Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Percaya Diri


__ADS_3

Malam ini Rena nekad mendatangi rumah besar pak Surya karena yakin kalau malam hari Gilang sudah pasti ada di rumah.



Dengan rasa percaya diri yang tinggi Rena pun masuk dengan alasan dia di undang oleh keluarga pak Surya untuk mempersiapkan pernikahan nya.



Kedua satpam pun tidak menaruh curiga, karena memang beberapa kali Rena sempat berkunjung dan bertemu Gilang.



Rena pun melangkah masuk dengan bibir tersenyum smirk, dia yakin kalau Gilang masih mencintai nya.



"Selamat malam nona, anda mau bertemu siapa?" tanya seorang pelayan yang memang baru bekerja di rumah pak Surya.



"Saya mau bertemu Gilang, bilang saja saya teman nya." jawab Rena sambil tersenyum.



Pelayan itu pun masuk menuju kamar nya Gilang.



"Permisi Den." teriak pelayan sambil mengetuk pintu kamar Gilang.



Gilang yang memang sedang melakukan video call bersama istri dan anak nya pun bangkit dari duduk nya dan membuka pintu.



"Sebentar yang, bibi manggil jangan dimatikan dulu." ucap Gilang pada Alina.



"Iya bi, ada apa?" tanya Gilang sambil membuka pintu nya.



"Di depan ada seorang perempuan ingin bertemu, katanya teman den Gilang." ucap bibi pelayan.



"Siapa ya? Ya sudah lah nanti saya temui, makasih ya bi." ucap Gilang.dan pelayan itu pun pergi berlalu meninggalkan Gilang.



"Ada apa mas?" tanya Alina yang mendengar pembicaraan Gilang dengan seorang pelayan.



"Ada yang mau bertemu dengan mas, tapi ngga tahu siapa." jawab Gilang.



"Ya sudah, mas temui saja dulu sana, nanti kita teleponan lagi." ucap Alina.



"Ngga Yang, kamu jangan matikan telepon nya." ucap Gilang sambil melangkah keluar.


__ADS_1


Sambil menunggu Rena melihat sekeliling halaman depan rumah pak Surya.



"Sebentar lagi aku akan tinggal di rumah besar ini, aku akan jadi nyonya Gilang." gumam bathin Rena sambil tersenyum.



"Maaf siapa ya?" tanya Gilang pada seorang perempuan yang sednag membelakangi pintu.



mendengar suara yang ia kenali, Rena pun membalikan tubuh nya.



"Hai sayang, apa kabar mu." ucap Rena sambil tersenyum dan langsung memeluk Gilang.



"Apa! Jadi yang menemui mas Gilang seorang perempuan? Panggil sayang lagi." gumam bathin Alina sambil menatap layar ponsel, tapi tidak kelihatan apa-apa karena Gilang masih memegang ponsel nya.



"Lepaskan, buat apa kamu datang kesini? Kita sudah ngga ada hubungan apa-apa lagi semenjak aku melihat kamu sedang tidur bersama sahabat ku sendiri." ucap Gilang dengan nada sedikit tinggi.



"Maafkan aku sayang, aku mneyesal, aku terpaksa melakukan itu semua karena Ronald terus merayu aku." ucap Rena sambil pura-pura menangis.



"Apa! Jadi wanita ini yang dulu pernah mas Gilang sayang." gumam bathin Alina sambil terus memasang telinga nya untuk mendengar semua nya.




"Ada apa ini nak?" tanya bu Dewi sambil menatap Gilang yang sedang menahan emosi nya.



"Buat apa kamu kesini dan menemui anak saya lagi." ucap bu Dewi sambil menatap Rena.



Bu Dewi pernah melihat Rena satu kali dan selalu melihat poto nya dulu di kamar Gilang, jadi bu Dewi mengenali wanita yang sedang berdiri di hadapan nya kini.



"Tante, aku kesini untuk kembali dengan Gilang, aku masih mencintai nya, tolong aku tante agar Gilang mau menerima aku kembali." ucap Rena sambil memegang tangan bu Dewi.



