
Hujan pun semakin besar tapi Ronald tidek bergeser sedikit pun.
"Ya ampun kak, kamu itu kenapa sih, tadi menghina aku, sekarang kamu malah berdiam diri di depan kamar ku, ya tuhan apa yang harus aku lakukan." gumam Nazwa.
Nazwa pun mengambil ponsel lalu menghubungi Risma, "Mudah-mudahan kamu belum tidur Ris." gumam Nazwa sambil melakukan panggilan kepada Risma.
Risma yang baru saja membaringkan tubuh nya diatas tempat tidur kembali terbangun karena mendengar ponsel nya berdering.
"Siapa yang telepon malam-malam begini? Apa Nazwa ya?" gumam Risma sambil bangun dari tidur nya.
Risma pun langsung mengambil ponsel yang dia simpan diatas meja rias nya
"Nazwa?" gumam Risma sambil menerima panggilan dari Nazwa.
"Wa, kamu baik-baik saja kan?" tanya Risma dengan nada khawatir nya.
"Aku baik Ris, kamu belum tidur kan?' Nazwa pun balik bertanya kepada Risma.
"Ini baru saja aku mau tidur, kamu kemana aja tadi aku telepon ngga diangkat, aku chat pun ngga di balas." ucap Risma.
"Nanti aku jelaskan semuanya, tapi sekarang aku mintya tolong sama kamu, kamu bisa kan?" Nazwa pun berharap kalau Risma akan membantu nya.
"Tolong apa Wa? Kamu dimana sekarang? Kamu ngga apa-apa kan?" Risma sangat khawatir hingga dia terus bertanya.
"Tenang Ris, aku ngga apa-apa, aku ada di dalam kamar kok, tapi kak Ronald Ris." jawab Nazwa dan menggantung kalimat nya.
"Kak Ronald kenapa Wa?" tanya Risma.
"Kak Ronald ada di depan kamar ku dan tubuh nya sudah kelihatan menggigil karena dia ngga mau beranjak dari depan kamar ku, jadi aku minta tolong sama kamu, tolong bawa kak Ronald pergi dari sini." jawab Nazwa sambil kembali menghapus air mata nya.
"Apa! Ini hujan nya deras lo Wa? Dan kak Ronald membiarkan tubuh nya di guyur hujan." teriak Risma.
"Iya Ris, jadi tolong aku bawa kak Ronald pergi dari sini ya Ris, kamu kan ada kak Rehan dan mobil ayah mu, aku ngga mau kak Ronald sakit, please." ucap Nazwa memohon.
"Ya sudah aku sekarang kesana, mudah-mudahan kak Rehan belum tidur." ucap Risma sambil mematikan panggilan telepon nya.
Nazwa pun menghela nafas lega, karena Risma mau menolong nya membawa Ronald yang sedang kedinginan.
__ADS_1
Risma memang sedang marah sama Ronald, tapi mendengar kalau Ronald lagi berada dibawah guyuran hujan deras apalagi ini malam hari merasa tidak tega dan langsung memutuskan untuk menolong nya.
"Kak Rehan sudah tidur belum." ucap Risma sambil mengetuk pintu kamar yang Rehan tempati.
"Iya Ris, bentar." jawab Rehan sambil membuka pintu nya.
"Ada apa Ris? Kamu belum tidur?" tanya Rehan setelah membuka pintu kamar nya.
"Kak tolong antar aku sekarang ke rumah Nazwa ya." jawab Risma sengan tatapan memohon.
"Besok saja Ris, ini sudah malam mana hujan deras lagi, ngga bakalan terjadi apa-apa kok, percaya sama kakak." ucap Rehan karena mengira kalau Risma ngga bisa tidur karena kepikiran Nazwa.
"Kita harus menolong kak Ronald kak, dia sudah menggigil kedinginan, sekarang dia ada di rumah nya Nazwa." ucap Risma.
"Sudah biarin saja, itu juga kesalahan dia sendiri kok." ucap Rehan.
