
"Wa, kamu tahu ngga? Semalam aku melihat kak Ronald keluar dari rumah nya yang diujung sana." ucap Risma sambil menunjuk arah rumah Alina.
"Habis ngapain kak Ronald dari sana? Oh mungkin kak Ronald ada keperluan saja." jawab Nazwa.
"Sudah lama ya, kita ngga mampir ke mini market nya kak Ronald." ucap Risma.
"La, kamu nya pergi kelamaan jadi aku ngga ada teman untuk mampir ke mini market nya." jawab Nazwa.
"Jadi selama aku pergi kamu ngga main dan belanja ke mini market nya kak Ronald? Tanya Risma.
"Ngga, cuman satu kali aja, waktu itu aku kangen kak Ronald lalu menemui nya di mini market." jawab Nazwa.
"Kalau begitu sekarang kita ke mini market yuk?" ajak Risma.
"Ya sudah ayo, sekalian aku mau beli cokelat." jawab Nazwa.
"Mau beli cokelat apa mau ketemu kak Ronald?" goda Risma sambil tersenyum.
"Beli cokelat lah, tapi sekalian ketemu juga sih." jawab Nazwa sambil tertawa.
Mereka berdua pun melangkah menuju mini market nya Ronald.
*
*
"Kamu pusing ngga?" Tanya Ronald yang kini berada di samping nya Alina.
Ngga kak alhamdulilah mereka mengerti, kalau ibu nya lagi kerja." jawab Alina pelan.
"Kalau kamu pusing, kamu istirahat saja, jangan di paksakan." ucap Ronald.
"Iya kak, tenang saja." jawab Alina sambil melayani pembeli.
Semua karyawan mini market sudah merasakan kalau bos mereka menyukai Alina, mereka selalu melihat perhatian Ronald yang lebih kepada Alina.
Tapi mereka tidak mau ikut campur, karena mereka takut di pecat oleh Ronald, sedang kan mereka masih membutuh kan pekerjaan.
Karena hari ini mini market nya sangat ramai, Alina merasa kewalahan dan merasakan sedikit pusing.
__ADS_1
Begitu Alina selesai melayani konsumen yang terakhir di antrian tubuh nya sedikit oleng dan mau terjatuh, tapi untung Ronald yang berada di samping nya sigap menahan tubuh Alina agar tidak terjatuh ke lantai.
Bersamaan dengan jatuh nya tubuh Alina ke tubuh Ronald, masuk lah Nazwa dan Risma ke dalam mini market.
"Kak Ronald." gumam Nazwa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Wa, kak Ronald mu." gumam Risma sambil merengkuh bahu Nazwa.
"Kamu ngga apa-apa? Ya sudah kamu istirahat saja." ucap Ronald yang tidak menyadari kehadiran Nazwa dan Risma.
"Raya tolong gantikan Alina." teriak Ronald sambil memapah Alina masuk ke dalam ruangan istirahat.
"Baik pak." jawab Raya lalu berdiri di bagian kasir yang selalu di tempati Alina.
"Dia siapa Wa?" tanya Risma.
"Ngga tahu, tapi kok aku merasa pernah melihat nya ya? Tapi dimana ya?" gumam Nazwa.
Risma dan Nazwa pun mengambil apa yang akan mereka beli, lalu pergi ke kasir.
"Mbak, maaf mau tanya, itu perempuan tadi siapa? Seperti nya dekat sekali dengan pak Ronald?" tanya Risma sambil memberikan belanjaan nya agar di hitung.
"Oh itu Alina, pekerja di sini juga." jawab Raya sambil menghitung belanjaan Risma.
"Tapi kok mereka kayak deket, kayak ada hubungan gitu?" Risma kembali bertanya.
"Kalau untuk masalah mereka ada hubungan atau tidak saya ngga tahu pasti nya, tapi memang pak Ronald memberikan perhatian yang lebih untuk Alina." jawab Raya.
"Semua jadi seratus empat puluh delapan ribu mbak." ucap Raya.
