
"Wa, angkat telepon nya dong Wa, please." gumam Risma yang kini sudah berada di rumah nya bersama Rehan.
"Ngga diangkat juga Ris?" tanya Rehan sambil ikut duduk di samping Risma.
"Ngga kak, apa aku datang saja ke rumah nya ya." ucap Risma pelan.
"Jangan Ris, nanti mengganggu istirahat mereka." jawab Rehan.
"Tapi aku takut ada apa-apa dengan Nazwa kak, di chat ngga di baca, di telepon juga ngga diangkat." ucap Risma dengan nada khawatir.
"Tenang Ris, ngga bakalan terjadi apa-apa, percaya deh sama kakak, mungkin Nazwa lagi ingin sendiri untuk saat ini." ucap Rehan.
"Mudah-mudahan saja ya kak." ucap Risma.
"Sudah kamu istirahat saja sudah malam, besok kita ke rumah nya Nazwa." ucap Rehan.
"Ya sudah kalau gitu Risma istirahat dulu ya kak." ucap Risma lalu pergi ke kamar nya.
Rehan hanya menatap punggung Risma sambil menggelengkan kepala nya, lalu masuk ke kamar tamu.
*
*
Gilang terus saja memeluk dan mencium Alina yang sekarang sudah menjadi istri nya, seakan-akan dia ngga mau melepaskan nya.
Alina kini sudah terbaring di tempat tidur bersama suami dan anak-anak nya, dan juga sudah mengganti baju nya dengan pakaian tidur.
Tempat tidur Alina memang tidak besar seperti yang ada di rumah Gilang, tapi kalau cuma untuk tidur berempat bareng si kembar cukup, tapi Gilang dan Alina harus berdempetan.
"Mas, aku mau tidur, aku ngantuk." ucap Alina.
"Ya sudah kamu tidur saja, mas ngga bakalan ngapa-ngapain kok, mas cuma ingin meluk kamu saja sepanjang malam ini." jawab Gilang
"Tapi bibir nya tolong di kondisikan dong mas, aku jadi ngga bisa tidur kalau kamu terus mencium ku." ucap Alina.
"Ya udah ini yang terakhir ya." ucap Gilang lalu mencium seluruh wajah Alina.
__ADS_1
"Sudah, sekarang kamu tidur yang nyenyak." ucap Gilang sambil memeluk tubuh Alina kembali.
Alina pun tertidur dalam pelukan Gilang, Gilang menatap wajah Alina yang sedang terpejam.
"Kamu capek ya Yang, kamu lebih cantik kalau lagi tidur seperti ini, maafkan aku ya? Aku sudah membohongi kamu, mulai sekarang aku janji aku akan selalu jujur sama kamu." gumam Gilang sambil mengelus lembut puncak kepala Alina.
Terdengar baby Azzam menangis, perlahan Gilang pun melepaskan pelukan nya dan bangun dari tidur nya.
"Cup, cup, sayang, jangan nangis ya? Kasihan mamah baru saja tidur, baby Azzam sama papah saja ya?" ucap Gilang sambil menepuk pelan pantat baby Azzam.
"Kamu pipis ya sayang, kamu ngga nyaman ya kalau basah begini." ucap Gilang pelan, baby Azzam pun tersenyum.
"Ya sudah papah gantiin, tapi habis di ganti baby Azzam tidur lagi ya sayang, baby Azzam jangan rewel kasihan mamah ya." ucap Gilang dengan nada pelan, takut membangun kan Alina istri nya.
Gilang pun dengan perlahan mengganti popok baby Azzam yang basah.
"Selesai juga akhir nya, untung tadi sempat melihat istriku mengganti popok nya, jadi aku tahu." gumam Gilang sambil mengelap keringat di dahi nya.
Karena Gilang pun sudah ngantuk, akhirnya Gilang pun tertidur di samping baby Azzam.
*
*
"Kakak seperti nya sudah pada tidur deh, ya sudah lah aku pulang saja, tapi kunci nya gimana ini, ya sudah aku bawa pulang saja lah, mereka juga pasti ada cadangan nya.." gumam Dhea lalu mengunci pintu rumah.
