
"Ayah ikut kan ke rumah nenek?" tanya Zidan sambil berjalan menggenggam erat tangan Randi.
Kini mereka sudah turun dari kereta dan masih berada di statsiun kereta.
"Kalu ibu kamu mengizinkan, ayah akan ikut." jawab Randi sambil melirik ke arah Rena.
"Om Randi nya kan capek sayang, kan dari rumah nenek ke rumah om Randi lumayan jauh." ucap Rena.
"Ngga apa-apa aku ngga akan capek kok kalau cuma ngantar kalian berdua, oh iya bagai mana kalau kita makan dulu, kamu lapar kan boy?" tanya Randi.
"Iya ayah, aku lapar." jawab Zidan.
"Ya sudah kalau begitu kita makan dulu di sana ya." ajak Randi sambil menunjuk sebuah cafe yang ada di sebertang statsion.
Zidan pun sangat bahagia sekali bisa makan bareng Randi, serasa dia mempunyai keluarga yang utuh.
"Pesan apa yang kamu mau, biar ayah yang bayar, ayo mbak pesan saja." ucap Randi.
"Mas, panggil aku Rena saja, aku berasa udah tua kalau di panggil mbak." protes Rena.
"Kenapa ngga sayang saja sih, kenapa harus Rena." Randi pun menggoda Rena.
Selama jadi duda kurang lebih lima tahunan, Randi belum pernah gombalin perempuan, tapi begitu ketemu Rena gombalan dan rayuan itu kembali muncul di pikiran nya, dan Randi berharap Rena adalah perempuan yang akan menemani nya hingga tua nanti, walaupun Randi tahu masa lalu Rena yang sering gonta ganti laki-laki, tapi dia juga sadar kalau diri nya dulu juga sering gonta ganti wanita, jadi apa salah nya mereka saling mengerti dan taubat bersama-sama.
"Ngga ah, nanti tiba-tiba ada perempuan yang marah-marah sambil mengguyur tubuh ku dengan jus ini." ucap Rena sambil menyentuh jus yang dia pesan.
"Ngga lah, mana ada, ngaco kamu ini." ucap Randi sambil tertawa.
*
*
"Benaran mah, kalau mamah sedang hamil?" tanya Azzam.
"Belum tahu sayang, ini cuma parduga dari aunty saja." jawab Alina.
"Ya kirain benar." ucap Azzam dengan wajah sedih nya.
"Sabar ya sayang, kamu terus saja ber do\*a agar mamah cepat hanil lagi." ucap Alina sambil mengelus puncak kepala Azzam.
"Ini dia yang mas tunggu-tunggu dari tadi." ucap Gilang sambil membawa piring yang berisi rujak ke dalam mobil.
Tanpa basa basi Gilang pun mulai mencicipi rujak yang dia ingin kan sejak tadi.
Semua yang ada di mobil melongo melhat Gilang yang begitu lahap nya makan rujak tanpa kepedasan dan tanpa ada nya rasa asam.
"Enak nya kak?" tanya Dhea sambil menelan saliva nya.
__ADS_1
"Enak banget, segar, mau ngga?" jawab Gilang sambil menyodorkan piring yang berisi rujak dengan rasa super pedas itu.
"Sini aku mau mas." ucap Alina sambil meraih sendok dari Gilang.
"Mas, kamu ini apa-apa an sih, ini terlalu pedas, buang ngga, nanti kamu sakit perut mas." teriak Alina lalu meraih minum karena kepedasan.
"Pedas banget ya kak?" tanya Dhea sambil menatap Alina.\`
"Cobain aja dek." jawab Alina sambil menahan rasa pedas di mulut nya.
"Ngga, ini biasa aja ngga pedas." jawab Gilang sambil terus melahap rujak nya hingga mau habis.
"Sejak kapan papah suka makan pedas? Itu coba lihat bang, cabai nya saja sampai banyak gitu, ih nanti perut nya sakit lo pah." ucap Azzura sambil bergidik.
"Mas udah mas, nanti kamu sakit perut, adek saja sampai bergidik gitu lihat cabai nya." ucap Alina sedikit khawatir.
