Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Di Buly


__ADS_3

Irman berjalan gontai, sesak di dada yang sedang dia rasakan saat ini.



"Kenapa ngga dari dulu gue tembak Suci, kalau sudah begini terlambat kan jadi nya, Putra memang anak baik, tapi apa benar Putra itu anak orang kaya, sedang kan kerjaan Putra saja sama dengan gue." gumam bathin Irman sambil terus melangkah kan kaki nya.



"Apa benar yang dia omongin barusan Ret?" tanya Suci kepada Retno.



"Iya Ci, sebenarnya Irman itu menyukai kamu dari dulu." jawab Retno.



"Put, makasih ya bunga nya, tapi maaf aku ngga bisa menerima kamu, karena aku sebenar nya menyukai Irman." ucap Suci.



"Ya ngga apa-apa, kalau memang kamu menyukai Irman, kejarlah dia jangan sampai kamu menyesal nanti nya." ucap Putra sambil tersenyum.



"Makasih ya Put, Ret aku kejar Irman dulu ya." ucap Suci lalu berlari mengejar Irman.



"Man, tunggu." teriak Suci sambil berlari menghampiri Irman.



Irman yang mendengar teriakan Suci pun menghentikan langkah kaki nya.



"Man, apa benar kamu mencintai aku?" tanya Suci.



Irman pun membalikan tubuh nya lalu menatap ke arah Suci yang kini sedang berdiri di depan nya.



"Ya, aku dari dulu menyukai kamu, sejak kita dari puncak waktu itu aku merasa kamu adalah wanita yang selama ini aku cari, tapi karena aku ngga berani mengungkapkan nya akhir nya aku terlambat, semoga kamu bahagia bersama Putra Ci." jawab Irman dengan tatapan sendu nya.



"Apa rasa suka kamu cuma sampai di sini saja? Apa rasa cinta yang kamu ucapkan hanya sampai di sini saja? Apa ngga ada niat sedikit pun dari diri kamu untuk memperjuangkan nya? Apa kamu rela aku jadi milik orang lain? Apa kamu ikhlas aku menjadi istri orang lain? Tanya hati kamu, ikuti hati kamu, padahal aku mau kamu memperjuangkan aku." ucap Suci lalu membalikan tubuh nya dan mau melangkah kan kaki nya.



"Ci, tunggu jangan pergi dulu." teriak Irman sambil meraih tangan Suci.



"Kalau memang kamu berharap aku harus memperjuangkan kamu, baik, aku akan perjuang kan, tapi aku ingin mendengar langsung dari mulut kamu, apa kamu mau menjadi pacar aku?" tanya Irman sambil menatap dalam Suci.



"Ngga, aku ngga mau." jawab Suci.



Bagaikan ada petir di sore hari tubuh Irman lemas seketika, Irman pun melepaskan genggaman tangan nya.



"Makasih Ci, ternyata aku salah, aku kira kamu ingin aku perjuangkan, tapi setelah mendengar jawaban dari kamu, maaf aku berhenti sampai di sini." ucap Irman lalu dengan lemas dia membalikan tubuh nya.


__ADS_1


"Ya aku ngga mau jadi kekasih kamu, tapi aku ingin menjadi istri kamu." jawab Suci dengan begitu lantang dan jelas di telinga Irman.



Sontak Irman langsung membuka mata nya lebar-lebar lalu membalikan tubuh nya menghadap Suci.



"Apa aku ngga salah dengar? Apa benar kamu ingin menjadi istri aku?" tanya Irman dengan wajah berbinar.



"Ya aku mau jadi istri kamu." jawab Suci sambil tersenyum.



"Makasih Ci, makasih kamu sudah memabalas perasaan ku." teriak Irman sambil memeluk erat Suci.



"Belum halal, jangan peluk-peluk." ucap Hendra sambil menarik kerah baju Irman dari belakang.



"Apa sih lu Hen, ganggu kesenangan orang saja." ucap Irman sedikit kesal karena Hendra telah mengganggu nya.



