
"Selamat jalan semua nya, aku ngga akan pernah menginjak kan kaki lagi di kota ini." gumam Rena lalu pergi meninggalkan rumah kontrak kan nya bersama Zidan anak nya.
"Rena melangkah dengan langkah pasti, dia bertekad akan melupakan masa lalu nya, dia akan mengubur dalam-dalam masa lalu nya yang sangat kelam itu.
Rena memilih transportasi kereta api, karena menurut Rena lebih irit dan nyaman.
"Bu, kalau sudah besar Zidan mau jadi masinis biar bisa bawa ibu jalan-jalan." ucap Zidan sambil melihat ke arah jendela kereta.
"Kalau gitu Zidan harus belajar dengan rajin dan jangan lupa sholat ya nak," ucap Rena.
Sungguh Rena ingin sekali menangis saat ini, ketika mendengar keinginan anak nya yang ingin ngajak dia jalan-jalan, tapi dia malu karena di depan nya ada seorang pria yang sedang duduk menghadap dirinya.
"Iya bu, Zidan akan rajin belajar, dan mulai sekarang Zidan ngga bakalan bertanya tentang ayah lagi." jawab Zidan.
Rena hanya mengangguk sambil tersenyum, dia merasa ngga enak omongan anak nya di dengan orang lain.
"Mau kemana mbak?" tanya pria yang duduk di hadapan nya Rena.
"Mau ke kampung xxxx mas." jawab Rena dengan sopan.
"Sama dong, cuma saya ke kampung sebelah nya." jawab Randi.
"Kenalkan saya Randi." ucap Randi sambil mengulurkan tangan nya.
"Rena." jawab Rena singkat, entah kenapa semenjak dia sadar dan ingin merubah hidup nya lebih baik lagi, Rena sudah ngga begitu perduli dengan laki-laki, mau dia kaya atau tidak, yang Rena pikirkan saat ini hanya dirinya sendiri dan juga Zidan anak nya.
"Wah namanya sama-sama berawalan dari hurup yang sama, jangan-jangan kita jodoh." ucap Randi menggoda Rena.
Rena hanya tersenyum tidak menanggapi gurauan dari pria yang baru di kenal nya.
"Hai boy, kamu sudah sekolah?" tanya Randi.
__ADS_1
"Udah yah, eh maaf om." jawab Zidan.
"Zidan, ngga boleh gitu." ucap Rena sambil menatap Zidan.
"Maaf bu Zidan keceplosan." jawab Zidan dengan wajah polos nya.
"Maaf ya mas, dia salah panggil." ucap Rena.
"Ngga apa-apa, kamu Zidan ya namanya?" tanya Randi.
"Iya ya eh iya om." jawab Zidan sambil menatap penuh harap pada Randi.
Entah kenapa Zidan merasakan kalau pria yang ada di hadapan nya kini adalah sosok seseorang yang baik dan Zidan berharap orang ini akan menjadi ayah nya suatu saat nanti.
"Zidan ngga usah minta maaf dan ngga usah ragu, kalau Zidan mau memanggil om dengan sebutan ayah panggil saja nak, om ngga marah kok." ucap Randi sambil mengelus puncak kepala Zidan.
Zidan ini mengingat kan diri nya kepada mendiang anak nya yang sudah meninggal akibat kecelakaan.
"Iya boleh." jawab Randi sambil tersenyum melihat raut wajah Zidan yang bahagia.
"Maaf kan tingkah anak saya mas." ucap Rena yang malu dengan sikap Zidan.
"Ngga apa-apa mbak, saya juga senang kok di panggil nya ayah, apalagi untuk selamanya." jawab Randi sambil tersenyum.
"Ya ngga mungkin mas, aku sudah ngga mau jadi perebut laki orang." ucap Rena.
"Ayah, boleh ngga Zidan duduk di pangkuan ayah." ucap Zidan yang memang belum merasakan di peluk dan di pangku seorang ayah.
