
"Ya ampun kak, kalian ini ngga ada bosan nya apa dari semalam terus saja membuat mata ku ternodai." teriak Dhea yang tanpa sengaja melihat Gilang dan Alina sedang bercumbu.
"Kamu ya dek, selalu saja jadi pengganggu." ucap Gilang sambil melepaskan cumbuan nya.
"Lagian kenapa pintu nya ngga di tutup, adek kan ngga tahu kalau kakak sama kakak ipar lagi bermesraan." jawab Dhea sambil nyelonong masuk.
"Udah tahu kakak lagi bermesraan, terus kenapa kamu malah masuk." ucap Gilang.
"Aku tuh kesini mau ketemu si kembar, kalau kalian ingin melanjutkan yang tadi, lanjutkan saja." ucap Dhea sambil menggendong baby Azzura.
"Itu mah mau kakak kamu dek, mamah sama papah mana dek?" tanya Alina.
"Di depan kak, ayo kita ke depan sayang omah dan opah ingin bertemu dan sekalian pamit mau pulang." ucap Dhea sambil mencium pipi mungil baby Azzura.
"Ya sudah ayo, sini Yang biar aku yang gendong baby Azzam." ucap Gilang sambil mengambil baby Azzam ke dalam gendongan nya.
"Pak, bu, maaf beberapa hari ini kami sudah merepotkan keluarga bapak di sini." ucap bu Dewi.
"Ngga kok bu, kami ngga merasa di repotkan, kan semua nya juga bapak dan ibu yang tanggung, justru yang harus nya berterima kasih itu kami kepada keluarga bapak dan ibu yang sudah jauh-jauh main kesini dan mau menerima Alina anak kami apa adanya dengan tangan terbuka." jawab pak Abidin.
"Pah, mah, ngga bisa ya kalau aku tinggal di sini satu bulan lagi." ucap Gilang sambil menggendong baby Azzam.
"Ya sudah kalau kamu mau tinggal di sini selama nya pun ngga apa-apa kok." ucap pak Surya.
"Beneran pah? Makasih pah, papah memang orang tua yang sangat pengertian." jawab Gilang sambil tersenyum bahagia.
Sementara semua yang ada di rumah itu menatap pak Surya dalam diam dengan tatapan heran.
Benar lah, kamu silahkan tinggal di sini untuk selamanya, karena papah akan membawa si kembar dan menantu papah pulang." jawab pak Surya santai.
Mereka yang mendengar jawaban dari pak Surya pun tertawa terbahak-bahak.
"Kalau gitu mah sama aja." ucap Gilang sambil cemberut.
"Syukurin lo kak, lagian macam-macam saja keinginan nya." ucap Dhea sambil tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Si kembar pun menangis dalam pangkuan Gilang dan Dhea.
"Oh sayang, maaf omah sampai lupa ngga menyapa kalian." ucap bu Dewi sambil mengambil baby Azzura dari gendongan Dhea.
Baby Azzura pun seketika diam dan tdiur sambil tersenyum dalam gendongan bu Dewi.
Sedangkan baby Azzam yang masih dalam gendongan Gilang pun masih menangis.
"Pah, gendong baby Azzam tuh, dia ingin di gendong papah." ucap bu Dewi sambil melihat kearah suami nya.
"Papah sengaja, ingin menguji cucu kita mah, ternyata apa yang di pikirkan papah benar, kalau mereka ini sudah genius sejak lahir." ucap pak Surya sambil tersenyum.
Pak Surya pun menatap baby Azzam lalu menggendong nya, "Opah tahu kalian anak genius sayang, sudah besar nanti kalian akan mewarisi sebagian harta opah." ucap pa Surya sambil menggendong baby Azzam.
Dan benar saja baby Azzam pun berhenti menangis dan bibir nya tersenyum dengan mata yang terpejam.
