
Kini Gilang dan Alina sudah berada kembali di dalam kamar mereka.
"Sekarang baru tidur dengan tenang." gumam Gilang sambil merebahkan tubuh nya di atas kasur.
"Mas tadi sudah mengganggu aku yang lagi tidur nyenyak, dan aku sudah memenuhi keinginan mas, sekarang giliran mas yang harus memenuhi keinginan aku dan anakku ini." ucap Alina sambil naik ke atas tubuh Gilang.
Sumpah demi apapun Gilang di buat heran sekaligus kagum dengan kelakuan ngidam Alina.
Dulu waktu mengandung si kembar, Gilang ngga ada di samping nya Alina, mungkin ini adalah suatu pembalasan dari janin yang sedang Alina kandung.
"Memang nya kamu menginginkan apa sayang? Apapun buat kamu aku akan selalu siap." jawab Gilang.
"Aku tidak menginginkan harta atau pun benda apapun, yang aku inginkan saat ini hanya kamu mas, aku ingin kamu, aku ingin memuaskan kamu, aku ingin memberikan semua nya untuk kamu." ucap Alina lalu menyusuri setiap inch tubuh Gilang.
Gilang menikmati setiap sentuhan dan ciuman dari istri nya, sungguh istri nya ini semakin liar dan semakin bergairah, hingga ngga tanggung-tanggung membuat Gilang kewalahan melayani nya.
Sentuhan demi sentuhan Alina berikan pada suami nya hingga tanpa sadar kini mereka sudah tidak mengenakan apa pun.
Alina sengaja mendekatkan kedua bukit kembar nya ke wajah Gilang suami nya.
Gilang pun menyambut nya dengan senang hati dan langsung meraup nya sesuka hati.
"Aku mau puas-puas sin di sini dulu karena sembilan bulan ke depan aku pasti ngga boleh mencicipi nya lagi seperti waktu punya si kembar." ucap Gilang lalu menenggelamkan kembali wajah nya di kedua bukit kembar milik Alina yang selalu membuat nya candu.
"Kamu ini mas." ucap Alina sambil merasakan kenikmatan yang di berikan suami nya.
"Yang, pelan-pelan, ingat kata dokter." ucap Gilang mengingatkan istri nya yang begitu liar dengan gairah yang sangat tinggi sampai-sampai dirinya tidak berdaya.
Alina tidak membiarkan Gilang untuk memimpin permainan nya, malam ini Alina lah yang memimpin dan Alina lah yang mengendalikan Gilang suami nya.
Tubuh keduanya tampak tergeletak di atas tempat tidur sambil mengatur nafas nya masing-masing.
__ADS_1
"Aku suka kamu yang sekarang Yang, kamu selalu liar di atas kasur ini, apa anak kita ini lagi membalas kan dendam kedua kakak nya ya?" ucap Gilang sambil memeluk erat tubuh polos istri nya.
"Kamu ini mas, masa bayi sudah tahu balas dendam, lagian balas dendam apa coba?" ucap Alina sambil terus mencium dada bidang milik Gilang.
"Balas dendam karena pas kedua kakak nya ada di dalam kandungan, mas ngga bisa nengokin mereka." jawab Gilang sambil tersenyum.
"Kamu ini ada-ada saja sih mas, sudah sekarang kita tidur besok pagi aku ingin sekali lagi." ucap Alina lalu membuat tanda kepemilikan di dada Gilang.
"Yang, kamu ngga capek? Kenapa sekarang kamu yang menjadi liar?" tanya Gilang dengan tatapan tak percaya nya.
"Entah lah mas, aku juga ngga tahu, apa ini mungkin bawaan bayi ya mas." jawab Alina.
"Mungkin juga ya? Soalnya kamu kan suka susah kalau aku ajak, tapi sekarang kamu yang semangat, kalau begini terus aku harus stok obat." ucap Gilang.
"Ngapain harus stok obat, aku juga melakukan nya masih dalam tahap wajar kok." jawab Alina.
"Pokok nya terserah kamu deh mas, mau pakai obat atau tidak, yang penting di kala aku lagi mau kamu harus siap." jawab Alina.
"Iya, sekarang kita tidur saja ya? Sudah mau pagi ini." ucap Gilang.
"Ngga sekali lagi mas." goda Alina.
"Yang, aku sudah capek dan ngantuk, besok lagi aja ya." jawab Gilang sedikit hati-hati karena takut Alina marah.
"Ya sudah ayo kita tidur, tapi jangan pakai baju dulu ya? Biar pas bangun nanti mudah." ucap Alina sambil tersenyum di pelukan suami nya.
Gilang hanya menggelengkan kepala nya pelan, sungguh ini diluar dugaan nya, dia ngga kebayang kalau setiap hari seperti ini bisa-bisa dia selalu sakit pinggang.
"Nak, maaf kan papah, dulu papah ngga bisa menemani kedua kakak kamu, sekarang papah terima hukuman nya dari kamu, asal semalam satu kali saja ya nak? Jangan semalam tiga kali, papah capek." gumam bathin Gilang sambil mengelus lembut perut Alina yang masih datar.
__ADS_1
Alina yang merasa nyaman di pelukan suami nya pun tidak lama langsung terbuai di alam mimpi, Gilang yang melihat istri nya sudah terlelap pun ikut memejamkan mata nya.
Mereka pun tertidur sambil saling memeluk erat dengan tubuh yang tanpa penghalang selembar kain pun.
Hingga pagi hari menyapa, semua penghuni rumah pak Surya sudah bangun dan melakukan aktifitas pagi nya.
Glen sedang menikmati pagi nya bersama sang mertua dan di temani segelas kopi dan cemilan.
Bu Dewi dan Dhea pun sedang bermain sama Gracia dan si kembar.
"Omah, aunty, mamah sama papah masih tidur ya?" tanya Azzura.
"Seperti nya iya sayang, biarkan saja jangan di ganggu, kalau lagi mengandung kan bawaan nya memang ingin tidur terus." jawab bu Dewi.
Sementara di dalam kamar Gilang, Alina baru mengerjapkan mata nya dan langsung di suguhkan dengan dada bidang dengan sedikit berbulu milik suami nya yang membuat Alina ingin menyentuh dan mencium nya.
Alina pun menyentuh dan mencium seluruh tubuh suaminya hingga Gilang terbangun karena merasakan geli pada tubuh nya.
"Yang geli ih." ucap Gilang sambil membuka kedua mata nya.
"Bangun dong mas, lihat tuh keris kamu saja sudah bangun, masa kalah sama keris kamu." ucap Alina sambil menyentuh keris nya Gilang.
"Kamu nakal ya Yang sekarang, ya sudah aku bangun, aku mandi dulu ya?" Gilang pura-pura ngga peka dan niat mengerjai istri nya.
Alina pun langsung menarik tangan Gilang hingga Gilang kembali berbaring di atas kasur.
"Mau kemana kamu mas? Kamu sudah janji kan mau melakukan nya pagi ini." ucap Alna sambil naik keatas tubuh suami nya.
Gilang pun hanya diam dan pasrah dengan apa yang akan di lakukan istri nya, Gilang sadar ini bukan sepenuh nya keinginan Alina, karena Gilang tahu bagaimana istri nya ini.
__ADS_1
Akhir nya pagi itu mereka kembali melakukan yang semalam mereka lakukan, Alina seakan-akan tidak ada kata bosan dan capek untuk melakukan nya hingga mereka dibuat melayang-layang dan mendapatkan kenikmatan di dunia.