Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Percaya


__ADS_3

Gilang terus menghubungi no istrinya, tapi ngga diangkat juga.



"Angkat dong Yang, kumohon." gumam Gilang sambil terus menghubungi no istri nya.



Sementara Alina hanya diam sambil menatap layar ponsel yang terus-terusan berdering dengan mata yang sudah berkaca-kaca.



"Aku percaya kalau mas ngga bakalan ngelakuin hal diluar batas, tapi kenapa hati ku sakit begitu mendengar ada seorang perempuan yang mengaku sedang mengandung." gumam Alina sambil menatap ponsel nya.



"Aku hubungi Dhea saja lah, Dhea kan lagi di sana, siapa tahu Dhea lagi di rumah nya Alina." gumam Gilang lalu mencari kontak Dhea dan menghubungi nya.



"Bang antar aku ke rumah nya kakak ipar ya sekarang." ucap Dhea.



"Ya udah ayo, tolong ambilin kunci mobil nya Yang." jawab Glen.



Dhea pun memberikan kunci mobil Glen, karena jarak hotel ke rumah Alina lumayan agak sedikit jauh.



Tidak lama mereka pun sampai di rumah nya Alina, sebelum turun ponsel Dhea berdering.



"Ya kak ada apa?" tanya Dhea setelah menerima panggilan dari Gilang.



"Kamu dimana dek?" bukan nya menjawab Gilang malah balik bertanya kepada Dhea.



"Adek di rumah nya kakak ipar, ini baru sampai, kenapa emang nya kak?" ucap Dhea sambil turun dari mobil.



"Tolong nanti kamu kasih kan ponsel nya ke kakak ipar, kakak mau bicara sama dia." ucap Gilang.



"Kan bisa kakak telepon langsung ke ponsel nya."jawab Dhea.



"Kakak ipar mu lagi marah sama kakak, tadi ada Rena datang ke rumah dan ngaku-ngaku kalau dia hamil, tanpa sengaja kakak ipar mendengar nya, karena kakak tadi lagi video call sama dia." ucap Gilang.



"Ngapain lagi tuh cewek ke rumah, sudah ngga ada yang bisa dia peras lagi?" tanya Dhea dengan nada kesal.



"Mungkin, tapi yang lebih parah nya dia ngaku hamil anak kakak, dasar perempuan gila." jawab Gilang.



"Ya sudah aku masuk ke kamar nya kakak ipar sekarang, jangan di matikan dulu." ucap Dhea.



"Iya, kakak tunggu." jawab Gilang.


__ADS_1


"Kenapa lagi dengan kakak kamu?" tanya Glen pelan.



"Nanti saja cerita nya, sekarang kita masuk dan temui kakak ipar." jawab Dhea sambil mengetuk pintu rumah Alina.



"Assalamualaikum?' ucap Dhea dan Glen.



"Waalaikum salam." jawab semua orang yang hadir di rumah nya pak Abidin.



Malam ini rumah pak Abidin memang ramai, mereka lagi mempersiapkan buat besok.



"Sudah lengkap semua nya kan buat besok?" tanya Dhea.



"Sudah kok nak, ayo sini masuk." jawab bu Diah sambil tersenyum.



"Kakak ipar nya dimana?" tanya Dhea sambil melihat ke sekeliling rumah.



"Kakak ada di kamar nya kok, langsung saja kak ke kamar nya." jawab Nura.



"Ya sudah kalau gitu abang tunggu di sini dulu ya? Aku mau menemui kakak ipar." ucap Dhea.



"Iya kesana saja, abang mau ngobrol sama pak Abidin." jawab Glen.




"Kakak kenapa?" tanya Dhea yang sudah berdiri di belakang Alina.



"Ya ampun dek, ngagetin kakak aja." jawab Alina sambil menghapus air mata nya yang mulai jatuh.



"Kamu ngga ketuk pintu dulu?' tanya Alina.



"Aku itu sudah lebih dari tiga kali ngetuk pintu dan manggil-manggil kakak, tapi ngga ada jawaban sama sekali, makanya langsung masuk aja." jawab Dhea.



