Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Sakit Perut


__ADS_3

Semakin hari semakin besar dan buncit perut nya Alina, dan semakin hari semakin dekat pula keluarga Alina dengan Ronald.



Nazwa yang memang sudah pasrah hanya bisa mencintai dalam diam, dia ngga mau memaksa kan hati Ronald untuk mencintai dirinya.



Nazwa tahu kalau Ronald menyukai Alina, tapi Alina hanya menganggap Ronald sebagai kakak, Nazwa pun hanya pasrah menunggu keajaiban, dengan harapan suatu saat akan datang perasaan yang sama pada diri Ronald terhadap diri nya.



Ronald selalu menjaga dan siaga dengan Alina, bahkan Ronald sudah membelikan beberapa perlengkapan buat bayi kembar nya Alina.



Nazwa pun sering berkunjung dan berbincang dengan Alina, Nazwa selalu mencurahkan isi hati nya kepada Alina.



Risma sahabat nya Nazwa sudah meminta maaf kepada Alina atas ucapan yang telah menyakitkan hati Alina.



Kini mereka menjadi dekat dan menjadi sahabat, meski Nazwa selalu ada rasa iri terhadap Alina karena mendapat perhatian lebih dari Ronald.



Risma dan Nazwa juga tidak mempertanyakan siapa ayah dari bayi yang sedang Alina kandung, mereka tidak mau mengorek terlalu dalam.



Gunjingan para tetangga pun mulai pudar di telan waktu, walau tidak di pungkiri masih ada satu atau dua orang yang masih menatap dengan penuh kebencian.



GIlang terus mencari informasi lewat anak buah pak Surya tentang keberadaan Alina, Bukan ngga ada yang mau sama Gilang.



Semua perempuan yang melihat nya pasti akan merasa jatuh hati dikala melihat Gilang seorang pria tampan yang kaya raya.



Tapi sayang, seperti nya Gilang sudah mati rasa buat para wanita, hingga saat ini dia tidak pernah bicara atau bertatap muka dengan para wanita selain ibu dan adik nya Dhea.



Dhea sudah jujur kepada ayah dan ibu nya tentang hubungan nya dengan Glen.



Pak Surya dan bu Dewi pun mendukung hubungan Dhea dengan Glen, karena pak Surya dan bu Dewi sudah mengenal betul siapa Glen.



Orang tua Gilang tidak pernah memaksa anak-anak nya untuk menikahi siapa pun, karena orang tua Gilang ingin mereka sendiri lah yang memilih.



Seperti saat ini, sebenar nya hati bu Dewi sangat sedih melihat Gilang anak nya, tapi mau bagaimana lagi, Gilang masih berharap sama sosok Alina.



Bu Dewi berharap suatu saat Alina akan menemui Gilang, apapun keadaan Alina mereka pasti akan menerima nya.


*


*


Malam ini Alina tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia merasakan sakit di pinggang dan di perut nya.


Alina pun meraih ponsel yang sengaja ia simpan di samping nya.



"Iya kak, ada apa malam-malam telpon, datang aja kesini langsung." ucap Nura dengan mata terpejam.

__ADS_1



"Dek, tolong bangunkan ibu, seperti nya kakak mau melahir kan." ucap Alina sambil menahan rasa sakit di perut dan pinggang nya.



"Apa kak, kakak mau melahir kan? Sebentar aku bangunkan ibu dulu." jawab Nura.



Nura pun membangunkan Nuri saudara kembar nya untuk menemani kakak nya.



"Nur, bangun, kamu temenin kakak dulu, aku mau membangunkan ibu, kakak mau melahir kan." teriak Nura sambil menggoyangkan bahu Nuri.



"Apa! Kakak mau melahirkan?" ucap Nuri sambil langsung terbangun dari tidur nya.



"Iya, kamu temenin kakak dulu sana, aku mau bangunin ibu." ucap Nura sambil berdiri dan melangkah ke arah kamar orang tua nya.



