Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Kesalahan Bersama


__ADS_3

"Kemana sih kak Ronald ini, kita udah mau pulang dia masih belum menampakan hidung nya." gumam Dhea sambil memasukan barang-barang nya ke dalam mobil.



"Kita pergi ke rumah Alina saja dulu dek, sekalian kita jemput kakak kamu, siapa tahu nanti Ronald kesana jadi kita bisa langsung pulang." ucap pak Surya.



"Ya sudah pah, kita berangkat saja, awas mah ada yang ketinggalan." teriak Dhea.



Pak Surya dan bu Dewi pun masuk kedalam mobil nya, sedangkan Dhea mengunci dulu pintu rumah Ronald.



"Dek, papah duluan ya? Kita ketemu di rumah Alina saja." teriak pak Surya sambil melajukan mobil nya.



"Iya pah, lagian adek mau kunci pintu dulu." jawab Dhea sambil menutup pintu.



"Perasaan aku dari semalam jadi tukang ngunciin pintu rumah orang terus deh." gumam Dhea sambil mengunci pintu rumah Ronald.



Dhea pun masuk ke mobil Gilang lalu melajukan nya dengan kecepatan sedang.


*


*


"Yang, kamu sarapan dulu ya." ucap Gilang sambil masuk ke dalam kamar dengan nampan di tangan nya.


Alina pun membalikan tubuh nya karena baru selesai menidurkan bayi nya.



"Si kembar tidur lagi? Kok mereka tidur mulu sih Yang? Kapan bisa diajak main nya?" tanya Gilang sambil duduk di sisi tempat tidur.



"Namanya juga bayi baru lahir mas, ya pasti kerjaan nya tidur, nanti kalau sudah sebulan baru sedikit-sedikit bisa diajak main." jawab Alina.



Gilang hanya ber oh ria, lalu menyodorkan sendok yang sudah di isi dengan nasi dan ikan.



"Ayo sekarang sarapan dulu." ucap Gilang sambil mendekatkan sendok ke mulut nya Alina.



"Mas, biar aku saja, kamu juga harus sarapan." ucap Alina.



"Kita sarapan bareng, kamu satu suap aku pun satu suap, gimana?" tanya Gilang sambil tersenyum.



"Terserah kamu saja lah mas." jawab Alina yang sudah pasrah, karena berdebat pun percuma.



Gilang pun terus memberikan suapan demi suapan dengan bergantian dengan dirinya hingga piring yang tadi nya penuh sekarang bersih tak tersisa.



"Mau nambah ngga Yang?' tanya Gilang.


__ADS_1


"Ngga ah mas, aku sudah kenyang, kamu saja yang nambah sana." jawab Alina.



"Ngga ah aku juga udah kenyang, aku simpan dulu piring nya ya?" ucap Gilang sambil berdiri.



Alina hanya tersenyum sambil memandang punggung suami nya.



"Kalau seperti ini terus, aku ngga bisa jauh dari kamu mas." gumam Alina.



Ponsel Alina pun berdering hingga membuyarkan lamunan nya.



"Risma? Tumben sepagi ini menghubungi ku." gumam Alina sambil menerima panggilan nya.



"Iya Ris, ada apa? Tumben sepagi ini kamu menghubungi mbak." tanya Alina.



"Aku cuma mau ngasih tahu, kalau kak Ronald ada di rumah ku, takut nya keluarga kak Dhea mencari kak Ronald." jawab Risma.



"Lo, kenapa sampai ada di rumah kamu Ris, dan bukan kah semalam kalian menampar Ronald? Sebenar nya ada apa Ris?" tanya Alina yang belum tahu apa-apa dengan masalah mereka karena sibuk ngurus Gilang dan si kembar.



{Intinya bukan sibuk ngurusin Gilang ya bestie tapi sibuk di peluk Gilang}.




"Ya sudah kalau gitu mbak titip kak Ronald ya Ris, nanti kak Gilang ke sana." ucap Alina.



"Iya mbak, ya sudah aku tutup dulu telepon nya, aku mau ngantar dokter ke depan dulu." jawab Risma lalu mematikan panggilan nya.



