
Mobil Gilang pun memasuki halaman rumahnya barengan dengan mobil yang membawa si kembar.
"Kalian baru pulang?" tanya Alina setelah turun dari mobil dan menatap si kembar yang sudah turun juga dari mobil nya.
"Hai mah, hai pah." ucap si kembar sambil tersenyum lalu mencium telapak tangan kedua orang tua nya.
"Mamah butuh penjelasan dari kalian berdua, sekarang masuk, mamah tunggu di ruang keluarga." ucap Alina sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
"Bang, seperti nya mamah marah deh sama kita karena pulang terlambat." bisik Azzura.
"Tenang saja, mamah ngga bakalan marah kok yang penting kita jujur." jawab Azzam.
"Hai kenapa kalian malah bisik-bisik, ayo masuk nanti mamah kalian marah lo kalau nunggu lama." teriak Gilang.
"Iya pah, kita masuk kok." jawab Azzura sambil menarik tangan Azzam dan mereka pun masuk ke dalam rumah dan langsung menemui Alina di ruang keluarga.
"Mereka mana pah? Masuk ke rumah saja lama banget." ucap Alina yang sudah duduk di ruang keluarga.
"Sebentar lagi juga kesini, kamu jangan marahin mereka Yang, mungkin mereka ada yang mau di beli dulu." ucap Gilang sambil duduk di samping istri nya.
"Pah, mah, maaf kita pulang nya terlambat." ucap Azzam sambil duduk di depan kedua orang tua nya diikuti oleh Azzura.
"Sekarang jelaskan sama mamah, kenapa kalian bisa pulang terlambat." tanya Alina.
"Tadi itu kan." jawab Azzura yang tidak meneruskan kalimat nya karena di potong oleh Azzam.
"Biar abang yang jelasin dek." sela Azzam, karena Azzam tahu kalau Azzura yang jelasin pasti hasil nya kacau, dan bisa-bias malah mereka yang akan di salahkan oleh mamah nya.
Gilang hanya diam sambil menatap anak kembar nya itu, dia tahu kalau anak nya tidak mungkin melakukan kesalahan di luar batas.
"Ayo abang jelaskan sama mamah, dan abang ingat kan kalau mamah ngga suka di bohongi, abang tahu kan konsekuensi nya kalau abang berbohong?" tanya Alina sambil menatap ke arah Azzam dan Azzura.
"Iya mah abang tahu kok, jadi begini mah," Azzam pun menceritakan dari awal sampai akhir dan tidak ada kebohongan dalam cerita Azzam dia sangat detail menceritakan semua kejadian hari ini.
Gilang dan Alina dengan sangat serius mendengarkan cerita dari Azzam, Gilang dan Alina yakin dengan apa yang di ceritakan Azzam adalah kejujuran.
"Nah jadi seperti itu mah cerita nya, dan maaf Azzam sudah lancang meminjam uang pada pak Soni." ucap Azam di akhir cerita nya.
"Apa yang sudah kamu lakukan itu sudah benar nak? Tapi kenapa kamu tega membuat tante itu menderita dengan berjalan kaki diatas aspal tanpa alas kaki? Kamu ngga berpikir kalau yang ada di posisi itu mamah?' tanya Alina.
"Azzam tahu mah, tapi kalau mamah seperti tante itu, Azzam ngga percaya dan ngga yakin, karena mamah orang baik, jadi ngga mungkin mamah akan melakukan hal seperti itu, mamah ngga mungkin akan menghina seorang ibu karena mamah juga seorang ibu." jawab Azzam dengan sangat jelas di dengar oleh Gilang dan ALina.
__ADS_1
Betapa kaget nya Gilang dan Alina mendengar jawaban dari Azzam, sungguh di luar dugaan mereka berdua.
Gilang dan Alina pun saling menatap tak percaya dengan anak-anak nya ini.
"Kenapa kamu bisa menjawab seperti itu nak? Kamu itu masih kecil tapi gaya bicara kamu seperti orang dewasa." tanya ALina.
"Abang menjawab dengan jujur dari hati nurani Azzam mah." jawab Azzam.
Gilang dan Alina sudah ngga bisa berbicara lagi, mereka sungguh di buat syock dengan anak kembar nya ini terutama Azzam.
