
"Beng sek, siapa sih sebenar nya laki-laki itu, gue jadi penasaran." ucap Hendra dengan wajah kesal nya.
"Ya mana gue tahu, lo tanya saja langsung sama Suci." jawab Hendra.
Kini Hendra dan Irman sedang berdua di ruang pantry, karena Suci dan Retno lagi pergi ke kantin dan berpura-pura mau bertemu dengan pria idaman nya Suci.
"Makanya kalau lo suka sama Suci kenapa ngga langsung lo tembak saja dia." ucap Hendra.
"Gue juga sudah bilang ke dia kalau gue suka sama dia, tapi dia menganggap nya kalau gue itu cuma bercanda." jawab Irman.
"Ya lo yang serius dong makanya, kalau nembak seorang wanita itu jangan pas lagi bercanda, otomatis dia menganggap nya kalau lo itu bercanda." jawab Hendra.
"Gue bingung cara nya Hen, gue takut di tolak." ucap Irman.
"Lo liat aja tutorial nya di ponsel, terus lo ikuti, tapi yang romantis ya, biar Suci nya menerima kamu, tapi kalau pun kamu di tolak berarti Suci memang bukan jodoh kamu, kamu harus menerima nya dengan lapang dada, tapi sengga nya lo sudah berusaha mengungkapkan perasaan lo dengan jujur." jawab Hendra.
"Entahlah Hen, gue bingung harus memulai nya darimana." ucap Irman.
"Atau kalau ngga kamu minta bantuan sama Retno saja, dia pasti mau bantuin kamu." ucap Hendra.
"Aku ngga yakin Hen." ucap Irman.
"Harus yakin dong, gue aja pas nembak Retno awal nya ngga yakin, tapi ternyata gue diterima." ucap Hendra.
"Lo dulu kasih dia bunga atau cincin ngga pas waktu nembak Retno?" tanya Irman.
"Gue nembak Retno ngga bawa apa-apa, malah gue nembak Retno di rumah nya tukang pecel lele." jawab Hendra jujur.
"Gila lo, emang ngga ada tempat yang romantis gitu buat nembak cewek." teriak Irman.
"Tempat indah dan romantis ngga ada pengaruhnya buat mengungkap kan isi hati kita, banyak yang nembak cewek nya di tempat romantis dengan cincin harga ratusan juta, tapi kalau hati si perempuan ngga yakin dan ngga nyaman buat menerima nya tetap saja pasti di tolak, tergantung isi hati perempuan nya sih sebenar nya. Bagi gue dimana dan kapan pun bisa aja yang penting niat dan tekad." jawab Hendra.
"Benar juga ya." gumam Irman.
"Sudahlah ngga usah di pikirin, mendingan kita makan siang." ajak Hendra.
*
*
"Kenapa kamu ngomong seperti tadi, kalau kedengaran pak Gilang ngga enak lo." ucap Suci.
"Ya kan pak Gilang nya juga ngga dengar, lagian aku kesal sama si Irman, ngapain juga pakai ngejahilin aku." jawab Retno.
"Gimana kalau dia menganggap semua yang kamu omongin itu benar Ret?" tanya Suci.
__ADS_1
"Ya biarin saja, biar dia tahu rasa, lagian kalau suka kenapa harus di pendam." jawab Retno.
"Emang nya Irman suka sama siapa?" tanya Suci dengan polos nya.
"Ya sama kamu lah, memang nya sama siap lagi." jawab Retno sedikit kesal karena Suci ngga peka.
"Jadi setiap dia bilang kalau dia suka sama aku itu beneran?" tanya Suci.
"Ya iya lah, kamu nya aja yang ngga peka." jawab Retno sedikit kesal.
"Ya aku kira dia cuma bercanda, soalnya nada bicara nya seperti yang ngga serius gitu sih." ucap Suci.
"Kamu jujur deh Ci, kamu suka ngga sama Irman?" tanya Retno dengan serius.
"Jujur aku suka sama Irman tapi mana mungkin kan aku yang duluan bilang." jawab Suci.
