
Pagi hari di rumah Ronald, Dhea sudah heboh karena Ronald ngga ada di kamar nya.
"Kemana sih kamu kak, apa tidur di rumah kakak ipar? Tapi kan rumah nya udah aku kunci semalam." gumam Dhea.
"Tumben nak Ronald belum kelihatan, dek ayo sarapan dulu sebelum kita pulang, ajak sekalian nak Ronald." ucap bu Dewi.
Ya, selama bu Dewi menginap di rumah Ronald, bu Dewi selalu masak untuk makan mereka.
"Kak Ronald ngga ada di kamar nya mah, mobil nya pun ngga ada di depan." jawab Dhea sambil duduk di kursi makan.
"Apa mungkin nginap di rumah nya Alina? Atau ketiduran di sana?" tanya pak Surya.
"Ngga mungkin pah, sewaktu adek pulang di sana sudah ngga ada siapa-siapa, tapi memang mobil kak Ronald ada di rumah kakak ipar, dan adek juga yang kunci rumah kakak ipar." jawab Dhea.
"Coba kamu telepon kakak kamu, kali aja dia tahu." tanya pak Surya.
Dhea pun meraih ponsel dang menghubungi no kakak nya.
Gilang yang sudah bangun dan sudah mandi pun terlihat lebih segar dan tampan dengan senyuman yang selalu mengembang di bibir nya.
"Mas ponsel nya berdering tuh." ucap Alina sambil memberikan ASI kepada si kembar.
Gilang pun mengambil ponsel dan melihat ke arah layar ponsel lalu menerima panggilan nya.
"Iya dek, kakak sudah siap." ucap Gilang.
"Adek ngga nanya kakak siap atau belum, adek mau tanya kak Ronald ada di situ ngga? Soalnya semalam dia ngga ada pulang." jawab Dhea.
"Ronald?" gumam Gilang sambil menatap ke arah Alina.
"Ngga ada dek, tapi bentar kakak lihat ke depan dulu." jawab Gilang sambil berjalan keluar kamar.
Gilang pun mencari sosok Ronald di rumah itu.
"Mobil nya ada tapi orang nya kemana ya?" gumam bathin Gilang.
"Nyari siapa nak?" tanya pak Abidin yang melihat Gilang.
"Saya nyari Ronald pak, mobilnya ada tapi orang nya kok ngga ada ya?" tanya Gilang.
"Mungkin nak Ronald pulang berjalan kaki nak, biasa nya nak Ronald kalau lagi malas bawa mobil memang suka di simpan di sini." jawab pak Abidin.
"Tapi kata adik saya Ronald ngga pulang semalaman." ucap Gilang.
"Mungkin ada di mini market nya nak." ucap bu Diah yang mendengar pembicaraan suami dan menantu nya.
__ADS_1
"Bisa jadi." ucap Gilang sambil meraih ponsel di saku celana nya.
"Ada ngga kak?" tanya Dhea yang langsung menerima panggilan di dering pertama.
"Ngga ada dek, coba kamu cek di mini market nya." jawab Gilang.
"Ya sudah nanti habis sarapan adek ke mini market nya sekalian menjemput kakak." ucap Dhea.
"Ya sudah kalau gitu kakak sarapan dan siap-siap dulu ya." ucap Gilang.
"Oke kak." jawab Dhea lalu memutuskan telepon nya.
"Pak, bu saya mau bawa sarapan buat Alina ke kamar nya, soalnya tadi lagi memberikan ASI buat si kembar." ucap Gilang.
"Iya nak, ambil saja." jawab bu Diah.
"Pagi semua, kak Gilang jadi pulang sekarang ya?" tanya Nura.
"Iya dek, kakak juga harus kerja, nanti pas resepsi kita bertemu lagi, dan untuk uang bulanan kalian nanti setiap bulan nya masuk ya." ucap Gilang.
"Iya kak, makasih banyak ya kak." jawab Nura dan Nuri bersamaan.
"Maafkan kami nak, jadi merepotkan nak Gilang dan keluarga." ucap bu Diah.
