Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Ternyata Suamiku Seorang CEO


__ADS_3

Mereka pun sampai di rumah besar nya pak Surya bersamaan dengan mobil nya pak Surya yang baru masuk.



"Opah, omah lihat ada siapa?" teriak Azzura yang baru keluar dari mobil.



"Ah Grac sayang sini gendong sma omah." teriak bu Dewi sambil menggendong Gracia.



"Apa kabar mah?": tanya Dhea dan Glen sambil mencium telapak tangan bu Dewi dan pak Surya.



"Alhamdulilah baik, kapan kamu kesini nak?" tanya bu Dewi.



"Tadi mah sekalian mau cek laporan di toko." jawab Dhea.



"Kalian darimana?"tanya pak Surya.



"Kita habis jalan-jalan terus kita ke rumah sakit." jawab Azzam.



"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya bu Dewi.



"Azzam mau punya adik omah." ucap Azzam dengan wajah yang berbinar.



"Nak, kamu?" tanya bu Dewi sambil menatap Alina.



"Iya mah, Alina lagi mengandung lagi, usia nya baru tiga minggu." jawab Alina.



"Alhamdulilah, pah, kita akan punya cucu lagi." ucap bu Dewi.



"Oh ya mah, ada salam dari dokter Mery." ucap Dhea.



"Masih praktek di rumah sakit kemarin?' tanya bu Dewi.



"Iya mah, sebenar nya tadi itu jadwal nya praktek sudah selesai tapi begitu adek telepon langsung di suruh masuk dan akhir nya kakak ipar di periksa." jawab Dhea.



"Sudah ngobrol nya di dalam, jangan di luar." ajak pak Surya.



Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang sangat bahagia.


^


^


Malam hari ketika semua nya sudah terlelap dan bermimpi indah, tiba-tiba Gilang terbangun.


"Yang, bangun dong yang, aku lapar." ucap Gilang sambil menggoyangkan tubuh istri nya.



"Apa mas." jawab Alina dengan mata yang masih terpejam.


__ADS_1


"Temani aku makan dong Yang, aku ingin makan pecel lele." ucap Gilang.



"Sekarang mas suka pecel lele ya?" tanya Alina sambil membuka kedua mata nya.



"Udah jangan banyak tanya, ayo bangun temani aku beli pecel lele." ucap Gilang sambil turun dari tempat tidur.



"Kamu ini mas, orang pada tidur malah ingin makan pecel lele." gumam Alina yang dengan terpaksa bangun dan menuruti keinginan suami nya.



Mereka berdua pun kini sudah di dalam mobil dan mencari pecel lele keinginan Gilang.



"Mas, itu pecel lele nya kok di lewat?" tanya Alina sambil menunjuk ke arah tukang pecel lele.



"Mas mau nya pecel lele yang waktu pertama kali makan bersama kamu." jawab Gilang.



"Ya ampun mas, kan sama aja, sama- sama lele." ucap Alina sambil menggelengkan kepala nya.



"Beda Yang, mas ingin sekalian mengulang masa dimana mas makan bersama orang yang mas cintai." jawab Gilang.



"Gombal." ucap Alina sambil sedikit tersenyum, Gilang pun hanya tersenyum sambil fokus mengemudi.



"Ya, mengulang di mana masa itu mas lagi berbohong dengan status mas sama aku, mas pura-pura jadi OB padahal **TERNYATA SUAMIKU SEORANG CEO**." ucap Alina dengan sedikit mengerucutkan bibir nya.



"Ya maaf Yang, aku melakukan itu juga karena aku sudah trauma sama yang nama nya perempuan, karena kebanyakan perempuan yang mendekati mas hanya mau uang nya saja, dan akhir nya mas menyamar sebagai OB atas saran dari Glen, dan akhir nya bertemu dengan seorang bidadari yang sangat cantik luar dalam, dia mau menerima mas apa adanya, walaupun mas ini hanya seorang OB yang hanya punya motor jadul, tapi dia tetap mau menerima dan tidak malu dengan keadaan mas." ucap Gilang sambil tersenyum dan melirik ke arah Alina.




