
"Ada apa ini? Lo Nazwa nya kemana Ris?" tanya Rehan yang sudah memutuskan panggilan nya dengan Cindy.
Risma bukanya menjawab pertanyaan Rehan, tapi dia malah balik bertanya kepada Rehan.
"Kakak darimana saja? Sampai ngga tahu Nazwa sudah pergi dari sini?" tanya Risma yang masih dalam keadaan emosi.
"Kakak tadi habis terima telepon dari kak Cindy, katanya besok dia jadi kesini." jawab Rehan.
"Kak Ronald dengarkan? Kak Cindy adalah tunangan nya kak Rehan, kalau kakak ngga percaya besok datang ke rumah ku, tapi jangan harap Nazwa akan bertemu dengan kakak lagi, karena Nazwa pasti sudah memutuskan untuk pergi dari sini, ayo kak kita pergi dari sini." teriak Risma sambil menarik tangan Rehan.
"Kak Dhea kita pulang dulu, Nura, Nuri bilangin ke mbak Alina kakak pamit, makasih atas jamuan nya." ucap Risma, lalu pergi dengan menarik tangan Rehan.
Nura dan Nuri pun saling menatap dan memutuskan untuk masuk ke dalam, karena mungkin ada yang akan di bicarakan sama Ronald dan Dhea.
"Kak, kita berdua masuk duluan ya?" ucap Nura dan Nuri bersamaan, Dhea pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
*
*
"Nak ibu kembali ke rumah Ronald ya? Kamu udah selesai kan makan nya?" tanya bu Dewi.
"Sudah mah, makasih ya mah sudah menjaga si kembar." jawab Alina.
"Sama-sama sayang, Lang, mamah ke rumah Ronald, kamu mau ikut mamah sekarang apa mau nginap di sini? Tapi kalau kamu nginap di sini kamu jangan macam-macam." ucap bu Dewi.
"Iya mah, Gilang ngga berbuat macam-macam paling cuma satu macam aja." jawab Gilang yang dapat pukulan di bahu nya.
"Ya sudah mamah dan papah pergi ya." ucap bu Dewi sambil mencium Alina dan kedua cucu nya.
"Hati-hati pah, mah." ucap Alina.
"Kak, ibu sudah istirahat ya?" tanya Nura.
"Sudah dek, kamu sudah selesai bagiin makanan nya?" tanya Alina.
__ADS_1
"Sudah kak, eh kak, tadi di depan antara kak Ronald dan kak Nazwa seperti nya ada masalah deh, sampai-sampai kak Risma menampar kak Ronald." ucap Nuri.
"Apa! ada apa mereka?" gumam Alina.
"Ngga tahu kak, pas kita pulang kak Nazwa sudah ngga ada, seperti nya kak Nazwa sudah pulang duluan." jawab Nuri.
"Ya sudah, biar kakak cari tahu nanti, sekarang kalian istirahat saja sudah malam, kalian juga capek kan?" ucap Alina.
"Iya kak, kalau gitu kita berdua istirahat duluan ya kak." ucap Nura.
"Mari kak Gilang." ucap mereka berdua bersamaan.
"Ada apa sih sama mereka Yang?" tanya Gilang.
"Mana aku tahu mas, yang ku tahu kalau Nazwa itu menyukai kak Ronald itu saja." jawab Alina sambil menidurkan si kembar.
"Mulut mu mas, memang nya hamil itu mudah, aku harus membawa mereka kemana-mana, belum lagi melahirkan nya, itu sakit mas, sakit banget." ucap Alina.
"Aku juga ikut sakit Yang, sampai sekarang masih ada bekas nya, ni lihat sendiri." ucap Gilang sambil memperlihatkan bekas cakaran Alina.
"Kamu kenapa mas?" tanya Alina sambil melihat luka-luka yang ada di tangan dan di leher Gilang.
"Kamu nanya?" ucap Gilang dengan wajah kesal nya.
"Ini seperti cakaran mas? cakaran siapa mas?" tanya Alina yang belum sadar kalau itu bekas cakaran kuku nya sendiri.