"Ya sudah saya ke kamar dulu ya bu." ucap Gilang sambil membawa nampan di tangan nya.
"Iya nak." jawab bu Diah sambil tersenyum, dia bahagia sekali melihat Gilang yang perhatian dengan anak pertama nya itu.
"Dek kakak ke kamar kak Alina dulu ya? Belajar yang rajin, biar nanti diajak ka Dhea kerja." ucap Gilang.
"Iya kak." jawab Nura dan Nuri.
Gilang pun berlalu dari ruang makan dan menghampiri Alina yang masih berada di kamar nya.
*
*
"Wa, maafkan kakak, kakak sudah membuat kamu sakit hati." gumam Ronald dengan mata yang masih terpejam.
Semalaman Ronald tidur dengan tak tenang, dia terus mengigau menyebut-nyebut nama Nazwa.
"Kak, bangun kita sarapan dulu." ucap Risma sambil menggoyangkan tubuh nya .
"Nazwa, maafin kakak." Ronald tak henti-henti nya bergumam memanggil-manggil nama Nazwa.
"Kak, bangun." sekali lagi Risma membangunkan Ronald.
"Kak, kakak demam? badan kakak panas sekali." ucap Risma sambil menyentuh dahi Ronald.
__ADS_1
"Aduh, gimana ini, pasti gara-gara semalam kehujanan badan kak Ronald jadi panas seperti ini." gumam Risma.
"Kak, kak Rehan." teriak Risma memanggil Rehan.
"Ada apa sih pagi-pagi sudah teriak-teriak, untung om dan tante sudah pada berangkat." jawab Rehan.
"Kak Ronald badan nya panas kak." ucap Risma.
Rehan pun menyentuh dahi Ronald, "Iya Ris, badan nya sangat panas sekali, di sini ada dokter yang bisa di panggil ke rumah ngga?" tanya Rehan.
"Ada kak, kalau begitu aku panggilkan dokter dulu, kakak tungguin kak Ronald ya." ucap Risma.
"Ya sudah, cepetan Ris." jawab Rehan.
"Makanya jadi cowok itu yang gentle, kalau memang suka bilang saja, jangan sok-sok an ngga perduli yang akhir nya kamu sendiri yang sengsara." gumam Rehan.
Tidak berapa lama Risma pergi terdengar suara pintu di ketuk oleh seseorang.
"Cepat sekali dokter nya datang." gumam Rehan sambil pergi dan membuka pintu.
Rehan membuka pintunya terlihat seorang wanita yang sedang membelakangi dirinya.
"Maaf, cari siapa ya mbak?" tanya Rehan dengan sopan.
"Maaf apa benar ini rumah nya?" wanita itu menggantung kalimat nya ketika melihat sosok yang dia cari dari tadi ada di depan mata nya.
"Mas Rehan." teriak Cindy sambil langsung memeluk Rehan.
"Sayang, kamu cepat sekali datang nya? Jam berapa kamu dari sana?"tanya Rehan sambil memeluk Cindy tunangan nya.
"Pagi buta aku pergi kesini mas, aku beberapa kali bertanya sama orang-orang alamat rumah ini." jawab Cindy lalu melepaskan pelukan nya.
"Kamu sama siapa kesini?" tanya Rehan sambil melihat ke arah jalanan.
"Aku diantar sopir papah mas, tapi dia sudah ku suruh balik lagi tadi, soalnya papah butuh dia siang ini." jawab Cindy.
"Ya sudah ayo masuk, kerjaan kamu gimana?" tanya Rehan sambil memeluk bahu Cindy dari samping.
"Aku sudah kerjakan semua nya sampai lembur demi menyusul kamu kesini, jadi nanti masuk sekalian hari senin." jawab Cindy.
"Berarti kita bisa jalan-jalan dulu sekitaran sini." ucap Rehan.
"Ayo dok, silahkan masuk." ajak Risma sambil membuka pintu.
Rehan dan Cindy yang sedang duduk di ruang tamu pun menoleh ke arah Risma dan dokter yang baru masuk.
__ADS_1