"Zidan, sudah duduk di situ saja." ucap Rena sambil menatap tajam ke arah Rena, Rena sungguh malu saat ini dengan permintaan anak nya pada pria yang baru di kenal nya.
"Ngga apa-apa, sini nak duduk sama ayah." ucap Randi sambil mengulurkan tangan nya.
__ADS_1
Zidan pun duduk di pangkuan Randi sambil memeluk nya dengan erat.
Begitu nyaman yang Zidan rasakan, baru kali ini dia mendapat pelukan dari sosok seorang ayah, sampai-sampai Zidan pun tertidur di pangkuan Randi.
"Memang nya mbak dulu pernah merebut laki nya orang?" tanya Randi penasaran.
"Ya, dan itu membuat saya menjadi sengsara, awal nya dulu saya pacaran dengan seorang pria," Rena pun menceritakan awal dirinya pacaran dengan Gilang hingga dia selingkuh dengan sahabat nya, entah kenapa Rena ingin sekali menceritakan semua nya, tidak ada yang ditutup tutupi oleh Rena, semua yang dia ceritakan jujur apa adanya.
"Begitulah kehidupan kelam saya mas, hingga saat ini saya berada di kereta ini." ucap Rena dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Jadi sampai saat ini ZIdan ngga tahu siapa ayah nya?" tanya Randi.
"Iya, dan saya sudah bilang sama Zidan kalau ayah nya sudah tiada, soalnya Zidan terus menanyakan sosok ayah nya yang membuat saya sedih." jawab Rena sambil menghapus air mata nya yang berhasil lolos meluncur di pipi nya.
"Manusia tidak ada yang sempurna, kesalahan pasti selalu ada, tinggal niat kita ke depan nya mau bagaimana, masih mau terjerumus atau mau stop dan berubah lebih baik lagi, itu semua tergantung pada niat kita sendiri." ucap Randi.
"Tapi dosa saya ini seperti nya sudah tidak bisa di ampuni lagi, sudah terlalu banyak orang yang saya sakiti, terlalu banyak juga dosa yang lain nya yang sudah saya lakukan." jawab Rena.
"Semua kesalahan dan dosa pasti diampuni asal kita benar-benar bertaubat." ucap Randi.
"Makasih mas, sudah mau mendengar cerita saya ini, sebenar nya ini adalah aib saya sendiri, tapi entah kenapa saya ingin sekali menceritakan nya pada mas." jawab Rena dengan memaksakan senyuman nya.
"Tidak apa-apa, saya juga sebenar nya sama mbak, beberapa tahun yang lalu saya ini orang yang suka gonta ganti pasangan, hingga saya menikahi seorang wanita baik dan kami di karuniai seorang anak laki-laki, tapi saya tidak begitu memperdulikan istri saya, karena saya masih suka tergoda dengan wanita lain nya." ucap Randi lalu menghembuskan nafas nya dengan kasar.
Rena mendengarkan nya dengan sabar apa yang selanjut nya yang akan Randi ceritakan.
"Hingga suatu saat anak dan istri saya meninggal karena kecelakaan, disitulah saya merasa kalau itu adalah hukuman buat saya, Tuhan menghukum saya dengan cara mengambil kembali istri yang begitu baik dan anak saya yang sedang manja-manja nya, ya seumuran Zidan ini lah,, dari situ saya bertaubat dan memohon ampun kepada nya." ucap Randi dengan wajah sendu nya.
"Yang sabar ya mas, mungkin Tuhan akan memberikan lagi kebahagiaan buat mas ke depan nya." ucap Rena.
"Selama itu juga saya ngga pernah mendekati wanita, tapi entah kenapa saat melihat mbak, saya jadi ingin lebih dekat dan ingin mengenal mbak lebih jauh." ucap Randi sambil menatap Rena.
__ADS_1
Dua pasang mata saling menatap, tanpa sadar mereka punya rasa ingin saling melengkapi satu sama lain nya.