Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Kabar Dari Suci


__ADS_3

Siang tadi Suci pulang ke kampung halaman nya karena ibu nya sedang di rawat di sebuah rumah sakit.



Suci minta izin ngga masuk ke kantor selama tiga hari, karena kalau lebih dari tiga hari kantor tidak memberikan nya.



Selagi menunggu ibu nya tiba-tiba perut Suci lapar, dan dia ingat kalau dirinya belum makan dari tadi siang.



"Ah, jam berapa ini?" gumam bathin Suci sambil melihat kearah jam yang ada di kamar rawat ibu nya.



"Ah sudah tengah malam malah lapar, ya sudah aku ke kantin saja sebentar, ibu juga lagi tidur nyenyak kelihatan nya." gumam Suci lalu berdiri dan melangkah keluar dengan perlahan.



Suci pun berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit sendirian, hanya ada suster jaga saja yang masih lalu lalang untuk memeriksa keadaan pasien nya.



"Ke kantin apa beli makan diluar ya?" Suci pun berpikir sejenak.



"Ah, beli makan di luar saja, sekalian cari angin sebentar." gumam Suci sambil berjalan keluar.



Begitu Suci sudah berada di luar rumah sakit, tiba-tiba ada sebuah mobil membawa seorang wanta yang sedang hamil besar.



"Seperti nya wanita itu mau melahirkan." gumam bathin Suci sambil melihat ke arah wanita yang baru turun dari mobil dan di gandeng seorang ibu paruh baya.



"Sepertinya aku kenal sama wanita itu? wajah nya kok mirip sama bu Alina ya?" Suci pun penasaran lalu mengikuti nya dari belakang.



"Sus, tolong anak saya mau melahirkan." teriak bu Diah.



Suster pun langsung membawa blankar dan merebahkan tubuh Alina.



"Silahkan ke pendaftaran dulu pak." ucap suster itu sambil menunjuk kebagian pendaftaran.



Pak Abidin dan Ronald pun ke bagian pendaftaran untuk mendaftarkan Alina.



Suci pun mengikuti pak Abidin dan Ronald ke bagian pendaftaran.



"Atas nama siapa pak?" tanya suster yang jaga.



"Alina sus." jawab pak Abidin, suara pak Abidin sangat jelas sekali terdengar di telinga Suci.



"Alina? Benar kan itu bu Alina?" tapi pria ini siapa nya ya? Apa suami nya?" gumam bathin Suci dengan wajah kaget nya.



"Aku harus menghubungi bu Dhea, kan kata bu Dhea siapa pun yang melihat bu Alina harus langsung ngasih tahu dirinya." gumam bathin Suci sambil mencari kontak Dhea di ponsel nya.

__ADS_1



"Ini dia no nya, untung aku save no bu Dhea, mudah-mudah han bu Dhea mau mengangkat nya." gumam bathin Suci sambil terus melangsungkan panggilan yang belum ada jawaban.



"Angkat dong bu, please, ini kesempatan kalian bertemu dengan bu Alina." gumam bathin Suci sambil melihat ke arah pak Abidin dan Ronald.


*


*


"Kakak, sakit perut? Ya sudah ayo kita ke rumah sakit." ucap Dhea sambil mengambil kunci mobil milik nya.


Dhea bersama Gilang pun berjalan keluar tanpa memberitahukan kedua orang tua nya.



Selagi di perjalan suara ponsel Dhea terus saja berbunyi.



"Angkat dong dek, mas lagi sakit perut makin sakit mendengar suara ponsel mu." ucap Gilang sambil menahan rasa sakit di perut nya.



"Biarin lah kak, orang dari no yang tidak dikenal kok." jawab Dhea sambil fokus menyetir.



Kembali suara ponsel Dhea berdering membuat Dhea kesal, lalu menepikan mobil nya ke pinggir.



"Siapa sih, malam-malam begini nelepon, awas ya kalau ngga penting ku cincang kamu." gumam Dhea sambil mengambil ponsel dan menggulir icon warna hijau nya.



