
Sore hari semua nya sudah pada segar, karena sudah istirahat dan sudah pada mandi.
"Kak, si kembar udah di kasih nama belum sih?" tanya Nura sambil tiduran di samping si kembar.
"Sudah dek, yang tampan ini Azzam dan yang cantik dan imut ini Azzura." jawab Alina sambil menyusui Azzura.
"Wah nama yang bagus kak." ucap Nuri.
Ya, Nura dan Nuri kini sedang berada di kamar Alina menemani si kembar.
"Boleh aku masuk." ucap Dhea sambil mengetuk pintu.
"Masuk aja dek, ngga di kunci kok." teriak Alina.
"Lagi pada ngapain nih?" tanya Dhea sambil berjalan menghampiri mereka.
"Lagi ngobrol aja kak." jawab Nura sambil bangun dari rebahan nya.
"Kalian sudah cantik-cantik, pada mau kemana?" tanya Dhea.
"Ngga kemana-mana kok kak, kita mau ajak main Azzam dan Azzura aja." jawab Nuri.
"Kalian kelas berapa?" tanya Dhea.
"Kita kelas sebelas kak." jawab Nura dan Nuri bersamaan.
"Berarti satu tahun lagi selesai ya? Mau lanjut kuliah apa langsung kerja?" tanya Dhea.
"Kita kerja aja kak, soalnya kan kalau kak Alina sudah menikah pasti di bawa sama suami nya, jadi kasihan bapak dan ibu harus menyiapkan biaya buat kuliah, apalagi kuliah kan mahal." jawab Nura.
"Begitu baik nya kalian ini memikirkan kedua orang tua di banding ego dan ambisi kalian, kalian rela memutus pendidikan dan rela bekerja untuk meringankan beban kedua orang tua kalian, gimana kalau kalian lanjut kuliah sampai selesai, biar kakak yang kasih biaya kuliah nya?" tanya Dhea sambil menatap Nura dan Nuri.
__ADS_1
Alina diam saja tidak ikut berkomentar, dia ingin tahu jawaban apa yang akan diberikan kedua adik nya itu.
"Makasih kak atas tawaran nya, tapi kita mau bekerja aja, nanti kalau kita ada uang hasil dari kerja, kita akan lanjut kuliah dengan hasil jerih payah kita sendiri." jawab Nura.
"Tapi itu juga kalau belum ada yang lamar kak, kalau udah ada yang lamar lain lagi cerita nya." ucap Nuri.
Alina dan Dhea pun tersenyum mendengar jawaban dari si kembar.
"Aku kagum dengan cara berpikir mereka, mereka tidak memanfaatkan orang lain, dan mereka rela bekerja hanya untuk meringankan beban kedua orang tua nya." gumam bathin Dhea.
"Kalau begitu, mau ngga setelah lulus kalian kerja sama kakak?" tanya Dhea.
"Mereka mau kerja apa dek? Mereka kan hanya lulus SMA." tanya Alina.
"Tenang saja kakak ipar, adik ipar cantik mu ini ada rencana mau buka toko kosmetik, dan nanti kalian berdua yang akan mengelola nya, gimana?" tanya Dhea sambil tersenyum.
"Oke deal ya?" ucap Dhea sambil mengangkat tangan nya.
"Oke, deal kak." jawab mereka berdua sambil mencium telapak tangan Dhea.
"Tapi nilai ujian kalian harus bagus, kalau jelek kakak ngga menerima kalian." ucap Dhea bercanda.
"Siap bos." jawab mereka berdua sambil mengangkat tangan nya seperti hormat kepada bendera.
Dhea dan Alina pun tersenyum melihat kelakuan Nura dan Nuri.
"Kakak titip si kembar ya, mau mandi gerah." ucap Alina sambil merebahkan si kembar di stroller.
"Kita bawa ke depan ya kak." ucap Nura.
__ADS_1
"Iya, tapi hati-hati ya?" jawab Alina.
