
Ronald masuk kedalam ruangan Alina sendirian, karena keluarga Alina masih ingin melihat si kembar di ruang bayi.
Alina memang di pindahkan ke ruang vvip atas permintaan dari Gilang, jadi di ruangan itu pasien nya hanya ada Alina seorang.
"Lin, selamat ya, sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu, dan bila kamu membutuhkan ayah buat si kembar aku siap." ucap Ronald sambil tersenyum.
"Kamu ini kak, masih saja menggoda aku, ibu sama bapak mana kak?" tanya Alina sambil melirik kearah pintu.
"Mereka masih betah sama si kembar, oh ya Lin boleh kan kalau si kembar manggil ayah sama kakak?" tanya Ronald penuh harap.
"Siapa elo ingin di panggil ayah sama anak-anak gue." teriak Gilang yang baru keluar dari toilet.
Ronald yang mendengar suara seorang pria pun membalik kan tubuh dan menatap nya.
"Gilang, Elo," teriak Ronald.
"Elo." teriak Gilang dengan wajah amarah nya.
Gilang pun menghampiri Ronald dan tanpa basa basi langsung memukul wajah Ronald.
"Bugh, dulu lo ambil Rena dari gue, sekarang lo mau ambil Alina dari gue, belum puas lo menghancurkan hidup gue selama ini." teriak Gilang sambil melayangkan pukulan demi pukulan ke wajah Ronald.
Ronald hanya diam dan menerima semua pukulan dari Gilang, Ronald membiarkan amarah Gilang sampai reda.
"Mas, cukup jangan pukul lagi, ini rumah sakit." teriak Alina.
Gilang tidak mendengar teriakan Alina hingga dia terus membabi buta memukul Ronald.
Pak Abidin beserta istri dan anak nya berniat melihat keadaan Alina di ruang rawat inap nya, begitu mereka masuk, mereka di suguhkan pemandangan yang sangat membuat mereka kaget.
__ADS_1
"Stop nak, cukup, kenapa kalian bertengkar di sini? Ini rumah sakit, kalau kalian ingin berantem, kalian keluar dari sini." teriak pak Abidin sambil menarik tangan Gilang.
Nura dan Nuri hanya saling menatap tak mengerti dengan yang terjadi di depan nya.
"Nak, ini sebenar nya Ada apa? Kenapa nak Gilang dan nak Ronald berantem begini?" tanya bu Diah sambil menghampiri Alina.
"Ngga tahu bu, pas mas Gilang keluar dari toilet dan melihat kak Ronald di sini, dia langsung memukuli kak Ronald, aku pun ngga tahu masalah nya apa." jawab Alina sambil menatap ke arah Gilang.
Gilang mengatur nafas dengan wajah yang masih terlihat emosi, sedang kan Ronald terdiam sambil menyeka cairan yang berwarna merah yang keluar dari bibir nya.
"Kak, ada apa ini? Kenapa kalian malah bertengkar di sini? Kalau kalian ingin bertengkar kalian keluar jangan mengganggu Alina yang baru saja melahirkan." teriak Dhea yang baru masuk dengan Suci sambil membawa beberapa kantong makanan dan minuman.
Gilang dan Ronald hanya terdiam, Gilang yang masih menatap penuh dengan emosi kepada Ronald, sedang kan Ronald hanya diam menunduk sambil membersihkan bibir nya dengan tisu.
"Sebenar nya kalian kenapa? Apa kalian saling mengenal?" tanya Alina sambil melihat ke arah Gilang dan Ronald bergantian.
Dhea memang anak perempuan yang cantik, imut dan manja, tapi kalau sudah menyelesaikan masalah, dia selalu tegas seperti ayah nya.
"Kalau begitu, kami nunggu di luar saja." ucap pak Abidin.
"Tidak pak, bapak sekeluarga ikut duduk saja di sini, biar semua tahu dan ngga ada salah paham lagi." ucap Dhea.