Retno tersenyum penuh arti sambil memandang ke arah Suci sahabat nya.
*
*
"Yang, bagaimana kalau aku melamar kamu bulan depan?" tanya Glen.
"Ya jangan bulan depan bang, nanti saja kalau acara kak Gilang udah selesai, baru abang boleh melamar adek, gimana?" jawab Dhea.
"Sabar abang ku sayang, adek akan selalu mendukung abang dan selalu memberi semangat buat abang." ucap Dhea sambil tersenyum.
"Pamer kemesraan terus." teriak Gilang yang baru masuk ke ruangan Glen.
"Apaan sih kak, kayak kakak ngga suka pamer aja." jawab Dhea.
"Dek, baju buat resepsi nanti untuk kakak ipar mu gimana? Kan kata mamah mau ngambil dari butiknya tante Lea?" tanya Gilang sambil duduk diantara mereka.
"Biar nanti adek yang anterin ke sana sama bang Glen." jawab Dhea.
"Kakak ikut ya." ucap Gilang.
"No, kakak, kakak itu jangan bertemu dulu dengan kakak ipar, tunggu saja ngga usah macam-macam, semua urusan resepsi serahkan sama adek." jawab Dhea dengan tegas.
Gilang pun hanya diam cemberut karena semua orang melarang dirinya untuk bertemu dengan Alina istri nya.,
"Ya sudah lah kakak balik ke ruangan saja, duduk di sii lama-lama kakak kepanasan." ucap Gilang sambil berdiri dan berlalu meninggalkan mereka.
__ADS_1
Dhea dan Glen hanya memandang sambil tersenyum mendengar ucapan Gilang.
Gilang pun terus berjalan menuju ruangan nya, tiba-tiba ada seseorang yang membuat nya kaget dan refleks memeluk nya.
*
*
"Ret, benar ya, kalau Suci punya pria idaman?"tanya Irman.
"Semua orang juga punya pria idaman Irman." jawab Retno.
"Terus yang tadi kalian bicarakan siapa? Pacar nya Suci ya?" tanya Irman.
"Kalau memang nya iya kenapa?apa urusan kamu?" tanya Retno.
"Ya memang bukan urusan aku, tapi." Irman pun tidak melanjutkan kata-kata nya.
"Tapi apa?" tanya Retno.
"Ngga jadi, tadi nya aku mau nembak Suci tapi kalau dia sudah punya pacar ya aku mundur saja." jawab Irman.
"Kenapa kamu harus mundur, harus nya kamu berusaha dong untuk mendapatkan hati nya Suci bukan diam begini, kamu pengecut tahu ngga." ucap Retno.
Irman pun hanya diam dan sibuk dengan pikiran nya.
"Ret, bantu aku dong untuk mengungkapkan perasaan aku ke Suci." ucap Irman.
"Eh Man, itu semua perasaan kamu ke Suci kenapa aku yang harus bantu kamu, kamu tinggal mengungkapkan nya saja, masalah di terima atau ngga nya ya itu urusan nanti, yang penting kamu sudah jujur dengan perasaan kamu." jawab Retno.
"Ngga laki nya, ngga cewek nya, omongan nya sama." omel Irman.
"Maksud kamu?" tanya Retno.
"Hendra juga tadi ngomong nya seperti yang kamu omongin barusan." jawab Irman.
"Ya kan memang benar." ucap Retno.
"Au ah, kalian tidak solider, bantu aku napa." ucap Irman sedikit kesal.
"Ya sudah, kalau gitu nanti sepulang kerja kita tunggu di taman samping, kamu siapkan mental saja untuk mengungkapkan nya, dan jangan lupa kamu bawa bunga atau cokelat atau kalau bisa cincin sekalian." ucap Rertno.
"Baik kalau gitu aku akan beli bunga dulu, nanti kamu tunggu aku ya di taman." jawab Hendra sambil tersenyum.
__ADS_1
Retno pun menggelengkan kepala nya sambil tersenyum melihat kelakuan Irman.