Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Azzam Dan Azzura


__ADS_3

Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Alina, keluarga Alina ikut dengan mobil Ronald, sedangkan Alina dan si kembar ikut dengan mobil Gilang.



"Ya ampun kak, aku sampai lupa, kakak kan semalam lagi sakit perut, terus sekarang gimana perut nya, masih sakit ngga? tanya Dhea.



"Semalam sempat sakit lagi dek, tapi kakak tahan, tapi setelah si kembar lahir sakit nya ilang lo dek sampai sekarang." jawab Gilang.



"Emang nya mas sakit apa?" tanya Alina sambil melihat ke arah Gilang yang sedang mengemudi.



"Ngga tahu kenapa semalam perut mas tiba-tiba sakit banget, tapi ya gitu kadang sakit kadang ngga." jawab Gilang.



"Mungkin itu semua efek dari kakak ipar mau melahirkan sakit nya terasa sama kakak." ucap Dhea.



"Kok bisa, ngga mungkin lah dek." ucap Gilang.



"Kakak ingat ngga, waktu kakak malam-malam ingin mangga muda terus siang hari ingin makan pecel lele, nah itu juga bisa jadi dampak ngidam karena kakak ipar lagi hamil." ucap Dhea.



"Jadi, mas Gilang merasakan nya juga?"tanya Alina menatap tak percaya.



"Iya kak, asal kakak tahu ya? Dia itu jadi aneh, sarapan pagi biasa nya suka dengan roti isi cokelat dan susu tapi kemarin malah membenci nya, bahkan suka marah-marah kalau kakak lihat roti dan susu ada di meja makan." ucap Dhea.



"Lo dek, kakak malah sebalik nya, kakak kan ngga suka sama roti dan susu eh selama hamil malah tiap pagi harus dan wajib sarapan roti isi cokelat dan minum segelas susu, kalau ngga ada susu dan roti di meja bawaan nya ingin marah-marah terus." ucap Alina.



"Berarti kalian berdua memang sudah di jodoh kan oleh momy, berarti aku harus bilang makasih nih sama momy." ucap Dhea.



"Kamu ini ada-ada saja sih dek, memang nya momy itu siapa?" tanya ALina.



"Ini kak, yang nulis kisah kita yang kadang bikin pembaca nya kesal, marah dan benci sama momy." jawab Dhea.



"Kamu ini dek, sudah lah Yang, jangan di dengerin dia udah mulai ngaco, efek belum tidur dari semalam." ucap Gilang sambil menggelengkan kepala nya.



Alina pun hanya tersenyum sambil menatap buah hati nya.



"Oh ya kak, nama si kembar siapa?" tanya Dhea.



"Iya Yang, kita belum ngasih nama mereka lo." ucap Gilang.



"Namanya Azzam Permana Saputra, dan adik nya Azzura Aulia Saputra, gimana mas?" tanya Alina.


__ADS_1


"Bagus, aku sih ngikut kamu aja Yang." jawab Gilang.



"Gimana dek menurut kamu?"tanya Alina pada Dhea.



"Bagus kak, aku suka." jawab Dhea.



"Azzura, bangun dong sayang kita main, jangan tidur mulu." ucap Dhea sambil menyentuh pipi lembut Azzura.



Azzura pun tersenyum seperti yang mengerti dengan apa yang diomongin Dhea.



"Kak, Azzura tersenyum, ah senyum kamu manis sayang." teriak Dhea heboh.



Di mobil Gilang mereka heboh dan bahagia, sedangkan di mobil nya Ronald sepi, mereka semua tertidur kecuali Ronald yang fokus mengemudi.



"Lin, semoga kamu bahagia dengan Gilang, aku tahu Gilang itu pria yang setia dan penyayang, jadi aku rela dan ikhlas melepaskan kamu untuk dia, aku bahagia bila melihat kamu juga bahagia." gumam bathin Ronald sambil fokus mengemudi.



