Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Uang Saku


__ADS_3

"Siapa mereka kak?" tanya Dhea sambil menatap ke arah Risma dan Nazwa yang sedang berjalan meninggalkan mini market Ronald.



"Mereka orang sini juga, udah ngga usah di pikirkan, ayo ambil saja apa yang kamu mau dan kamu butuhkan." ucap Ronald.



"Jangan bilang itu perempuan menyukai kamu bang, dan dia cemburu karena melihat aku sama abang." ucap Dhea.



"Entahlah abang ngga tahu." jawab Ronald santai.



"Bang, aku kasih tahu ya? Perempuan tadi itu suka sama abang, abang harus nya peka dong, dan juga kelihatan nya perempuan tadi perempuan baik-baik deh bang." ucap Dhea.



"Sudahlah dek, jangan di pikirkan, ngga penting juga, biarkan saja lah." ucap Ronald.



"Sekarang kamu bilang gitu bang, tapi kalau kamu melihat dia jalan bareng laki-laki lain, aku yakin kamu akan menyesal." ucap Dhea.



"Dek, jadi ngambil cemilan apa kita pulang." ancam Ronald, sengaja Ronald mengancam Dhea agar Dhea berhenti membahas Nazwa.



"Iya bang, aku jadi merampok isi mini market abang." jawab Dhea sambil berlalu dan mengambil apa yang dia butuh kan.


*


*


"Kenapa kak Ronald ngga pernah mau melihat aku sedikit saja Ris, kenapa!" teriak Nazwa yang kini sudah ada di taman ngga jauh dari mini market.


Risma pun memeluk Nazwa yang sedang menangis dan menenangkan nya lewat sentuhan di punggung nya.



"Aku itu tulus mencintai dia, tapi kenapa dia ngga mau melihat aku walaupun sedikit saja." ucap Nazwa di sela-sela tangisan nya.



"Mungkin dia ngga tahu kalau kamu mencintai nya Wa." jawab Risma.



"Apa perlu aku yang mengunggkapkan nya duluan? Apa perlu aku mempermalukan diri aku sendiri di depan dia Ris, seharus nya dia peka." teriak Nazwa sambil melepaskan pelukan nya.



Risma hanya bisa terdiam, karena dia juga bingung apa yang harus dilakukan nya, karena memang Nazwa mencintai Ronald dalam diam.



Nazwa terus menangis dan meluapkan kemarahan nya, sampai dia benar-benar sudah tenang.



"Aku punya ide, aku yakin dengan ide aku ini bisa menjawab isi hati kak Ronald." ucap Risma.



"Jangan ngasih ide gila kamu ya." ucap Nazwa sambil menghapus air mata nya.



"Tenang ide aku masih dalam tahap wajar kok, sini aku bisikin." jawab Risma.



Nazwa pun mendekatkan telinganya ke bibir Risma, lalu Risma membisik kan sesuatu kepada Nazwa.


__ADS_1


"Bagaimana? Kamu mau kan?" tanya Risma.



"Ngga ah, nanti aku yang malu sendiri kalau kak Ronald nya cuekin aku." jawab Nazwa.



"Kamu mau tahu ngga isi hati nya kak Ronald, kalau kamu mau tahu kamu ikuti saran aku." jawab Risma.



Nazwa pun berpikir sebentar, lalu menatap ke arah Risma sahabat nya.



"Baiklah aku akan mencoba nya." jawab Nazwa.



"Nah gitu dong, ya sudah ayo kita pulang, sudah malam." ajak Risma sambil berdiri.


*


*


keesokan hari nya Alina disibukan dengan kedua anak kembar nya.


"Kak, kita ngga bisa bantu jaga si kembar ya? Soalnya kita mau berangkat sekolah." ucap Nura yang sudah siap dengan seragam, nya.



"Iya ngga apa-apa dek, kalian pergi sekolah saja, kemarin kan ngga masuk." jawab Alina sambil menyusui baby Azzam.



"Kak, mulai sekarang kita ngga akan minta uang saku sama kakak lagi, jadi kakak fokus ngurus si kembar junior saja."ucap Nuri.



