Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Melamar


__ADS_3

Kini mereka sudah kumpul di ruangan sederhana, Nura dan Nuri memilih untuk pergi ke kamar sambil membawa bayi Azzam dan Azzura, karena mereka tahu kalau keluarga mereka mau membicarakan hal yang serius.



"Pak, bu, maaf kan atas sikap saya kemarin, sikap saya yang mungkin menurut keluarga ibu keterlaluan, yang sudah pergi begitu saja tanpa mendengarkan sebuah penjelasan dulu." ucap Alina.



"Ibu mengerti nak, mungkin kamu kecewa dengan sikap Gilang, tapi sebenar nya Gilang ngga bermaksud untuk mempermainkan kamu, dia cuma belajar dari pengalaman nya saja." jawab bu Dewi sambil tersenyum.



"Alhamdulilah, ternyata keluarga mas Gilang baik dan mau menerima aku yang dari keluarga biasa saja." gumam bathin Alina.



"Begini nak, sebenar nya dari awal kami tahu kalau Gilang menyukai kamu dan sudah melakukan hal yang di luar batas, maka kami ingin langsung melamar kamu waktu itu, tapi kamu dan keluarga kamu sudah menghilang, jadi kami mengurung kan kembali niat kami." ucap pak Surya.



"Maaf kan saya pak, setelah saya mendengar semuanya siang itu. Saya kecewa terhadap mas Gilang, dan juga saya merasa rendah untuk berdampingan dengan mas Gilang karena status kami tidak sederajat dengan keluarga mas Gilang." ucap Alina jujur.



"Nak, dengarkan papah, kami sekeluarga tidak pernah memandang orang dari status sosial atau dari lain nya, yang penting bagi kami orang itu baik, jujur dan saling mencintai itu sudah cukup bagi keluarga kami, jadi kamu jangan sesekali merasa rendah di hadapan kami." jawab pak Surya sambil tersenyum, dia sangat mengerti sekali dengan alsan Alina.



Pak Abidin dan bu Diah yang mendengar penuturan dari pak Surya tersenyum dan bernafas lega.



"Nak, sekalian kami sudah berada di sini, jika tidak keberatan kami selaku orang tua nya Gilang ingin melamar kamu sebagai menantu di keluarga Saputra, apa kamu mau menjadi menantu saya?" tanya bu Dewi sambil menatap ke arah Alina.



"Mah, jadi mamah langsung melamar Alina buat Gilang?" tanya Gilang tak percaya.



"Iya nak, karena mamah tahu kalau kamu sangat mencintai Alina, dari semua perubahan sikap kamu selama di tinggalkan Alina." jawab bu Dewi.



"Makasih ya mah." ucap Gilang sambil mencium telapak tangan bu Dewi dengan senyuman yang mengembang.



"Jangan bahagia dulu kak, kakak ipar nya juga belum menerima lamaran nya kok." ucap Dhea.



Hilang langsung senyuman Gilang di bibir nya sambil melepas kan tangan ibu nya Gilang kembali duduk dengan hati yang berdegub kencang karena takut Alina menolak nya.



Alina dan orang tua nya tersenyum mendengar Dhea menggoda kakak nya.

__ADS_1



"Maaf kalau acara lamaran nya mendadak seperti ini, ini di ibarat kan sambil menyelam minum air." ucap pak Surya.



"Ngga apa-apa pak, kami juga minta maaf karena kami ngga menyambut dengan baik keluarga bapak." jawab pak Abidin.



"Sudah lebih dari cukup ini juga, apalagi kami langsung di sambut dengan kedua cucu kami." jawab pak Surya.



"Jadi bagaimana nak? Apa kamu menerima lamaran kami ini?" tanya bu Dewi.



Alina menatap ke arah orang tua nya, seakan-akan meminta persetujuan dari mereka.



"Terserah kamu nak, bapak dan ibu tidak akan memaksa kamu, karena kamu yang akan menjalani kehidupan rumah tangga kedepan nya." jawab pak Abidin yang tahu akan tatapan anak nya.