"Maaf dek, tadi kakak." belum sempat Alina menyelesaikan kalimat nya, sudah di potong oleh Dhea.



"Melamun sambil menangis? Kenapa? Ada apa?" tanya Dhea yang di dengar oleh Gilang yang masih telepon nya masih terhubung.



"Iya, kakak bingung harus bagaimana dek, tadi kakak lagi melakukan panggilan dengan kakak kamu, tapi tiba-tiba ada seorang wanita yang mengaku kalau dia sedang hamil dan minta pertanggung jawaban kakak kamu, jujur kakak ngga percaya kalau mas Gilang melakukan itu, tapi tetap saja hati kakak sakit mendengar nya." jawab Alina.



"Kakak percaya kak Gilang kan?' tanya Dhea.

__ADS_1



"Iya kakak percaya tapi hati kakak tetap sakit mendengar nya." jawab Alina.



"Kalau kakak ipar percaya dengan kak Gilang, coba kakak dengar kan dulu penjelasan nya dari kak Gilang." ucap Dhea sambil memberikan ponsel nya kepada Alina.



Alina pun hanya menatap ponsel Dhea yang sedang melakukan panggilan dengan Gilang.



"Terima saja kak, dari tadi kak Gilang menghubungi kakak, tapi ngga ada jawaban dari kakak, dan sekarang kakak dengar kan penjelasan dari kak Gilang, biar semua nya tidak ada penyesalan di akhir nanti, karena kesalah pahaman akan membuat keluarga kita menderita terutama buat si kembar nanti nya." ucap Dhea.



Alina pun dengan perlahan mengambil ponsel Dhea dari tangan nya.



"Ya sudah kalau gitu aku ke depan dulu, tadi nya mau ngajak si kembar main, ternyata sudah pada tidur mereka." ucap Dhea sambil menatap ke arah si kembar lalu pergi meninggalkan Alina.



"Sayang kamu dengar mas ngga?" tanya Gilang.



"Iya mas kenapa?" jawab Alina dengan nada ketus.



"Mas kan sudah janji akan selalu jujur dan tadi mungkin yang kamu dengar hanya sebagian kalimat saja, jadi dengarkan mas." ucap Gilang dengan hati-hati kerana takut Alina memutuskan panggilan nya.



"Ya sudah mas mau bicara apa?" tanya Alina.



"Kamu masih ingat kan wanita yang membuat mas dan Ronald sampai memutuskan persahabatan? Ya dia lah wanita itu, Rena datang kesini mencari mas dan ngaku-ngaku kalau dia hamil anak mas, apa mungkin orang yang tidak bertemu setahun lebih bisa menghamili nya? kamu kan tahu sendiri kalau selama itu mas ngga pernah berhubungan sama wanita selain kamu, jadi mas hanya ingin memperjelas kalau semua yang di bilang Rena itu semua nya bohong." ucap Gilang.



Alina pun terdiam dan mencerna semua yang di bilang oleh Gilang suami nya.



"Yang, kenapa kamu diam? Kamu ngga percaya ya sama mas?"tanya Gilang.



"Percaya kok mas, cuman masih sedikit kesal saja sama wanita itu, kalau aku ada di situ sudah ku cingcang ku jadikan perkedel tuh perempuan." jawab Alina dengan nada kesal nya.



"Kamu lucu deh Yang, mas alihkan ke video call ya? Mas ingin lihat wajah kamu yang lagi marah." ucap Gilang sambil mengalihkan panggkilan nya ke video call.



"Nah kalau gini kan mas melihat jelas wajah kamu yang cantik nya tiada tara ini." gombal Gilang sambil tersenyum.



"Gombal, bilang aja mau dimaafin." jawab Alina dengan bibir nya yang sedikit manyun.



"Bibir mu itu kondisikan Yang, kalau mas ada di situ sudah mas cium tuh bibir." ucap Gilang.



"Kalau gitu ayo cium, aku menunggu." goda Alina.

__ADS_1



"Awas ya Yang, malam besok mas pastikan kamu ngga akan bisa jalan." ucap Gilang dengan senyum yang penuh arti.


__ADS_2