"Kak Ronald mana lagi, tadi ada di situ, sudahlah biarkan saja, toh kak Ronald juga sudah dewasa, lebih baik aku pulang saja lah, aku sudah ingin istirahat." gumam Dhea sambil masuk ke dalam mobil Gilang lalu dengan perlahan melajukan nya.
Sedangkan Ronald sedang berjalan menuju rumah nya Nazwa dengan pikiran yang menerawang.
"Kenapa gue seperti ini, kenapa gue tega bicara seperti tadi sama Nazwa, ah sial." gumam Ronald sambil menendang kerikil kecil yang ada di hadapan nya.
Di sebuah kamar, Nazwa sedang menangis sambil memeluk guling, dia sudah tidak perduli lagi dengan suara ponsel yang dari tadi terus berdering dan notif chat yang masuk.
"Kamu jahat kak, kamu tega menyakiti hati aku, ternyata aku salah selama ini, aku salah telah menganggap kamu orang baik." gumam Nazwa di sela-sela tangisan nya.
"Wa, tolong buka dong Wa." ucap Ronald sambil mengetuk jendela kamar dengan suara yang tidak terlalu keras karena takut membangunkan kedua orang tua Nazwa.
__ADS_1
Ronald sudah tahu posisi kamar nya Nazwa, karena beberapa kali pernah main ke rumah nya.
"Kok seperti suara nya kak Ronald." gumam Nazwa sambil melihat ke arah jendela yang sedang di ketuk seseorang.
Nazwa pun turun dari tempat tidur nya lalu mengintip dari celah jendela.
"Kak Ronald, iya benar itu kak Ronald, mau apalagi dia kesini, belum cukup kah dia menghinaku tadi." gumam bathin Nazwa sambil melihat Ronald dari celah jendela.
"Wa, aku mohon buka sebentar, aku minta maaf Wa." terdengar kembali suara Ronald sambil mengetuk pintu.
Ronald terus-terusan mengetuk dan memanggil-manggil Nazwa dari luar membuat Nazwa resah karena takut orang tua nya bangun, Nazwa pun membuka jendela kamar nya.
"Mau apalagi kakak kesini? Belum cukup kah kakak menghinaku tadi?" tanya Nazwa setengah berbisik dengan air mata kembali turun melintas di pipi mulus nya.
"Wa, please maafkan kakak, kakak tahu dan kakak sadar, kalau kakak salah telah menghina kamu." ucap Ronald pelan.
"Sudahlah kak, sebaik nya kakak sekarang pergi dari rumahku, aku sudah tidak mau melihat kakak lagi." ucap Nazwa sambil menghapus air mata nya.
"Tolong maafin kakak ya? Kakak janji kakak tidak akan melakukan hal seperti tadi lagi." ucap Ronald sambil meraih dan menggenggam tangan nya Nazwa.
"Sudahlah kak lupakan saja, aku sudah tidak mau mengingat nya lagi, sekarang kakak pergi saja aku mau istirahat." ucap Nazwa sambil menepi tangan Ronald.
"Tapi kamu memaafkan kakak kan Wa." ucap Ronald sekali lagi.
"Iya aku sudah memaafkan nya kok, tapi tidak untuk melupakan." jawab Nazwa sambil menutup kembali jendela kamar nya.
Ronald pun merasa sakit melihat air mata yang membasahi pipi Nazwa, Ronald tidak langsung pergi, tapi dia terus memandang jendela kamar Nazwa.
Langit pun seakan ikut bersedih melihat mereka berdua, dan akhirnya turun lah hujan membasahi bumi yang sebagian penghuni nya sedang terlelap.
Ronald yang masih berdiri di depan jendela kamar Nazwa seakan tidak perduli dengan tubuh nya yang sudah basah oleh air hujan.
"Kak kamu jangan hujan-hujanan, nanti kamu sakit kak." gumam bathin Nazwa sambil menatap Ronald dari celah jendela.
__ADS_1