Nuri pun langsung berlari ke arah kamar Alina, "Kak, kakak mau melahirkan ya? tanya Nuri sambil masuk ke dalam kamar Alina.



"Sepertinya iya dek, soal nya perut sama pinggang kakak sakit ini." jawab Alina sambil menahan rasa sakit.



"Bentar ya kak, Nura lagi memanggil ibu dulu." jawab Nuri sambil mengelus tangan Alina.



"Bu, bangun bu, kakak mau melahirkan." teriak Nura sambil terus mengetuk pintu kamar orang tua nya dengan keras.




"Iya bu, dan seperti nya itu suara Nura." jawab pak Abidin sambil bangun dari tidur nya.



"Iya dek, ada apa, malam-malam begini teriak-teriak." ucap pak Abidin setelah membuka pintu nya.



"Pak, kakak seperti nya mau melahirkan." teriak Nura sampai terdengar oleh telinga bu Diah.



Apa dek? kakak mau melahirkan?" teriak bu Diah lalu bangun dari tidur nya.



"Iya bu, cepetan." teriak Nura sambil menarik tangan ibu nya dan pergi ke kamar nya Alina.



"Sakit dek," teriak Alina sambil memegang erat tangan Nuri.



"Sabar kak, sebentar lagi ibu kesini," jawab Nuri sambil melihat ke arah pintu.



"Nura mana sih, lama banget manggil ibu doang." gumam bathin Nuri sambil terus melirik ke arah pintu.



"Kak, kamu mau melahirkan nak?" tanya bu Diah sambil masuk ke dalam kamar Alina dengan sedikit berlari.

__ADS_1



"Seperti nya iya bu." jawab Alina sambil meringis.



"Nak, tolong telepon nak Ronald, minta bantuan sama dia, kalau dia ngga bisa pinjam mobil nya saja biar bapak yang bawa ke rumah nya." teriak bu Diah pada Nura.



"Iya bu." jawab Nura dan langsung mencari kontak Ronald di ponsel nya.



"Halo kak." ucap Nura dengan nada khawatir.



"Iya Nur ada apa?" jawab Ronald dengan mata yang terpejam.



"Kak, maaf mengganggu, kalau boleh mau pinjam mobil nya, kita mau bawa kakak ke rumah sakit, kakak mau melahir kan." ucap Nura.



"Apa! Kakak kamu mau melahirkan? Tunggu sebentar, kakak langsung kesana." ucap Ronald sambil bangun dari tidur nya.



"Iya kak, cepetan ya kak?" ucap Nura sambil mematikan ponsel nya.



Ronald pun langsung mengambil kunci mobil dan dompet nya.



"Gimana dek, nak Ronald nya kasih pinjam mobil nya ngga?" tanya bu Diah.



"Sudah bu, katanya tunggu sebentar kak Ronald mau kesini." ucap Nura.



"Ya sudah kalau begitu kalian siapkan semua perlengkapan bayi dan masukan ke dalam tas besar, jangan lupa masukan juga baju kakak kalian buat ganti nanti." ucap bu Diah.



"Baik bu." jawab Nura dan Nuri sambil langsung bergegas menyiapkan semua yang di perintahkan ibu nya.



Sementara keluarga Alina sedang di sibuk kan dengan persiapan pergi ke rumah sakit, lain hal nya dengan yang terjadi di kamar Gilang.



"Ah, kenapa dengan perut ku, sakit sekali." teriak Gilang.



Gilang merasakan sakit perut yang luar biasa sekali, dia terus bolak balik ke kamar mandi sampai lemas.



"Dek," teriak Gilang sambil mengetuk pintu kamar Dhea sedikit keras.



Gilang pun terus mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Dhea berulang-ulang sampai Dhea terbangun dari tidur nya.



"Ada apa sih kak, malam-malam begini teriak-teriak." jawab Dhea sambil membuka pintu nya dengan rasa malas.


__ADS_1


"Dek, antar kakak ke dokter ya? Perut kakak tiba-tiba sakit, tapi tiba-tiba ilang sakit nya." ucap Gilang.


__ADS_2