"Kak, kita memang lagi marah sama kak Ronald, tapi kalau kak Ronald sampai ada apa-apa, kita juga ikut bersalah kak, karena membiarkan nya kedinginan di bawah guyuran air hujan." jawab Risma.
Rehan pun berpikir sebentar lalu mengambil jaket nya.
Risma pun langsung mengambil kunci mobil ayah nya yang selalu di simpan di tempat biasa.
"Ini kak, ayo kita berangkat." ajak Risma sambil memakai jaket nya.
"Di mobil ada payung ngga?" tanya Rehan.
"Ada kak." jawab Risma.
Rehan pun melajukan mobil nya pelan ke arah rumah Nazwa, memang rumah Nazwa ngga begitu jauh tapi kalau kondisi hujan deras seperti ini tidak memungkin kan untuk berjalan kaki.
Nazwa masih melihat Ronald dari celah jendela, dia berharap Risma secepat nya membawa Ronald dari rumah nya.
Nazwa merasa kasihan melihat Ronald yang sudah menggigil menahan rasa dingin nya malam dan dari guyuran air hujan
"Kenapa kamu melakukan ini semua kak? Kenapa kamu menyakiti diri kamu sendiri, aku sudah memaafkan semua nya, tapi untuk melupakan aku ngga bisa." gumam Nazwa sambil terus menatap Ronald yang sedang menggigil.
"Kak itu dia kak Ronald." teriak Risma sambil menunjuk kearah Ronald yang sedang berdiri sambil menggigil.
__ADS_1
Rehan pun mendekatkan mobil nya kearah Ronald yang sedang berdiri di bawah guyuran hujan.
"Biar kakak yang keluar, kamu diam saja di sini." ucap Rehan sambil meraih payung lalu keluar dari mobil.
"Kenapa lo berdiri di sini, ayo ikut." teriak Rehan sambil menarik tangan Ronald.
Ronald yang memang sudah kedinginan dan pusing pun hanya mengikuti arahan Rehan.
Ronald membukakan pintu belakang lalu sedikit mendorong tubuh Ronald agar duduk di kursi belakang.
Nazwa yang melihat sebuah mobil yang ia kenali pun sedikit tersenyum, lalu meraih ponsel dan menghubungi Risma.
"Iya Wa, kita ini sudah membawa kak Ronald kok." ucap Risma.
"Makasih ya Ris, maaf aku sudah mengganggu waktu istirahat kalian." ucap Nazwa.
"Santai aja, kita juga belum tidur kok, tapi seperti nya aku akan membawa kak Ronald ke rumahku aja deh, soalnya kalau di bawa ke rumah kak Ronald ini sudah terlalu malam, takut mengganggu istirahat nya keluarga kak Dhea." jawab Risma.
"Terserah kamu Ris, aku titip kak Ronald ya? Kalau ada apa-apa kamu langsung kabari aku." ucap Nazwa.
"Kamu tenang saja Wa, biar kak Rehan yang urus." jawab Risma sambil melirik ke arah Rehan.
"Ya sudah kalau gitu aku matikan ya, besok pagi aku ke rumah kamu." ucap Nazwa.
"Oke Wa." jawab Risma lalu memutuskan panggilan nya.
"Maksud kamu kakak harus ngurusin dia?" tanya Rehan sambil menghentikan mobil nya karena sudah sampai di rumah Risma.
"Ya terus masa aku sih kak yang gantiin baju nya, kakak kira aku ini istri nya yang bebas mengganti baju dia dan melihat tubuh nya." jawab Risma.
"Ya sudah iya kakak saja lah, bayaran nya di tambah ya? Ini pekerjaan di luar kontrak kita." ucap Rehan sambil keluar dari mobil.
"Iya nanti pas kakak nikah aku kasih hadiah tiket bulan madu." jawab Risma sambil tersenyum.
"Paling juga minta sama ayah kamu." ucap Rehan sambil meraih tubuh Ronald yang sedang menggigil hebat.
"Wa maafkan aku." Ronald terus bergumam dan memanggil nama Nazwa.
__ADS_1