"Sudah lah Yang, jangan minta maaf terus dengan masalah itu, sekarang kita lagi menuju masa depan dimana sekarang hidup ku hanya untuk kamu dan anak-anak kita."jawab Gilang sambil menggenggam erat tangan Alina.



"Oh ya mas, motor jadul kamu masih ada ngga?" tanya ALina.



"Ada kok Yang di garasi, kenapa memang nya?" tanya Gilang.



"Besok kan rencana nya kita mau ke rumah ibu, si kembar ikut sama mobil nya Dhea, kita kesana nya naik motor jadul itu ya." jawab Alina.



"Tapi kamu lagi hamil Yang? Masa naik motor, udah gitu motor nya juga jelek lagi." ucap Gilang sambil menepikan mobil nya.



"Pokok nya aku mau naik motor jadul itu." ucap Alina sedikit merajuk.



"Iya-iya besok kita naik motor itu, sudah ngga usah cemberut, ayo kita turun mas sudah lapar." ajak Gilang.



"Eh, sudah sampai ya." gumam Alina sambil melihat ke arah sekitar.



"Ayo turun Yang." ucap Gilang sambil membuka kan pintu mobil.

__ADS_1



"Eh, non Alina, sudah lama ngga mampir non, kemana aja?" tanya kang pecel yang memang sudah kenal dengan Alina.



"Pak, saya sibuk ngurus anak pak, jadi ngga sempat untuk main kesini." jawab Alina sambil tersenyum.



"Wah sudah punya anak toh, pantas saja ngga pernah kelihatan." jawab kang pecel.



"Iya pak, dan ini yang pernah saya bawa dulu kesini adalah suami saya." Alina pun memperkenalkan Gilang.



"Tapi perasaan waktu itu mas ini datang dengan seorang perempuan, tapi bukan non Alina deh." ucap kang pecel dengan suara pelan.



"Masa sih pak, ya sudah nanti saya tanyakan langsung sama suami saya, sekarang bikin kan saya dua porsi ya pak." ucap Alina.



"Baik non, bapak akan segera membuatkan nya, silahkan ditunggu ya." ucap kang pecel lalu langsung menyiapkan pesanan Alina.



"Mas, selain sama aku, sama siapa lagi mas suka datang kesini?" tanya Alina dengan tatapan tajam nya.



"Mas, kesini hanya sama kamu doang kok Yang, memang nya kenapa?" Gilang pun balik bertanya.



"Jawab yang jujur mas, kan kamu tahu aku ngga suka kalau di bohongi." ucap Alina dengan wajah serius nya.



"Bener Yang, aku kan pertama tahu tempat ini dari kamu, dan aku pun datang kesini hanya sama kamu aja kok." jawab Gilang yang masih kekeh dengan jawaban nya.



"Coba mas, ingat-ingat lagi, kalau mas tetap menjawab dengan jawaban yang sama, aku pergi sekarang juga." ucap Alina dengan sedikit ancaman.



Gilang pun berpikir mengingat dirinya makan pecel lele di sini sama siapa aja.



"Bener Yang, mas makan di sini itu waktu sama kamu, terus pas waktu kamu pergi meninggalkan mas, mas makan di sini lagi bersama Dhea, ngga ada lagi perasaan." ucap Gilang sambil terus berpikir.



"Bener?" tanya Alina yang ingin meyakinkan.



"Bener Yang mas ngga bohong kok." jawab Gilang.



"Non, mas, ini makanan nya." ucap kang pecel sambil menata pesanan Alina di atas meja.



"Pak, waktu suami saya makan di sini bareng perempuan, perempuan nya yang ini bukan?" tanya Alina sambil memperlihatkan poto Dhea.



"Iya non, yang ini, saya masih ingat kok." jawab kan pecel.



"Oh ya sudah makasih ya pak." ucap Alina.



"Sama-sama non." ucap kang pecel lalu pergi meninggalkan Alina dan Gilang.

__ADS_1



Gilang pun tersenyum lega karena istri nya percaya.


__ADS_2