"Oh iya ini mbak." jawab Risma sambil memberikan uang nya.
"Terima kasih ya mbak sudah mampir." ucap Raya dengan ramah sambil memberikan barang belanjaan Risma dan Nazwa.
__ADS_1
Risma hanya tersenyum sambil mengangguk lalu menarik tangan Nazwa untuk pergi keluar.
"Kita duduk di sini saja dulu, sambil kita lihat mereka keluar dari sana." ajak Risma sambil duduk di kursi yang ada di depan mini market itu.
Risma dan Nazwa pun duduk sambil menikmati cokelat yang mereka beli.
"Oh iya sekarang aku ingat, dia kan wanita yang waktu itu sedang berjalan, terus kak Ronald menghampiri nya." ucap Nazwa.
Dari tadi Nazwa diam saja, karena memikir kan dimana dia melihat Alina.
"Wah gawat Wa, kalau kak Ronald menyukai dia, terus kamu? Makanya aku bilang juga apa? Kamu harus menyatakan perasaan kamu pada kak Ronald." ucap Risma.
Nazwa hanya diam sambil menikmati cokelat kesukaan nya, dia bingung harus bagaimana, kalau dia jujur dengan perasaan nya takut dia malah jauh dengan Ronald, tapi kalau ngga jujur dia takut Ronald menyukai wanita lain, apalagi tadi Nazwa melihat dengan jelas kalau Ronald sempat memeluk seorang wanita, dan itu karyawan nya sendiri.
"Entahlah Ris, aku bingung harus bagaimana." ucap Nazwa sambil menatap pintu masuk mini market.
Risma hanya memandang ke arah sahabat nya itu, dia merasa kasihan dengan Nazwa, baru kali ini menyukai seorang laki-laki, dan belum juga mengungkap kan nya harus terima kenyataan kalau Ronald menyukai wanita lain.
*
*
"Ini kamu minum air hangat dulu, biar ngga terlalu pusing." ucap Ronald sambil memberikan segelas air hangat.
"Makasih kak, tapi aku ingin makan pedes kayak nya seger deh." jawab Alina sambil mengambil gelas yang di berikan Ronald.
"Kamu mau apa? Mau rujak?" tanya Ronald sambil tersenyum.
Alina yang telah menghabiskan segelas air putih hangat pun mengangguk.
"Ya sudah, kamu tunggu di sini aku belikan ke depan ya?" ucap Ronald sambil berdiri.
"Ngga usah kak, biar aku saja yang beli, kakak lagi sibuk." ucap Alina dan mencoba untuk berdiri.
"Ngga, kakak ngga sibuk, kamu lihat sendiri kan tadi, kamu istirahat di sini saja, biar kakak yang beli rujak nya." jawab Ronald, lalu pergi meninggalkan Alina sendirian.
"Kamu itu baik kak, tapi maaf aku ngga bisa membalas perasaan kamu, cukup aku menganggap kamu sebagai kakak ku saja, karena hati ini masih tersimpan buat mas Gilang, walaupun sampai kapan, aku juga ngga tahu." gumam bathin Alina sambil menatap punggung Ronald yang mulai menghilang di balik pintu.
__ADS_1
"Mas, kita punya anak, dan anak kita kembar, apa kamu nanti akan menganggap mereka sebagai anak kamu sendiri, atau kamu tidak akan menganggap nya karena aku telah meninggalkan kamu, aku berharap suatu saat kita bertemu kembali, seandainya suatu saat kita di pertemukan dan kamu telah mempunyai seorang istri, aku tidak akan menghalangi kamu untuk menyayangi anak-anak kita, dan aku akan dengan ikhlas melepaskan kamu hidup bahagia dengan istri kamu, aku tidak akan menikah dengan siapa pun sebelum aku melihat kamu bahagia dengan istri dan anak-anakmu." gumam bathin Alina dengan mata yang sudah berkaca-kaca sambil menyentuh perut nya.