Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Posesif


__ADS_3

Seminggu sudah Gilang tinggal di rumah nya pak Abidin dan kini saat nya Gilang mengutarakan niat untuk membawa istri dan anak-anak nya.



"Pak, bu, saya mau membawa Alina dan si kembar ke rumah keluarga saya, apa bapak dan ibu mengizinkan nya?" tanya Gilang.



"Nak, Alina memang anak kami, tapi sekarang dia sudah menjadi istri kamu dan tanggung jawab kamu, jadi bapak dan ibu pasti mengizinkan nya, hanya kami meminta sama kamu nak, tolong jaga anak dan cucu-cucu kami, kalau kamu sudah tidak menyukai mereka, tolong kembalikan mereka pada kami dengan cara baik-baik." jawab pak Abidin.



"Insya Allah, saya ngga akan berjanji, tapi saya akan berusaha untuk menjaga dan menyayangi mereka sebisa dan semampu saya." jawab Gilang.



"Kakek dan nenek akan selalu kangen dong nanti sama kalian." ucap bu Diah sambil menatap si kembar.



"Makanya ibu dan bapak pindah lagi ke rumah lama, jadi kita bisa sering -sering bertemu." ucap Gilang.



"Oh iya nak, semalam kami sudah berunding, dan kami seperti nya akan kembali ke rumah lama kami, tapi setelah Nura dan Nuri menyelesaikan sekolah nya." jawab pak Abidin sambil tersenyum.



"Alhamdulilah, saya sangat senang mendengar nya, dan bapak ngga usah bekerja lagi nanti nya, biar saya yang akan mencukupi kehidupan bapak." ucap Gilang.



"Ngga nak, bapak ngga enak sama keluarga kamu, selama ini bapak sekeluarga sering merepotkan kalian, jadi biar lah bapak akan mencari kerja lagi di sana." jawab Pak Abidin.



"Ngga usah merasa ngga enak seperti itu pak, kami ikhlas kok untuk selalu ada buat kalian semua nya." jawab Gilang.



"Berarti kalau kita jadi kerja sama kak Dhea, kita ngga perlu kontrak rumah Nur." ucap Nura sambil tersenyum bahagia.



"Memang nya kalian mau kerja bareng Dhea?" tanya Gilang.



"Iya kak, kak Dhea yang mengajak kita berdua." jawab Nura.



"Bagus kalau begitu, tapi sekarang kalian harus belajar dengan sungguh-sungguh biar bisa mendapat nilai baik dan kak Dhea bisa menerima kalian untuk bekerja." ucap Gilang sambil tersenyum.



"Assalamualaikum." ucap seorang pria dari luar.



"Waalaikum salam." jawab keluarga pak Abidin secara bersamaan.



"Biar Nuri yang buka in pintu nya." ucap Nuri sambil melangkah ke arah pintu.



"Eh kak Ronald, ayo masuk kak." ajak Nuri mempersilahkan Ronald untuk masuk.


__ADS_1


"Bapak sama ibu ada Nur?" tanya Ronald.



"Ada kak di dalam lagi kumpul." jawab Nuri sambil kembali menutup pintu nya.



Ronald pun masuk dan mengikuti langkah Nuri. "Pak ada kak Ronald." ucap Nuri.



"Eh nak Ronald ayo sini duduk, kemana aja ngga pernah kelihatan semenjak resepsi Alina?" tanya pak Abidin.



"Maaf pak saya lagi sibuk dengan cabang mini market saya yang di daerah xxxx." jawab Ronald.



"Wah semakin luas saja usaha nya ya? Semoga kamu sukses terus ya nak." ucap Pak Abidin.



"Ini lagi pada kumpul, seperti nya lagi ada pembahasan yang serius, hai sayang sini ayah gendong." ucap Ronald sambil mengambil baby Azzam dari gendongan Nura.



"Kangen juga seminggu ngga bertemu si kembar." ucap Ronald sambil mencium pipi chuby nya baby Azzam.



"Kami lagi bahas kepindahan kami nak." jawab bu Diah.



"Kalian semua akan pindah lagi? pindah kemana?" tanya Ronald kaget.