"Lepaskan tangan saya, saya ngga sudi mempunyai menantu seperti kamu, dan perlu kamu ketahui dua hari lagi Gilang akan menikah, jadi kamu jangan berharap apa-apa lagi sama Gilang." ucap bu Dewi sambil menepis tangan Rena.



"Ngga kamu ngga boleh menikah dengan siapa pun kecuali sama aku." teriak Rena.



"Apa hak kamu mengatur hidup ku?" tanya Gilang dengan wajah amarah nya.



"Kamu ngga bisa menikah dengan orang lain, karena aku sedang hamil anak kamu." teriak Rena, tadi nya Rena ngga mau bilang kalau dirinya sedang hamil. Tapi ini jalan satu-satu nya untuk mendapatkan Gilang kembali.

__ADS_1



"Apa! Mas, kamu menghamili nya." gumam bathin Alina dengan mata yang sudah berkaca-kaca lalu memutuskan panggilan nya.



"Kamu ingin menipu ku dengan kehamilan kamu? Ngga akan mempan, dimana pikiran kamu itu berada? Kita sudah tidak bertemu sudah satu tahun lebih dan sekarang kamu datang dan bilang kalau bayi yang ada di kandungan kamu itu anak saya? orang yang tidak sekolah tinggi pun akan tahu dan bisa menghitung nya,." ucap Gilang sambil tersenyum smirk.



"Tante, ini beneran anak nya Gilang tante, jadi anak tante harus bertanggung jawab dengan anak yang saya kandung." teriak Rena dengan air mata buaya nya.



"Bi, kesini sebentar." teriak bu Dewi memanggil pelayan yang kebetulan lewat mau pergi ke dapur.



"Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya bi Inar.



"Kamu sekolah keluar apa?" Tanya bu Dewi yang ngga langsung ke inti nya.



"Saya hanya tamatan SD bu." jawab Inar.



"Saya mau tanya, kalau seorang laki-laki yang sudah tidak bertemu selama satu tahun lebih, apa laki-laki itu bisa membuat si perempuan hamil?" tanya bu Dewi.



"Setahu saya tidak bu, kan mereka ngga bertemu lama, dan ada kemungkinan si perempuan hamil sama laki-laki lain dan mengaku kalau dirinya hamil sama pria yang sudah tidak bertemu itu." jawab bi Inar.



"Dengar? Dia itu sekolah hanya lulusan SD dan kamu sekolah sampai kuliah, ternyata dari sini saya bisa melihat kalau ilmu dan pikiran tidak dapat di lihat dari tinggi nya sekolah, apa kurang penjelasan dari bi Inar? Kalau misalkan masih kurang kita tes DNA, dan kalau memang itu bukan anak nya Gilang maka saya sendiri yang akan menjebloskan kamu ke dalam penjara." ucap bu Dewi yang sudah merasa kesal dengan Rena.



"Bodoh, kenapa aku harus jujur dengan kehamilanku yang jelas-jelas bukan dia yang menghamili nya." gumam bathin Rena merutuki diri nya.



"Kamu sudah dengar kan penjelasan dari bi Inar? Jadi tunggu apalagi? Silahkan pergi, mau dengan suka rela atau di seret satpam?" tanya Gilang.



"Aku bisa pulang sendiri." ucap Rena lalu pergi meninggalkan rumah besar pak Surya dengan keadaan yang sangat malu.



"Makasih bi atas jawaban nya, lain kali kalau ada dia datang kesini lagi langsung usir saja." ucap bu Dewi.



"Baik nyonya, kalau gitu saya permisi." ucap bi Inar lalu pergi ke kamar nya.



"Ya sudah mamah kembali ke kamar ya, kamu istirahat." ucap bu Dewi sambil masuk kembali ke kamar nya.



"Ya ampun, tadi kan aku lagi video call sama Alina, pasti dia sudah mendengar semua nya." ucap Gilang sambil menatap layar yang sudah mati.

__ADS_1


__ADS_2