
"Gila lo Hen, masa jam segini lo mau makan pecel lele, kayak orang yang lagi ngidam aja kemauan nya aneh-aneh." teriak Suci.
"Bukan buat gue Ci, tapi buat pak Gilang, mana gue harus dapat sekarang juga lagi, gue lagi bingung harus nyari kemana tuh pecel jam segini." ucap Hendra lemes.
"Lo tanya sama Retno deh, kalau ngga salah tetangga Retno ada yang jual pecel lele, tapi ngga tahu kalau jam segini, tahu ada atau ngga nya." ucap Suci.
"Apaan pakai nyebut nama aku segala." teriak Retno yang baru masuk ke dalam ruangan pantry.
"Itu tetangga kamu ada yang suka jualan pecel lele kan Ret?" tanya Suci.
"Iya ada pak Maman, emang nya kenapa?"tanya Retno sambil duduk di samping Suci.
"Kira-kira jam segini bisa ngga beli pecel lele nya?" tanya Hendra.
"Tapi kamu sehat kan Hen?" tanya Retno sambil menatap Hendra.
"Maksud kamu? Ya sehat lah, kamu ngga lihat apa." jawab Hendra.
"Lah kalau kamu sehat mana mungkin ingin pecel lele di siang hari bolong gini, dimana-mana pecel lele itu ada nya malam hari bukan siang hari." ucap Retno.
"Ini permintaan pak Gilang, dan harus mendapatkan nya sekarang juga, aku juga bingung, bantu aku napa Ret." ucap Hendra memohon.
"Hen, tadi pak Gilang berpesan katanya cepetan bawa pesanan nya." ucap Dede.
"Tuh kan Ret, tolongin aku dong Ret, temuin aku dengan tetangga kamu yang jual pecel lele itu." ucap Hendra.
"Beneran? Pak Gilang mau makan pecel lele jam segini?" tanya Retno sekali lagi.
"Udah jangan banyak tanya lagi, ayo kita pergi ke rumah kamu." ucap Hendra sambil menarik tangan Retno.
"Sabar dong Hen, pelan-pelan napa."ucap Retno sambil berjalan di belakang Hendra.
"Tuh liat mereka berdua cocok ya? Kalau mereka jadian, kita juga jadian yuk Ci?" tanya Irman.
"Jadian aja sama lela sono." jawab Suci sambil pergi keluar meninggalkan Irman sendirian.
*
*
"Itu Hen rumah nya." ucap Retno sambil menunjuk sebuah rumah.
"Itu rumah tukang pecel nya Ret?" tanya Hendra.
"Iya Hen, kan kamu lagi nyari rumah tukang pecel, masa aku tunjukin rumah tukang bakso." jawab Retno sedikit kesal.
"Maksud aku, kalau itu rumah tukang pecel, terus rumah kamu nya mana?" tanya Hendra sambil tersenyum.
"Ngapain tanya rumah aku?"tanya Retno.
__ADS_1
"Kan kalau aku tahu rumah kamu, nanti aku datang melamar kamu langsung sama orang tua kamu." ucap Hendra.
"Apaan sih, udah ah ayo turun." ajak Retno sambil turun dari motor nya Hendra.
Hendra hanya tersenyum, lalu mengikuti Retno dari belakang.
"Assalamualaikum." ucap Retno.
"Waalaikum salam, eh nak Retno, ngga kerja neng?" tanya pak Maman.
"Kerja pak, cuman saya kesini ingin beli pecel lele, kira-kira bisa ngga ya pak?" tanya Retno.
"Aduh neng, kalau jam segini belum siap, paling ntar sore." jawab pak Maman.
"Pak tolong lah, bikin kan sekarang sepuluh porsi saja, nanti saya bayar dua kali lipat, gimana? Tanya Hendra memohon.
"Aduh gimana ya nak." ucap pak Maman sambil berpikir.
"Tolong lah pak, soalnya yang mau pecel saat ini istri nya lagi ngidam, jadi harus di turutin." ucap Hendra.
Retno pun menatap tajam ke arah Hendra, tapi Hendra pura-pura ngga melihat nya, yang penting dia harus membawa pesanan pak Gilang.