"Selamat ya Ci, akhir nya kalian bisa mengungkap kan perasaan kalian, terutama perasaan Irman." ucap Retno sambil memeluk erat Suci sahabat nya.



"Sama-sama Ret, ini semua juga berkat bantuan dari kamu." jawab Suci sambil melepaskan pelukan nya.



"Selamat ya Ci, semoga kalian berbahagia, maaf tadi aku cuma sandiwara di suruh Hendra." ucap Putra sambil melirik ke arah Hendra.




"Ya, sebenar nya gue udah punya tunangan, tapi Hendra menyuruh gue untuk pura-pura suka sama Suci karena Hendra ingin tahu apa lo mau mengungkapkan perasaan lo atau tidak." jawab Putra.



"Lagian perasaan di simpan dalam hati mulu, memang nya enak mencintai da;am diam itu." ucap Hendra.



"Thanks ya bro, kalian telah membantu dan mendorong gue supaya berani untuk mengungkap kan perasan gue sama Suci." ucap Irman sambil ber tos ria.



"Terus bunga yang kamu kasih tadi?" tanya Suci pada Putra.



"Itu Hendra yang siap kan." jawab Putra sambil melirik Hendra.



"Kamu kok ngga ngomong ke aku sih Hen? Kan aku kira beneran Putra suka sama Suci, sampai deg-deg gan aku tadi." ucap Retno.



Retno belum bisa memanggil Hendra dengan panggilan mesra karena menurut dia belum halal, nanti kalau sudah halal Retno baru ingin memanggil nya dengan mesra.



"Gimana mau bilang, kamu nya aja dari siang sama Suci terus, jadi ku putuskan sendiri aja dan ngajak Putra, awal nya Putra ngga mau tapi setelah aku meyakinkan dia, akhirnya dia mau juga." jawab Hendra.

__ADS_1



"Kalau gitu sekarang kita makan yuk sebelum pulang, dan Irman lah yang akan traktir kita." ucap Retno.



"Kok aku sih Ret?" ucap Irman.



"Ya iya lah elo, kan lo yang jadian, dalam kamus pun sudah terytulis kalau yang baru jadian itu wajib untuk mentraktir kita makan selama satu bulan." ucap Hendra dengan semangat.



"Kamus apaan, ngga ada-ngga ada, mana ada gue harus traktir kalian selama satu bulan, bisa-bisa gue ngga nikah-nikah karena duit nya di pakai traktir kalian melulu." jawab Irman.



Semua nya pun tertawa mendengar ucapan dari Irman termasuk Suci.



"Ya sudah kalau gitu traktir sekarang saja, tapi di cafe depan ya? Biar keren dikit." ucap Hendra.



"Lo memang memanfaat kan keadaan ya Hen." ucap Irman.



"Lo ngga mau, kalau gitu sayang bawa Suci pergi jauh dari sini deh." ucap Hendra bercanda.



"Iya-iya, lo menang deh Hen, ayo kita makan, untung gue ada tabungan." ucap Irman.



"Tapi gue ajak tunangan gue ya? Soalnya gue udah janjian bertemu di cafe sana." ucap Putra.



"Ya ampun Put, lo mau ngedate tapi ngga mau ngeluarin modal." teriak Irman.



"Mau ngga kalau ngga aku bawa nih Suci nya." ucap Putra sedikit niru Hendra.



"Iya-iya deh boleh, untung gue lagi bahagia, coba kalau lagi menderita habis kalian gue makan." ucap Irman.



"Emang nya lo sumanto makan orang." ucap Hendra sambil tertawa.



"Ya gue titisan dari Sumanto, puas lo." jawab Irman dengan sedikit kesal.



"Wah Ci gawat, kamu harus hati-hati Ci, bisa-bisa lo dimakan nya nanti." ucap Retno.



"Iya gue akan makan dia nanti di malam pertama." jawab Irman.



Mereka pun tertawa bahagia, dan pergi ke cafe dan terus-terusan membully Irman.

__ADS_1


__ADS_2