"Kalau si kembar mewarisi harta papah, terus anak adek ngga dikasih apa-apa dong." ucap Dhea bercanda, karena dia tahu kalau papah nya sudah menyiapkan semua nya buat keturunan mereka.
"Biarin, emang benar kok." jawab Dhea.
"Tenang sayang, pokok nya anak dan cucu papah semua akan ada jatah nya masing-masing." jawab pak Surya.
"Iya pah." jawab Dhea, "Oh iya kak, kak Ronald sebenar nya kemana sih.?' tanya Dhea yang baru ingat akan Ronald.
"Ya ampun kakak sampai lupa, Ronald ada di rumah nya Risma." jawab Gilang.
"Kok jad ada di rumah nya Risma?" tanya Dhea heran.
"Kak Ronald lagi demam karena kehujanan semalam, dan semalam nginap di rumah Risma, kakak minta tolong ya dek, lihat kak Ronald dulu sebentar di rumah nya Risma." ucap Alina.
"Tapi kita berdua kan ngga tahu rumah nya kak." ucap Dhea.
"Biar bapak yang antar nak, sekalian ada perlu sama ustadz Soleh." ucap pak Abidin.
__ADS_1
"Oh iya boleh kalau gitu pak." jawab Dhea.
"Ya sudah kalau gitu ayo kita berangkat mumpung masih pagi, kalau siang nanti macet parah di jalan nya." ucap pak Surya.
"Kami pulang dulu ya nak, nanti kita bertemu lagi tiga bulan yang akan datang, omah pulang dulu ya sayang." ucap bu Dewi sambil mencium pipi mungil baby Azzura lalu memberikan nya kepada Alina.
"Iya omah, omah dan opah sehat-sehat ya." ucap Alina dengan suara anak kecil.
Bu Dewi pun mengambil baby Azzam dari pangkuan suami nya.
"Omah sama opah pulang dulu ya sayang, baby Azzam jangan rewel, kasihan mamah ya sayang." ucap bu Dewi sambil mencium pipi mungil baby Azzam.
"Biar saya yang gendong bu." ucap bu Diah sambil mengambil baby Azzam dari gendongan bu Dewi.
Si kembar pun menangis, seaka-akan tidak mau ditinggalkan oleh omah dan opah nya.
"Sayang, kalian jangan nangis dong? Kalau kalian sayang sama mamah kalian, kalian harus anteng ngga boleh rewel, nanti kita bertemu lagi, kalau baby Azzam dan baby Azzura sudah besar, opah akan membelikan apa yang kalian mau." ucap pak Surya sambil mencium kedua nya.
"Pah, jangan memanjakan mereka, mamah ngga suka." ucap bu Dewi.
"Tuh kan belum apa-apa omah kalian sudah melarang nya, makanya kalian cepat besar dan pintar ya sayang, kita serang omah nanti." jawab pak Surya sambil tersenyum.
Baby Azzam dan Azzura pun seketika tertawa yang membuat mata mereka melotot menatap bayi kembar genius itu.
"Lihat, mereka berdua tertawa, mereka mengerti dengan apa yang papah bicarakan." teriak pak Surya dengan wajah bahagia nya.
"Iya pah, padahal aku yang selalu ada di samping nya dan ngajak bercanda mereka, tapi belum pernah mendengar mereka tertawa seperti barusan, paling cuma tersenyum sedikit." ucap Alina yang heran dengan kelakuan bayi nya.
"Ya sudah ayo." ajak pak Surya, mereka pun saling berjabat tangan dan saling memeluk satu sama lain nya.
"Oh iya hampir lupa, ini bu kunci rumah nya, semalam karena sudah pada istirahat akhir nya dhea yang kunciin pintu." ucap Dhea sambil memberikan kunci rumah kepada bu Diah.
"Oh iya nak, makasih ya, maaf semalam ibu pusing jadi istirahat duluan." ucap bu Diah.
__ADS_1
"Yang, aku pulang dulu ya?" ucap Gilang sambil mencium seluruh wajah Alina lalu mencium si kembar.