"Ya sudah kalau begitu, tunggu sebentar, saya buat kan dulu pecel lele nya."jawab pak Maman.
Pak Maman pun pergi ke dapur untuk membuat pesanan Hendra.
"Kamu gila ya Hen, seandainya pak Gilang tahu, mampus kamu." ucap Retno pelan.
"Ya, aku terpaksa Ret, kalau ngga gini aku ngga bakalan dapat pesanan nya." jawab Hendra.
"Ret, kita tunggu pesanan nya di rumah kamu yuk? Sekalian aku ikut istirahat dan mengenal keluarga kamu." ucap Hendra.
"Jangan suka kasih harapan sama perempuan." ucap Retno.
"Ret, aku harus meyakinkan kamu dengan apa lagi sih, aku tuh suka sama kamu, aku sangat mencintai kamu, dan yang ku katakan ini jujur dari dalam hati aku." jawab Hendra sambil menatap mata Retno.
Retno menatap manik mata Hendra, terdapat kejujuran di sana.
"Bagaimana Ret, apa kamu mau menerima aku sebagai pasanganmu? Aku akan berusaha membahagiakan kamu." ucap Hendra sungguh-sungguh.
"Tapi masa sih, kamu nembak aku di rumah pak Maman, ngga romantis." ucap Retno.
"Biarkan saja, kita itu harus beda dari yang lain nya, biar pak Maman ini menjadi kisah kita yang akan kita kenang sampai kita tua nanti, nanti kita kasih nama kisah cinta kita ini." ucap Hendra.
__ADS_1
"Apa namanya?" tanya Retno.
"Misteri cinta di rumah kang pecel." ucap Hendra sambil tersenyum.
"Ngga jelas." ucap Retno.
"Jadi gimana, kamu mau ngga jadi pacar nya aku?" kembali Hendra bertanya.
"Aku ngga mau pacaran, aku mau nya langsung nikah." jawab Retno.
"Jadi kamu mau kalau aku lamar Ret?" ucap Hendra.
Retno pun hanya mengangguk sambil tersenyum, tanda dia setuju dan mau di lamar oleh Hendra.
"Ah, terimakasih Ret kamu udah mau membuka hati kamu buat aku, minggu depan aku akan melamar kamu." ucap Hendra sambil menggenggam tangan Retno.
"Beneran Hen? Kalau gitu nanti aku kenalin sama orang tua aku." ucap Retno.
"Neng, ini pecel lele nya sudah selesai." ucap pak Maman sambil memberikan sepuluh porsi pecel lele kepada Retno dan Hendra.
"Ini pak uang nya, masih kurang ngga?" tanya Hendra sambil memberikan uang berwarna merah empat lembar kepada pak Maman.
"Ini kebanyakan den." ucap pak Maman.
"Ngga apa-apa pak, anggap saja itu rezeki bapak." jawab Hendra.
"Kalau begitu kami permisi dulu ya pak, Assalamualaikum." ucap Retno dan Hendra bersamaan.
"Waalaikum salam, terima kasih ya nak," ucap pak Maman dengan senyuman yang mengembang.
Hendra pun naik ke motor nya, lalu di ikuti oleh Retno.
"Ayo jalan Hen, nanti pak Gilang marah lagi." ucap Retno.
"Aku ngga mau jalan kalau kamu ngga pegangan." jawab Hendra.
"Ya ampun Hen, ya udah ayo, ni aku sudah pegangan." jawab Retno sambil menyentuh ujung baju Hendra.
"Pegangan yang benar itu begini." ucap Hendra sambil meraih kedua tangan Retno lalu menyimpan di atas perut nya Hendra.
"Modus mu Hen, bilang aja mau di peluk." ucap Retno.
"Aku ngga modus Ret, ya sudah terserah kamu mau pegangan atau tidak, tapi kalau ada apa-apa jangan salahkan aku." ucap Hendra sambil mulai melajukan motor nya dengan sedikit kencang hingga membuat Retno memeluk erat pinggang nya Hendra.
__ADS_1