Nura dan Nuri pun membawa si kembar ke ruang tengah, dimana di situ ada ayah dan kakek nya.
{Lucu ya bestie si kembar di asuh oleh si kembar juga}
"Kak, kakak sudah benar-benar memaafkan kak Gilang kan?" tanya Dhea.
"Kalau memaafkan, kakak sudah memaafkan nya, tapi kakak masih belum tahu kenapa dia sampai melakukan itu pada kakak." ucap Alina.
"Itu berawal dari seorang wanita yang sangat kak Gilang cintai waktu itu, tapi ternyata wanita itu hanya memanfaatkan kekayaan kakak saja dan berselingkuh dengan kak Ronald di depan mata kak Gilang sendiri." ucap Dhea.
"Jadi dulu kak Ronald sama mas Gilang itu sahabatan ya?" tanya Alina.
"Ya, mereka itu bersahabat dari zaman mereka masih sekolah dulu, dan hancur persahabatan mereka karena seorang wanita." jawab Dhea.
"Terus kenapa mas Gilang bisa menjadi OB di perusahaan nya sendiri?" tanya Alina yang penasaran.
"Papah dari dulu tidak pernah melibatkan anak-anak nya dalam dunia bisnis, bahkan papah tidak mengenalkan kami sebagai anak kandung nya, maka dari itu banyak orang yang tidak mengetahui kalau aku dan kakak adalah anak papah, yang mengenal kami anak papah hanya segelintir orang saja, kak Gilang memilih merintis bisnis di Luar Negeri bersama kak Ronald, dan wanita yang bernama Rena itu mengikuti nya dan tinggal di sana, apapun yang di minta Rena kak Gilang memberikan nya hingga suatu saat kak Gilang memergoki mereka sedang bercinta di apartemen yang kak GIlang beli untuk Rena, nah dari situ kakak marah dan kecewa pada kak Ronald." Dhea berhenti sebentar sambil mengatur nafas nya.
"Kak Gilang pun memutuskan pulang ke Indonesia dan ingin mencari wanita yang benar-benar menerima dia apa adanya bukan yang ada apa nya, bang Glen menyuruh kakak untuk bekerja menjadi OB di perusahaan nya sendiri hanya untuk mencari wanita yang benar-benar tulus menerima dia dan sekalian untuk melihat siapa saja yang sudah berbuat curang di perusahaan." Dhea pun melanjutkan cerita nya.
"Hingga kakak bertemu dengan kakak ipar, kak Gilang sangat bahagia sekali karena kakak menerima dia walau pun dia hanya seorang OB, tapi malam itu setelah kita dari puncak, kita ke rumah kakak ipar untuk membicarakan pernikahan, tapi apa yang kita dapatkan? rumah kakak sudah kosong, dan dari situ lah kak Gilang langsung berubah, tidak ada senyuman yang menghias bibir nya, dia lebih irit bicara dan terkesan dingin." ucap Dhea.
"Kakak sedikit berubah kembali ketika dia selalu meminta yang aneh-aneh dan di luar nalar, sampai kemarin malam dia ngeluh sakit perut dan melupakan sakit nya setelah mendengar keberadaan kakak di rumah sakit, kakak tahu ngga aku sampai lemas dibuat kak Gilang." ucap Dhea.
"Memang nya apa yang telah di lakukan mas Gilang sama kamu?" tanya Alina penasaran.
"Kakak menjalankan mobil nya melebihi seorang pembalap, yang seharusnya di tempuh tiga jam, dua jam kurang kita sudah sampai di depan rumah sakit." jawab Dhea.
__ADS_1
"Ya ampu, untung kalian ngga kenapa-napa, maafkan kakak ya dek? waktu itu kakak merasa kecewa dan marah sama mas Gilang, jadi kakak ngga mau meminta penjelasan dulu, yang ada di pikiran kakak hanya ingin pergi menjauh dari mas Gilang yang sudah tega membohongi kakak." ucap Alina sambil menggenggam erat tangan Dhea.