
"Kak Nazwa sama kak Risma jangan pulang dulu ya, kita mau bagikan makanan dulu ke para tetangga." ucap Nura dan Nuri.
"Kakak ikut ya, kakak bantu bawain dan bagikan." ucap Risma sambil berdiri dan mengambil sebagian makanan untuk di bagikan.
"Terus aku gimana?" tanya Nazwa pada Risma.
"Kamu teruskan saja sandiwara kamu sama kak Rehan, kamu ngga lihat apa, dari tadi kak Ronald terus menatap melihat gerak gerik kamu." ucap Risma pelan.
"Ya sudah lah kalau gitu, kita tunggu di sini saja ya kak." jawab Nazwa sambil menatap ke arah Rehan.
"Kita pergi dulu ya kak." ucap Nura dan Nuri lalu pergi meninggalkan Nazwa dan Rehan berdua.
Ronald yang sedang duduk bersama pak Surya dan pak Abidin terus menatap ke arah Nazwa dengan hati yang benar-benar panas di buat nya karena melihat Nazwa selalu mesra dan selalu tersenyum dengan Rehan.
"Kamu lirik sedikit saja, dia terus menatap kita dengan tatapan yang seakan-akan ingin menghajar kakak, sepertinya dia lagi cemburu berat itu." bisik Rehan.
Sengaja Rehan berbisik agar kelihatan seperti dirinya mencium Nazwa.
"Kalau benar dia cemburu, kenapa dia diam saja? Kenapa dia ngga marah dan bertanya, kan kalau dia marah berarti benar kalau kak Ronald cemburu." jawab Nazwa pelan.
"Mungkin dia lagi nyari waktu yang pas untuk melakukan semua itu." ucap Rehan.
Ponsel Rehan pun berdering, Rehan melihat ke layar ponsel nya.
"Cindy." gumam Rehan.
"Angkat saja kak." ucap Nazwa sambil tersenyum.
"Kakak angkat telepon dulu ya." ucap Rehan sambil berdiri dan menjauh dari Nazwa.
"Iya kak, silahkan." jawab Nazwa sambil tersenyum.
Rehan pun menjauh dari Nazwa, sedangkan Nazwa duduk sendiri sambil menikmati indah nya malam.
Ronald yang melihat Nazwa lagi sendirian pun langsung menghampiri nya.
__ADS_1
"Kamu sengaja ya bermesraan di depan saya." ucap Ronald dengan tatapan tajam nya.
"Maaf kak Ronald ngomong sama saya?" Nazwa pun bertanya dengan santai nya.
"Kamu kira saya ngomong sama setan, ya sama kamu lah, kan cuma ada kamu yang ada di sini." jawab Ronald dengan nada kesal.
"Kalau saya bermesraan memang apa masalah nya? keluarga mbak Alina saja ngga ada yang komplain kok." jawab
"Kamu!" teriak Ronald sambil menatap tajam Nazwa.
"Apa! Memang apa peduli kak Ronald? Bukan nya selama ini juga kakak ngga pernah memperdulikan aku? Bukan kah selama ini kakak juga ngga perduli dengan perasaan aku?" teriak Nazwa meluapkan amarah nya.
"Seperti nya mereka lagi berantem." gumam bathin Dhea sambil menatap mereka dari kejauhan.
"Kakak perduli makanya kakak bicara seperti ini sama kamu." ucap Ronald yang ngga mau kalah.
"Siapa kakak, harus perduli sama aku? toh aku bukan siapa-siapa nya kakak." teriak Nazwa.
"Kakak urus saja diri kakak sendiri jangan ngurusin hidup aku." ucap Nazwa sambil berdiri dan mau pergi dari hadapan Ronald.
"Mau kemana kamu?" tanya Ronald sambil mencengkeram tangan Nazwa dan menghentikan langkah Nazwa.
"Mau kemana aku, itu urusanku sendiri, lepaskan." jawab Nazwa sambil menghempas tangan Ronald.
"Oh, jadi kamu mau menghampiri cowok kamu itu? Sudah diapakan saja kamu sama dia?" tanya Ronald sambil tersenyum miring.