"Telepon dari siapa Yang?" tanya Gilang yang sudah kembali ke kamar.



"Dari Risma mas, katanya kak Ronald ada di rumah Risma, dia lagi demam karena semalam dia kena air hujan." jawab Alina.



"Pantas saja, tadi Dhea nyariin." ucap Gilang.



"Mas, nanti sebelum berangkat lihat kak Ronald dulu ya? Aku khawatir dengan keadaan nya." ucap Alina.



"Iya nanti mas lihat sama Dhea, tapi sekarang mas ingin meluk kamu dulu sebelum pulang." ucap Gilang sambil memeluk erat Alina.



"Apa semalam belum cukup kamu meluk aku mas?" tanya Alina sambil menyenderkan kepala nya di dada bidang Gilang.



"Mas ngga akan pernah cukup, apalagi kita belum melakukan malam pertama." ucap Gilang sambil mencium pipi Alina dari samping.

__ADS_1



"Kalau kita belum melakukan malam pertama, berarti kita ngga bakalan punya si kembar, itu si kembar bukti kalau kita sudah melakukan nya." jawab Alina.



"Malam itu dan malam pertama setelah menikah beda Yang? Ah, aku sudah ngga sabar ingin segera melakukan nya." ucap Gilang.



{Iya Lang, para Readers pun sudah ngga sabar ingin ngintip malam pertama kalian, hayo ngaku? Kalau ngga ngaku dan bohong nanti di tinggal Alina lo}.



"Melakukan apa?" tanya Alina pura-pura ngga paham.



"Melakukan yang membuat kita melayang-layang dan membuat kita selalu ketagihan." jawab Gilang sambil tersenyum mengenang malam yang telah mereka lewati waktu di puncak.



"Mas ih, kenapa sekarang jadi mesum gini sih?" ucap Alina sambil memukul pelan tangan Gilang yang sedang berada diatas perut nya.



"Mesum sama istri sendiri kan boleh Yang? Pantesan saja Ronald dulu selalu melakukan nya, ternyata memang ketagihan ya Yang." ucap Gilang yang tanpa sadar akan mendapat banyak pertanyaan dari Alina.



"Jadi kak Gilang dulu sering?" tanya ALina yang tidak meneruskan kalimat nya.



"Ya, dan sampai hati melakukan nya dengan kekasih mas." jawab Gilang.



"Terus sudah berapa wanita yang mas tiduri?" tanya Alina sambil melepaskan pelukan Gilang dengan sedikit kasar.



Hati Alina sedikit panas karena dia beranggapan kalau Gilang suami nya pernah tidur dengan seorang wanita di masa lalu.



"Ngga ada, mas ngga pernah meniduri wanita mana pun kecuali kamu." jawab Gilang dengan jujur.



"Apa mas sudah jujur?" tanya Alina sambil menatap tajam Gilang.



"Mas bersumpah demi si kembar, apa yang mas bilang barusan jujur apa adanya." jawab Gilang sambil mengangkat kedua jari nya keatas.



"Mas selalu ingat dengan pesan yang mamah berikan sama mas." ucap Gilang.



"Terus kenapa malam itu mas malah melakukan nya kepadaku?" tanya Alina.



"Malam itu kan kamu tahu sendiri kalau mas lagi kedinginan berat, sudah gitu kamu menghangatkan mas dengan bibir kamu yang manis ini, jadi mas ingin melakukan lebih dari sekedar bibir kamu dan buktinya mas langsung sembuh dengan kehangatan yang kamu berikan waktu itu." jawab Gilang sambil memeluk Alina kembali



"Maafkan aku ya mas, malam itu bukan sepenuh nya salah kamu kok, aku juga ikut bersalah karena kamu telah menggantikan aku untuk berenang malam itu, dan aku sangat khawatir melihat tubuh kamu gemetar hebat, makanya aku berinisiatif untuk memberikan kehangatan." ucap Alina sambil menatap wajah Gilang.



Gilang pun tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia pun langsung menikmati bibir Alina yang menurut nya manis itu.

__ADS_1


__ADS_2