"Bukan nya kalian sudah menjual nya?" tanya Ronald yang belum mengerti.



"Iya kami memang sudah menjual nya, tapi ternyata yang membeli rumah kami itu adalah nak Gilang sendiri." jawab pak Abidin.



Ronald pun menatap ke arah Gilang dan Alina, seakan-akan menunggu penjelasan dari mereka berdua.



"Iya, waktu itu gue yang membeli rumah bapak, dengan harapan mereka akan kembali ke rumah itu." ucap Gilang.



"Ya kalau memang itu sudah keputusan bapak dan ibu saya ngga bisa menahan nya, tapi saya minta kesediaan bapak dan ibu untuk melamar kan Nazwa untuk saya, bapak kan tahu sendiri kalau saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini." ucap Ronald dengan tatapn berharap nya.



"Kakak mau melamar Nazwa? Kapan kak?" tanya Alina.



"Iya, kakak mau melamar Nzwa dan minta bantuan sama bapak dan ibu, apa kalian bisa? atau mungkin kalian sudah pindah dari sini?" tanya Ronald dengan raut wajah sedih.



"Memang nya nak Ronald kapan akan melamar dan menikahi Nazwa?" tanya pak Abidin.

__ADS_1



"Rencana saya akan melamar nya bulan depan pak, terus sebulan kemudian kami menikah, apa bapak bisa menolong saya untuk menemani saya nanti nya?" kembali Ronald bertanya kepada pak Abidin.



"Baik, bapak bisa kok nak, karena kita pindah nya juga nanti kalau Nura dan Nuri selesai kuliah." jawab pak Abidin sambil tersenyum.



"Beneran pak, bu? Makasih pak, bu, hanya kalian lah saat ini yang mau membantu ku." ucap Ronald sambil memberikan baby Azzam kepada Gilang, lalu memeluk dan mencium telapak tangan pak Abidin dan bu Diah.



Tanpa tersa air mata nya jatuh, dia mengingat kedua orang tua nya yang sudah lama meninggalkan dirinya.



"Kenapa kamu menangis nak?" tanya bu Diah sambil menghapus air mata Ronald.



"Saya teringat mendiang orang tua saya bu, kalian sudah seperti orang tua saya." ucap Ronald sambil kembali memeluk erat bu Diah.



Sudah lama sekali Ronald tidak mendapat pelukan seorang ibu, dan sekarang dia kembali merasakan pelukan dari seorang ibu, walaupun bu Diah bukan lah ibu kandung nya.



"Anggaplah kami ini seperti kedua orang tua kamu nak, kami juga sudah menganggap kamu sebagai anak kami, selama ini kami tidak punya anak laki-laki, jadi kamu jangan sungkan sama kami." ucap bu Diah sambil mengelus lembut punggung Ronald.



Nura, Nuri dan Alina merasa terharu dengan ucapan Ronald dan ibu nya, mereka bertiga pun kini ikut meneteskan air mata nya.



"Makash bu, makasih sudah menganggap saya bagian dari keluarga ibu." ucap Ronald sambil melepaskan pelukan nya.



"Sama-sama nak." jawab bu Diah sambil tersenyum.



"Sini nak, gendong sama nenek." ucap bu diah sambil mengambil baby Azzura dari gendongan Alina.



"Kalian sekarang jadi adik-adik nya kakak ya." ucap Ronald sambil berdiri lalu membuka kedua tangan nya lebar-lebar.



Nura, Nuri dan Alina pun serempak memeluk Ronald.



Gilang kesal karena istri nya ikut masuk ke dalam pelukan Ronald, dia pun memberikan baby Azzam kepada pak Abidin mertua nya.



"Tolong peganging baby Azzam dulu pak." ucap Gilang sambil memberikan baby Azzam kepada pak Abidin.



"Ngapain kamu Yang, ikut masuk ke dalam pelukan nya? Yang harus nya kamu peluk itu aku bukan dia." ucap Gilang sambil menarik tangan Alina agar keluar dari pelukan Ronald.



"Dasar posesif." ucap Ronald.

__ADS_1



Mereka yang melihat kelakuan Gilang pun tertawa sambil menggelengkan kepala nya.


__ADS_2