"Biarin saja kak, dulu juga makan mangga muda yang rasa nya asam banget kakak ngga kenapa-napa." ucap Dhea.
"Gila ya lo serem amat ngidam nya." ucap Glen.
"Ngidam?" gumam Gilang sambil menghentikan makan rujak nya.
"Ya seperti nya lo ngidam deh." ucap Gilang.
"Ngga tahu mas, kan belum di periksa." jawab Alina.
"Kalau gitu sekarang kita periksa." ucap Gilang dengan penuh semangat.
"Pak, ini saya sudah selesai." teriak Gilang memanggil tukang rujak.
Bapak tukang rujak pun menghampiri mobil Glang.
"Berapa pak?" tanya Gilang sambil mengambil dompet yang ada di saku celana belakang nya.
"Dua puluh lima ribu tuan." jawab si bapak.
"Ya sudah ini, kembalian nya ambil saja buat bapak." ucap Gilang smabil memberikan uang ratusan satu lembar.
"Ini kebayakan tuan." ucap si bapak sambil menatap uang yang di berikan Gilang kepada nya.
"Ngga apa-apa pak, ambil saja." ucap Gilang sambil menyalakan mobil nya.
"Makasih tuan, makasih banyak, semoga tuan sehat selalu sekeluarga, hati-hati tuan." ucap si bapak tukang rujak dengan penuh haru sambil menatap mobil Gilang yang sudah berlalu dari hadapan nya.
__ADS_1
"Kita langsung ke dokter ya Yang, biar jelas." ucap Gilang sambil terus mengemudi.
"Tidak, kita ke rumah nya mbak Rena dulu." ucap Alina.
"Mau apa sih Yang ke rumah nya dia, sudah lah lupakan saja, anggap dia tidak pernah hadir dalam kehidupan ini." ucap Gilang.
"Iya kakak ipar sudahlah, jangan lah kita mengenal wanita seperti dia lagi." ucap Dhea.
"Aunty kenal sama tante menor itu?" tanya Azzura.
"Tante menor? Siapa tante menor?" Dhea pun balik bertanya kepada Azzura.
"Iya itu tante Rena maksud adek." ucap Azzam.
"Aduh, kamu ini ada-ada saja sih sayang, pakai acara manggil nya tante menor segala." ucap Dhea sambil tertawa.
"Tidak, aku cuma ingin melihat kodisi nya, bukan aku ingin menertawakan dia, tapi aku ingin membantu nya, se nnga nya sebagai rasa kemanusiaan." jawab Alina.
"Kakak ipar ini memang dari dulu baik dan ngga milih-milih untuk berteman, cuma satu yang kakak ipar ini benci." ucap Dhea.
"Kebohongan." teriak Azzam dan Azzura bersamaan membuat mereka semua tertawa.
"Nah, si kembar saja tahu? Jadi kalian jangan coba-coba untuk berbohong sama mamah kalian ya? Nanti mamah kalian meninggalkan kalian seperti papah kalian dulu." ucap Glen.
"Memang nya papah pernah di tinggalin mamah?" tanya Azzam.
"Tanya saja sendiri ke papah kalian." jawab Glen dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Gilang.
"Papah, itu rumah tante menor." teriak Azzura yang masih mengenali rumah kontralkan Rena.
"Itu ya sayang." ucap Gilang sambil menghentikan mobil nya.
"Aku turun dulu ya? Kalian mau ikut atau tunggu di sini?" tanya Alina sambil membuka pintu mobil.
"Kita di tunggu di sini saja, males ketemu dengan nya." jawab Dhea.
"Ya sudah kalau gitu aku kesitu dulu ya." ucap Alina lalu berlalu menghampiri rumah kontrakan Rena.
"Cari siapa mbak?" tanya seorang ibu-ibu yang ternyata adalah pemilik kontrakan.
"Saya cari mbak Rena? Apa benar ini rumah nya?" ucap Alina dengan sopan.
"Iya benar, tapi Rena nya sudah keluar dari kontrakan ini tadi pagi, katanya mau menetap di kampung halaman nya." ucap si ibu.
__ADS_1
"Jadi mbak Rena sudah pergi." gumam Alina.