkan suara mu yang indah itu, jangan malu dan aku suka itu, baby ... och baby ... kita lepaskan sama-sama!" gumamnya Leo Lie sembari me-d*-**h.
Gerakan Leo semakin cepat, menggoyang tubuh lawan mainnya yang tampak sudah kecapean, lemah. Ditambah lagi sudah berapa kali merasakan puncaknya.
Begitupun dengan Leo yang sudah sering melepaskan calon benihnya ke rahim Sonia.
Setelah berapa kali merasakan puncaknya! membuat jiwanya melayang terbang jauh ke angkasa! akhirnya tubuh Leo tumbang juga di atas dada Sonia.
"Makasih baby? makasih sudah memuaskan ku malam ini, och ... baby aku mencintai mu!" ucap Leo selepas menghujani wajah Sonia dengan kecupan yang penuh gairah, lalu menjatuhkan dirinya di samping Sonia.
Sonia hanya diam dan tak berkata-kata selain berderai air mata. Dan melihat ke arah tembok serta memeluk selimut yang menutupi tubuhnya yang polos dan bermandi keringat.
Leo menatap langit-langit dengan nafas yang masih belum terkontrol dan terengah-engah. Sonia membalikan tubuhnya memunggungi pria itu yang tersenyum bahagia.
Namun tiba-tiba Leo melonjak duduk, dia baru ingat kalau dia melakukan itu tanpa pengaman lagi Dan lagi. Kalau melakukan dengan wanita-wanita lain, dia tidak pernah lupa untuk memakai pengaman, tapi setiap melakukan dengan Sonia. Dia selalu lupa dan baru ingat ketika sudah melakukannya.
Tangan Leo mengambil sebuah obat dari laci dan sebotol air mineral yang ada di sana. "Nona, bangun lah dulu? minum dulu obat ini!"
Sonia tidak menjawab dan tidak pun bangun dia hanya menatap kosong kedepannya! dengan deraian air mata yang hangat membasahi pipi membanjiri wajahnya ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa like, comment rating dan subscribe juga terima kasih ya sebelumnya.
__ADS_1