Ronald dan Gilang pun kini duduk saling berhadapan, sedangkan Alina hanya melihat dan mendengar dari atas ranjang rumah sakit bersama ibu nya.
"Lang, gue mohon maafkan kesalahan gue yang dulu, gue sadar kalau gue udah melakukan kesalahan besar hingga membuat lo marah sama gue, kalau lo mau pukul gue lagi gue terima, asal kan lo mau memaafkan semua kesalahan uang gue lakukan ke elo." ucap Ronald.
Gilang masih diam dan tidak mau menatap ke arah Ronald, masa lalu yang sudah dia kubur dalam-dalam, kini harus teringat kembali karena kehadiran Ronald di hadapan nya.
__ADS_1
"Gue tahu lo pasti ngga bakalan mudah untuk memaafkan kesalahan gue, dan gue sangat menyesal dengan yang telah gue lakukan." ucap Ronald.
Semua yang ada di ruangan menatap ke arah Gilang, mereka ingin melihat reaksi dari Gilang atas ucapan minta maaf dari Ronald.
"Kak, sudah lah yang lalu biarlah berlalu, lupakan semua kemarahan yang ada pada diri kakak, coba kakak pikir, seandainya kak Ronald tidak merebut Rena dari kakak, apa kakak akan bertemu Alina? Seandainya kak Ronald ngga rebut Rena, apa kakak akan punya si kembar?" ucap Dhea dan berhasil membuat Gilang berpikir berulang-ulang.
"Sebenar nya apa sih yang sudah dibuat kak Ronald sama mas Gilang." gumam bathin Alina sambil menatap mereka berdua.
"Nak, menurut bapak, apa yang dibilang nak Dhea itu benar adanya, coba nak Gilang pikirkan baik-baik, pikirkan dengan hati yang dingin, memang bapak ngga tahu masalah yang terjadi pada kalian berdua, tapi bapak mendukung dengan semua yang nak Dhea katakan." ucap pak Abidin ikut bicara.
Gilang masih terdiam, dia belum bisa menghilangkan rasa sakit dan emosi di hati nya.
Alina yang melihat Gilang seperti itu pun merasa gemas dan akhir nya ikut bicara.
"Mas, masih mau marah sama kak Ronald?" tanya Alina dengan suara lembut nya.
Gilang pun menatap ke arah Alina begitu mendengar suara lembut nya.
"Mas kesini atau aku yang nyamperin mas? Tanya Alina kembali.
"Jangan, biar mas yang kesitu aja, kamu harus istirahat." jawab Gilang sambil berdiri lalu menghampiri Alina.
"Duduk di sini mas." ajak Alina sambil menepuk kasur di sebelah nya.
Semua terdiam dan hanya memandang ke arah Alina dan Gilang.
"Ada apa Yang?" tanya Gilang sambil duduk di sebelah Alina.
__ADS_1
"Mas, kamu ngga boleh gitu sama kak Ronald, kak Ronald sudah aku anggap sebagai kakak aku sendiri, ya walaupun ngga di pungkiri kak Ronald mempunyai perasaan sama aku, tapi aku menganggap dia sebagai kakak saja, mas tahu, selama aku ngidam kak Ronald lah yang selalu ada, kak Ronald selalu mengabulkan keinginan anak kita, dia ngga perduli itu masih siang atau sudah larut malam, bahkan sebelum pergi ke sini, mas Ronald lagi istirahat, tapi begitu mendengar aku mau melahirkan dia dengan suka rela nganterin aku kesini, kalau ngga ada kak Ronald entah apa yang akan terjadi sama aku dan anak-anak kita, jadi menurut mas, apa kak Ronald patut di maafkan atau di benci? Apa mas ngga merasa hutang budi sama kak Ronald?" tanya Alina dengan lemah lembut sambil menatap wajah Gilang yang sedang menunduk.