"Ya sudah kalau gitu sekarang kalian mandi yang bersih, apa kalian mau di temani mamah?" tanya Alina.
"Tidak mah, kita sudah besar jadi kita mandi sendiri saja, kan sebentar lagi kita akan menjadi kakak." jawab Azzura.
"Ya sudah kalau gitu kita mandi dulu ya mah, pah." ucap Azzam lalu pergi ke kamar mereka masing-masing.
"Pah apa benar mereka itu masih kecil?" tanya Alina yang masih syock dengan jawaban dari Azzam.
"Iya sayang, kita bersyukur banget punya anak yang sangat genius seperti itu." jawab Gilang.
"Ya sudah kalau gitu kita harus mengganti uang nya pak Soni sekarang juga, kasihan itu uang pegangan dia." ucap Alina.
"Iya tuan." jawab pelayan yang memang sedang melewati ruang tamu.
"KIta tanya sama pak Soni, kira-kira sama ngga jawaban nya." ucap\[ Gilang.
"Tapi menurut mamah Azzam jujur, karena mamah melihat kejujuran di mata nya." jawab Alina.
"Nah gitu dong bilang nya mamah jangan aku melulu." ucap Gilang sambil tersneyum.
"Ah kamu mas, panggilan saja sampai di perhatikan, kamu sudah melebihi para readers saja." ucap Alina.
Gilang pun hanya tersenyum mendengar jawaban dari Alina.
"Apa tuan memanggil saya?" tanya pak Soni dengan sopan.
"Ya, bapak duduk dulu." jawab Gilang, pak Soni pun duduk di depan Gilang dan Alina.
"Azzam bilang tadi mereka mengantar seorang perempuan dan memberi nya uang satu juta, apa itu benar?" tanya Gilang.
__ADS_1
"Iya tuan, apa yang diucapkan den Azzam benar." jawab pak Soni.
"Apa bapak tahu nama wanita yang diantar tadi?" tanya Gilang.
"Maaf pak, saya tidak tahu tapi tadi saya sempat mengambil gambar nya pakai ponsel saya." jawab pak Soni.
"Mana coba saya lihat, saya penasaran sampai-sampai dia ngaku-ngaku teman saya." ucap Glang.
Pak Soni pun mengambil ponsel nya dari dalam kanong celana nya, setelah membuka layar dan membuka isi galeri nya, pak Soni pun memberikan ponsel nya kepada Gilang.
"Ini orang nya pak." ucap pak Soni sambil memberikan ponsel nya.
Gilang dan Alina pun sangat kaget begitu melihat wajah yang ada di ponsel nya pak Soni.
"Rena." gumam Gilang dan Alina bersamaan lalu saling menatap.
"Apa benar kondisi nya sangat memprihatinkan?"tanya Alina.
"Iya nyonya, makanya den Azzam memberi nya uang, karena menurut den Azzam dia melakukan seperti itu karena keadaan yang memaksa nya." jawab pak Soni.
"Baik kalau gitu besok bapak antar saya ke rumah nya ya? Saya ingin bertemu dengan nya." ucap Alina.
"Kamu mau apa Yang menemuinya? nanti kamu di jahatin sama dia." tanya Gilang.
"Kamu tenang saja mas, aku cuma ingin bersilaturahmi saja." jawab Alina.
"Ya sudah tapi kalau kamu kesana kamu ngga boleh sendiri terus kamu harus hati-hati." ucap Gilang.
"Kan aku sama pak Soni mas, iya aku akan hati-hati." jawab Alina.
"Pak, kalau istri saya diantar kesana saya titip istri saya, jaga dia jangan smapai lecet ya." ucap Gilang.
"Siap tuan." jawab pak Soni.
"Oh iya pak, ini uang bapak yang di pinjam Azzam tadi." ucap Gilang sambil memberikan lima belas lembar uang yang berwarna merah.
"Ini kebanyakan tuan." ucap pak Soni ketika dirinya sudah menghiitung uang yang diberikan Gilang.
"Ngga apa-apa anggap saja itu uang tanda terimakasih saya karena bapak sudah menjaga mereka dengan baik." jawab Gilang.
__ADS_1
"Terimakasih banyak pak, kalau begitu saya permisi." ucap pak Soni dengan wajah yang berbinar.