Sungguh rasa cemburu sudah menguasai jiwa Ronald hingga dia tidak bisa menjaga ucapan nya, dan tanpa disadari nya ucapan dirinya barusan telah menyakiti hati Nazwa.
Nazwa yang mau melangkah pun menghentikan langkah nya kembali, lalu membalikan tubuh nya dan menampar keras pipi Ronald.
"Plakk." Nazwa pun melayangkan tangan nya ke arah pipi Ronald dan membuat kaget Ronald dan Dhea yang sedang melihat nya dari tadi.
"Apa yang di katakan kak Ronald, sampai Nazwa menampar nya dengan penuh amarah seperti itu?" gumam bathin Dhea.
__ADS_1
"Kakak pikir aku ini perempuan seperti apa? Begitu hina nya kah aku dimata kakak? Begitu rendah nya kah aku dimata kakak? Mulai sekarang aku tidak ingin melihat wajah kakak lagi, selamat malam." teriak Nazwa dengan air mata yang sudah mengalir di pipi mulus nya, dia terlalu sakit hati dengan apa yang telah di ucapkan Ronald kepada dirinya.
Nazwa pun pergi dengan setengah berlari meninggalkan rumah Alina, dia meninggalkan Rehan sendirian di rumah itu, yang ada di pikiran nya Nazwa kali ini hanya rasa sakit yang ia dapatkan dari Ronald.
"Kenapa semua nya jadi seperti ini, aku hanya ingin kamu mengungkapkan perasaan kamu kak, bukan kata-kata yang menyakitkan seperti ini, aku tahu kamu cemburu tapi kenapa kamu ngga mau mengakui nya, kenapa kamu ngga bisa sedikit bersikap manis sama aku, sedikit saja kak." gumam Nazwa dengan deraian air mata nya.
Nazwa terus berlari pulang ke rumah nya dengan rasa sakit yang ia dapat dari Ronald dengan deraian air mata yang terus mengalir di pipi nya.
Ronald hanya bisa memandang kepergian Nazwa sambil menyentuh pipi yang di tampar Nazwa.
"Sebenar nya ada apa kak? Kenapa Nazwa pergi sambil menangis seperti itu?" tanya Dhea yang penasaran dari tadi.
Sebelum Ronald menjawab pertanyaan Dhea, Nura, Nuri dan Risma kembali setelah makanan yang di bawa nya sudah habis di bagikan ke para tetangga.
"Nazwa sama kak Rehan dimana kak?" tanya Risma sambil melihat kearah sekitar.
"Cowok nya lagi terima telepon tuh di sana." jawab Ronald sambil menunjuk ke arah Rehan yang masih menerima telepon dari Cindy.
"Terus Nazwa dimana? Apa lagi sama mbak Alina?" tanya Risma kembali.
Sedangkan Dhea hanya terdiam, dia ingin mengetahui apa Ronald akan bicara dengan jujur tentang Nazwa atau tidak.
"Nazwa sudah pulang." jawab Ronald.
"Kak, pipi kakak seperti nya habis kena tamparan? Merah gitu, siapa yang menampar kakak?" tanya Nuri sambil menunjuk kearah pipi Ronald yang merah.
Risma sedikit curiga setelah melihat pipi Ronald yang merah yang seperti nya baru kena tamparan seseorang.
"Jujur kak, sebenar nya ada apa? dan Nazwa kemana? Dan aku yakin pipi kakak merah ini tamparan dari Nazwa kan?" tanya Risma sambil menatap Ronald dengan tajam.
"Kakak cuma bilang dia sudah diapain saja sama cowok itu, dia malah nampar kakak dengan keras." jawab Ronald pelan.
"Plak." Risma pun menampar pipi Ronald yang merah menjadi tambah merah lagi.
__ADS_1
"Jangankan Nazwa, aku pun akan melakukan yang sama bahkan lebih dari ini, kakak pikir Nazwa perempuan apa! Asal kakak tahu, Nazwa itu mencintai kakak, selama ini dia mencintai dalam diam, jangan harap setelah ini kakak akan bertemu dengan Nazwa lagi." ucap Risma yang ikut sakit hati dengan perkataan Ronald.