Alina pun kembali menatap kedua orang tua Gilang dan Gilang, terlihat dari wajah mereka yang sedang menunggu jawaban dari nya.



"Saya terima lamaran ini tapi dengan syarat tidak ada lagi kebohongan apapun dari mas Gilang, seandainya mas Gilang melakukan kebohongan lagi, maka saya akan pergi dari mas Gilang dan ngga akan pernah memaafkan nya, karena saya memang benci dengan kebohongan." jawab Alina tegas.




"Alhamdulilah, jadi nak Alina menerima lamaran ini, dan ini ada sedikit dari kami sebagai tanda telah mengikat nak Alina dengan anak kami Gilang." ucap bu Dewi sambil tersenyum.



"Kenapa ngga langsung menikah saja sih, kan mumpung sudah ada di sini, daripada nunggu nanti." ucap Dhea memberikan saran.



"Mengadakan resepsi pernikahan itu butuh waktu sayang, tidak mudah seperti membalikan tangan, kita harus menyiapkan dari gedung, catring, undangan dan lain sebagainya." jawab bu Dewi.



"Maksud Dhea mereka menikah di depan penghulu dulu mah, nanti setelah kakak ipar sudah benar-benar sehat dari pasca melahirkan baru adakan resepsi nya." ucap Dhea.



"Betul juga ide kamu dek." ucap Gilang sambil tersenyum.



"Ya sudah, bagaimana menurut bapak dan ibu jika seandainya mereka menikah di depan penghulu dulu, nanti tiga bulan lagi kita adakan resepsi." ucap pak Sirya yang menyetujui ide dari Dhea.

__ADS_1



"Kalau kami bagaimana Alina saja, tapi kalau untuk resepsi apa tidak terlalu cepat? Soalnya kami juga harus mnyiapkan semuanya." jawab pak Abidin yang secara tidak langsung mengatakan kalau dirinya belum ada uang untuk mengadakan resepsi, apalagi ini menikah dengan orang kaya, berarti resepsi nya harus besar-besar ran, dan pasti nya membutuhkan dana yang sangat besar juga.



"Bapak sekeluarga tenang saja, semua biaya resepsi pernikahan mereka kami yang tanggung." jawab pak Surya yang paham dengan penuturan dari pak Abidin.



"Tapi pak," ucap pak Abidin yang merasa ngga enak.



"Ngga ada tapi-tapi an, pokok nya besok menikah dan tiga bulan lagi kita adakan resepsi." ucap pak Surya.



"Kalau begitu kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena keluarga bapak sudah mau menjadikan anak kami menjadi bagian keluarga besar bapak." ucap pak Abidin.



"Bagaimana nak? Kamu siap menikah besok?" tanya pak Abidin sambil menatap Alina.



Semua nya menatap ke arah Alina dan menunggu jawaban dari nya, hati Gilang berdegub dikala menunggu jawaban dari Alina.



"Iya saya siap besok untuk menikah dengan mas Gilang." jawab Alina sambil menunduk malu.



"Alhamdulilah." jawab mereka serempak.



"Tapi kan harus ada mas kawin nya mah, Gilang kan ngga bawa apa-apa." ucap Gilang.



"Kamu tenang saja, kamu cukup jadi pengantin duduk manis bersama Alina, ini mamah sudah siapkan untuk mas kawin besok." ucap bu Dewi sambil mengeluarkan seperangkat perhiasan yang berjumlah puluhan juta itu dan menyimpan nya di atas meja.



"Ah, ternyata mamah sangat mengerti dengan anak nya." ucap Gilang yang merasa bahagia dan langsung memeluk dan mencium pipi ibu nya.



"Ada mau nya saja meluk-meluk, kemarin kemana aja." ucap Dhea.



"Dek, sudah jangan menggoda kakak kamu." ucap bu Diah.


__ADS_1


Pak Abidin dan bu Diah sangat bahagia sekali melihat anak nya ada yang melamar, bukan hanya kaya tapi calon mertua Alina baik dan tidak sombong.


__ADS_2