Sebenar nya Ronald pun ngantuk dan capek, tapi mau gimana lagi, Ronald harus bisa menahan nya karena belum pulang ke rumah.


*


*


"Ris kamu tadi seperti nya dari mini market nya kak Ronald?" tanya Nazwa.


"Iya, tadi di suruh ibu beli bahan kue, kenapa emang nya?" Risma pun balik bertanya kepada Nazwa.




"Di mini market nya pun tadi aku ngga lihat, biasa nya suka sudah ada lagi meriksa pembukuan." ucap Risma.



"Apa mungkin lagi di rumah nya mbak Alina ya?" ucap Nazwa.



"Bisa jadi, soalnya kan mereka itu dekat, apa kita ke rumah mbak Alina saja ya?" ajak Risma.



"Tapi kalau kita pergi ke rumah nya mbak Alina malu tahu Ris, masa kita sering banget main ke rumah nya." ucap Nazwa.



"Ya ngga apa-apa, kita bilang aja lagi bosen di rumah terus main kesini, gitu aja." jawab Risma.



Nazwa pun terdiam sambil berpikir antara datang ke rumah Alina atau tidak.



"Ah, kelamaan." ucap Risma sambil menarik tangan Nazwa.



"Ris, emang nya aku ini kambing apa harus di seret begini." ucap Nazwa.

__ADS_1



"Lagian mau ke rumah mbak Alina saja sampai harus mikir lama." ucap Risma.



"Aku malu Ris, takut di bilang ngejar-ngejar kak Ronald." jawab Nazwa.



"Alah kamu jangan kebanyakan drama, siapa tahu mbak Alina membuat kak Ronald berubah pikiran dan menerima kamu." ucap Risma.



Nazwa pun terus mengikuti langkah Risma hingga tiba di depan rumah nya Alina.



"Kok sepi ya?" ucap Risma sambil melihat ke sekitar rumah.



"Iya Ris, seperti nya mereka pada pergi deh." jawab Nazwa.



Risma dan Nazwa pun terus memanggil Alina sambil mengetuk pintu, tapi setelah beberapa kali mengetuk nya tak ada jawaban apapun dari dalam.



"Ya sudah lah ayo kita pulang saja, mereka nya pada pergi." aja Risma.


*


*


"Pah, masih jauh ya perjalanan nya?" tanya bu Dewi yang memang sudah ngga sabar ingin segera bertemu dengan cucu kembar nya.


"Papah ngga tahu mah, pak kira-kira berapa lama lagi kita sampai?" tanya pak Surya kepada sopir nya.



"Lumayan pak sekitar satu jam lebih kalau tidak macet, kalau macet seperti ini pasi lebih." jawab pak Rahmat.



"Tuh dengar kan mah? Jadi mamah jangan nanya lagi, lihat aja jam, oke." ucap pak Surya.



"Lama kali, ya sudah kalau gitu kita mampir ke toko perhiasan dulu, bentar mamah searching dulu toko perhiasan yang bagus di daerah sini dimana." ucap bu Dewi.



"Kalau ibu mau ke toko perhiasan, sekitar lima ratus meter dari sini, di situ ada toko perhiasan ori, bahkan para pejabat dan artis pun beli nya di toko itu." jawab pak Rahmat yang mendengar keinginan istri atasan nya.



"Bapak tahu?" tanya bu Dewi sambil menatap tidak percaya.



"Tahu bu, kan sebelum saya kerja sama bapak dulu saya kerja sebagai sopir online dan suka mangkal nya di sekitaran situ." jawab pak Rahmat.



"Ya sudah kalau begitu kita ke toko perhiasan itu,." ucap bu Dewi.



"Memang nya perhiasan mamah kurang?" tanya pak Surya.



"Bukan untuk mamah pah, tapi untuk melamar Alina nanti, masa kita ngga bawa apa-apa, kan malu." jawab bu Dewi.

__ADS_1



"Ya sudah terserah mamah saja lah, papah mah ngikut saja." ucap pak Surya.


__ADS_2