"Ya ampun Yang, kamu ngga ingat? Ini tuh cakaran kamu sewaktu kamu melahirkan si kembar." jawab Gilang.
"Ya ampun mas, maafin aku, aku ngga sengaja dan aku ngga sadar kalau aku sampai membuat banyak luka seperti ini pada tubuh kamu." ucap Alina.
__ADS_1
"Tenang saja Yang, luka ini belum seberapa dibandingkan luka yang kamu alami selama ini." jawab Gilang sambil memeluk mesra Alina dari belakang.
"Mas, jangan kamu ulangi lagi ya? Apapun itu kamu harus jujur sama aku, meski kejujuran itu akan membuat aku sakit hati sekali pun." ucap Alina sambil mengelus tangan Gilang yang melingkar di perut nya.
"Iya Yang, mas janji, mas akan selalu jujur, tapi kamu juga harus mendengar penjelasan dari mas dulu kalau ada apa-apa, jangan langsung main pergi begitu saja." ucap Gilang sambil mencium leher Alina dari samping.
Alina pun hanya mengangguk dan tersenyum sambil merasakan rasa yang sudah menjalar ke seluruh tubuh nya efek dari sentuhan bibir Gilang di bagian leher nya.
"Mas, sudah ah lepas, nanti kita kebablasan lagi." ucap Alina sambil berusaha melepaskan pelukan Gilang.
"Tenang saja Yang, mas cuma ingin memeluk kamu saja malam ini, besok kan mas ngga bisa meluk kamu seperti ini lagi sampai resepsi nanti." ucap Gilang sambil mengeratkan pelukan nya.
Malam ini mereka berdua memang ada dalam satu kamar, tapi mereka hanya saling memeluk dan bercumbu saja menghabiskan malam ini berdua, karena besok mereka akan berpisah kembali.
*
*
"Kenapa kakak bicara seperti itu? Apa kakak cemburu melihat Nazwa bersama pria lain?" tanya Dhea sambil menatap Ronald.
"Entahlah dek, tapi hati kakak merasa sakit melihat kemesraan mereka berdua." jawab Ronald sambil menunduk.
"Dengarkan ya kak, seseorang akan menyadari perasaan nya setelah orang yang kita anggap tak berarti jalan bareng bersama orang lain, kakak bersikap seperti itu karena kakak cemburu dan kakak ada perasaan kepada Nazwa, tapi kakak tidak menyadari nya, saran adek kakak harus menemui nya minta maaf dan jujur dengan semua perasaan kakak , kalau terlambat kakak akan menyesali nya." ucap Dhea.
"Tapi apa Nazwa akan memaafkan kakak, setelah kakak menghina nya tadi?" tanya Ronald.
"Apa yang telah kakak lakukan tadi sama Nazwa menurut adek memang tipis untuk mendapatkan maaf dari Nazwa, tapi sengga nya kakak sudah berusaha untuk meminta maaf kepada Nazwa, asal kakak tahu wanita mana pun kalau mendengar perkataan seperti apa yang dilontarkan kakak tadi akan merasa sakit hati nya, apalagi wanita itu wanita baik-baik seperti Nazwa." ucap Dhea.
"Berarti apa yang telah kakak ucapkan tadi telah menyakiti banget hati nya ya dek?' Ronald pun melontarkan pertanyaan yang sangat konyol.
"Ya iya lah kak, coba kalau kakak jadi perempuan, terus di hina seperti itu apa yang akan kakak lakukan?" tanya Dhea yang kesal dengan pertanyaan konyol dari Ronald.
"Ya sudah terserah kakak, adek pusing bicara sama kakak, lebih baik adek bicara sama si kembar dari pada sama kakak yang ngga peka." ucap Dhea lalu pergi meninggalkan Ronald sendirian.
__ADS_1
"Aku harus ke rumah nya Nazwa, aku harus meminta maaf." gumam Ronald lalu pergi meninggalkan rumah Alina.