"Halo, siapa ini? Malam-malam ganggu orang saja." teriak Dhea yang kesal dengan si penelepon.




"Suci? Suci mana ya? Dan ada keperluan apa sama saya malam-malam begini?" tanya Dhea.



"Saya Suci OB di kantor pak Surya bu, saya hanya ingin memberitahukan kalau saya barusan bertemu dengan bu Alina." jawab Suci.



"Apa! Kamu bertemu dengan Alina?" teriak Dhea sambil menatap ke arah Gilang yang sedang duduk di samping nya.



"Alina? Siapa yang bertemu dengan Alina?" tanya Gilang yang langsung melupakan rasa nyeri di perut nya.



Dhea pun meng loud speaker kan ponsel nya."Jangan bohong kamu ya? Awas saja kalau kamu bohong." ucap Dhea.



"Saya ngga bohong bu, saya bertemu dengan bu Alina di salah satu rumah sakit, sepertinya bu Alina mau melahirkan." ucap Suci.



"Rumah sakit mana, biar saya langsung kesana sekarang juga." tanya Dhea.



"Rumah sakit yang ada dekat rumah ibu saya, kalau dari rumah ibu kesini itu jauh dan membutuh kan waktu yang lumayan lama." ucap Suci.



"Tidak apa-apa, kamu kirim alamat nya sekarang juga." ucap Dhea.

__ADS_1



"Baik bu, saya sharelock sekarang juga." jawab Suci lalu memutuskan panggilan nya.



"Kak, perut nya masih sakit ngga? Kita ke rumah sakit apa langsung menemui Alina? Tanya Dhea.



"Kita temui Alina dulu, kalau semua sudah jelas baru kakak akan berobat." jawab Gilang dengan hati yang berdebar.



"Tapi sakit kakak gimana?" tanya Dhea sambil menatap ke arah Gilang.



"Sudah ayo kita berangkat dek." jawab Gilang yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Alina.



Ponsel Dhea pun terdengar ada suara notifikasi masuk dan langsung Dhea membuka nya.



"Kak, tapi kita membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga jam untuk sampai ke rumah sakit ini." ucap Dhea.



"Kalau begitu kakak yang setir, biar cepat sampai." ucap Gilang sambil keluar dari mobil.



"Tapi kak, kakak kan lagi sakit, adek takut kakak ngga kuat." Dhea pun mengkhawatirkan kondisi kakak nya.



"Kamu tenang saja, kakak bisa menhan nya." jawab Gilang sambil masuk dan duduk di belakang kemudi.



Dhea pun pasrah dengan kemauan Gilang kakak nya, dan akhir nya memilih duduk di samping Gilang.



Gilang pun melajukan mobil nya, mula-mula mobil melaju dengan perlahan, lama kelamaan mobil pun semakin cepat.



"Kak, jangan ngebut-ngebut, adek belum nikah." teriak Dhea.



"Kakak juga belum nikah dek." jawab Gilang.



"Tapi kakak kan sudah kawin, kalau adek nikah sama kawin belum." jawab Dhea.



"Awas lo ya dek, kalau kawin duluan sama si Glen, kakak habisi si Glen." ucap Gilang sambil terus melajukan mobil nya.



"Yey kakak aja ngga ada yang marah, kenapa kalau adek yang melakukan nya kakak marah." ucap Dhea.



"Karena kamu itu perempuan dek, ah sudah lah kamu diam saja, biar kakak fokus setir mobil nya, biar kita cepat sampai." ucap Gilang.



Untung malam hari jalanan ngga seperti siang hari yang selalu macet dan penuh dengan kendaraan, malam hari paling ada satu atau dua saja kendaraan yang lewat.


__ADS_1


"Yang, tunggu mas, mas akan datang dan membawa kamu pulang ke rumah kamu." gumam bathin Gilang sambil terus fokus mengemudi.


__ADS_2