"Lo, kok tumben, memang nya kalian punya uang dari mana?" tanya Alina heran.




"Kalian? Kapan kalian di kasih kartu ATM sama mas Gilang?" tanya Alina.



"Kemarin, pas kakak lagi di dalam kamar kak Gilang nyuruh buatkan kita kartu ATM lewat teman kak Ronald, terus kak Gilang bilang nanti perbulan nya dia mau transfer masing-masing lima juta khusus untuk uang saku, tapi dengan catatan ngga boleh minta sama kakak atau sama bapak dan ibu." ucap Nura.



"Kalian langsung menerima nya gitu?" tanya Alina yang ngga enak dengan Gilang dan keluarga nya.



"Awal nya kita menolak kak, tapi kaka Gilang memaksa nya, jadi ya kita terima saja." jawab Nuri.



"Ya sudah, itu sudah rezeki kalian, tapi ingat, gunakan uang itu untuk keperluan kalian, kalian jangan menghambur-hamburkan nya, kalian harus buktikan kalau kita ngga ada niatan untuk memeras keluarga mas Gilang." ucap Alina.



"Iya kak, kita akan selalu ingat apa yang kakak, ibu dan bapak pesan ke kita berdua." jawab Nura dan Nuri bersamaan.



"Ya sudah, kalian segera berangkat, nanti kalian terlambat." ucap Alina sambil menidurkan baby Azzam.



"Kita berangkat ya kak." ucap Nura dan Nuri sambil mencium telapak tangan Alina, lalu mereka mencium kedua bayi kembar junior nya.


*


*

__ADS_1


"Om, Tante, saya hari ini mau menemui penghulu yang sekaligus seorang ustzad di daerah sini, apa om mau ikut? Biar kita tahu penjelasan nya untuk izab kabul nanti." ucap Ronald.


"Boleh juga, sekalian om ingin melihat-lihat daerah sini." jawab pak Surya.



"Pah kantor gimana?" tanya Gilang.



"Papah sudah menyuruh Glen untuk menghandle semua nya." jawab pak Surya.



"Oh bagus lah kalau begitu." jawab Gilang.



"Bagus buat kakak, ngga buat aku." ucap Dhea.



"Lo kok bisa gitu?" tanya Gilang sambil menatap ke arah Dhea.



"Bang Glen sekarang marah sama aku, karena aku ngga bilang-bilang sama dia kalau aku pergi, terus dia cemburu karena pas nelepon kemarin mendengar suara kakak, dan dia mengira kalau aku sedang jalan bareng cowok lain." jawab Dhea.



"Ya kamu jelasin dong ke dia." ucap Gilang.



"Sudah bang, tapi tetap saja dia ngga percaya." jawab Dhea.



"Terus sekarang gimana?' tanya Gilag kembali.



"Aku biarkan saja lah, nanti kalau kita sudah balik, aku akan meceritakan semuanya, kalau sekarang percuma cerita juga ngga bakal di dengar nya." jawab Dhea.



"Ya sudah kalau gitu, sekalian saja kamu bikin dia panas hati nya biar tahu rasa." ucap Gilang sambil tersenyum.



"Sudah kamu jangan memperkeruh suasana kak, kalian mau ke rumah nya Alina dulu kan?" tanya bu Dewi.



"Iya, kita kan mau jemput bapak nya Alina dulu." jawab Ronald.



"Kalau begitu mamah ikut, mamah mau main sama si kembar seharian ini." jawab bu Dewi.



"Aku juga ikut mah, aku juga mau main sama si kembar." ucap Dhea.



"Kamu jangan bicara macam-macam sama Alina ya dek, jangan buat dia cemburu." ucap Gilang.



"Bukan nya yang selalu cemburu itu kamu ya Lang?" tanya Ronald sambil tersenyum.



"Apa sih lo." ucap Gilang sambil melempar Ronald dengan tisu.



"Sudah, sudah, ayo kita berangkat." ajak pak Surya sambil berdiri

__ADS_1


__ADS_2