
Nura dan Nuri pun sedang menunggu martabak pesanan nya sambil duduk dan berbincang.
"Kalian lagi ngapain, malam-malam di sini?" tanya Ronald pada Nura dan Nuri.
"Eh kak Ronald, ini kak kita lagi beli martabak pesanan kakak." jawab Nura.
"Gimana keadaan kakak kalian?" tanya Ronald.
"Alhamdulilah baik kak." jawab mereka berdua.
"Neng, ini pesanan nya sudah selesai." ucap penjual martabak.
"Oh iya pak, jadi berapa? Tanya Nuri.
"Biar saya yang bayar pak." teriak Ronald sambil memberikan uang kepada tukang martabak.
"Ngga apa-apa kak, biar kita aja yang bayar." ucap Nura yang merasa ngga enak dengan Ronald.
"Sudah biar kakak saja, uang nya buat uang saku kalian saja." jawab Ronald sambil tersenyum.
"Terima kasih ya kak." ucap Nura dan Nuri bersamaan.
"Ya sudah ayo kakak antar pulang, sudah malam ngga baik kalian berdua jalan di malam hari seperti ini." ajak Ronald.{modus bestie}.
"Ngga apa-apa kak, kita berdua saja, nanti malah ngerepotin." jawab Nura.
"Ngga repot, ayo." ajak Ronald sambil membalik kan tubuh nya.
*
*
"Maksud ibu?" tanya Dhea yang belum paham dengan pertanyaan dari si ibu.
"Kakak kamu ini malam-malam ingin makan mangga muda seperti ini pasti istri nya lagi hamil nak." ucap si ibu.
"Hamil?" gumam Dhea, sambil berpikir.
"Iya nak, coba ajak istri nya ke dokter untuk periksa, pasti tebakan ibu benar." jawab si ibu.
"Oh iya bu, nanti saya bawa kakak ipar saya ke dokter." jawab Dhea.
"Dek, udah ni, ayo kita pulang." ajak Gilang sambil memegang dua buah mangga muda yang masih utuh dan yang satu sedang di gigit nya.
"Kak, mangga nya belum di cuci kok udah di makan, emang nya ngga asam ya kak?' tanya Dhea sambil merem, merasakan asam nya mangga muda yang di makan Gilang.
__ADS_1
"Udah kok, tuh di sana, manis lo dek, mau ngga?" ucap Gilang sambil memberikan mangga yang sudah di gigit nya kepada Dhea.
"Emang manis ya kak? Tanya Dhea sambil menatap mangga muda yang ada di tangan kakak nya.
"Ni coba saja sendiri, pasti habis ini kamu minta lagi." ucap Gilang.
Dhea pun penasaran dengan rasa mangga muda yang di pegang kakak nya itu, lalu mengambil dan menggigit nya.
"Kakak." teriak Dhea sambil merem dan bergidik, lalu membuang mangga yang sudah di gigit nya.
"Kenapa dek?" tanya Gilang yang tanpa dosa sambil merebut kembali mangga yang ada di tangan Dhea.
"Manis darimana kak, itu asam banget." teriak Dhea yang masih terus merem sambil bergidik.
Ibu yang mempunyai pohon mangga tersebut hanya bisa tertawa melihat kelakuan adik kakak itu.
"Nak, kalau menurut kita itu mangga pasti asam, tapi kalau menurut yang lagi ngidam atau yang istri nya ngidam pasti di bilang manis." ucap si ibu pada Dhea.
"Tapi kan yang ngidam istri nya, terus kenapa suami nya juga ikut ngidam bu?" tanya Dhea.
"Itu gimana orang nya nak, kadang ada yang hanya istri nya saja, kadang juga ada yang suami nya saja, dan juga kadang ada yang dua-dua nya ngidam." jawab si ibu.
"Oh gitu ya bu, ya udah makasih ya bu mangga dan penjelasan nya." ucap Dhea.
"Dek, pulang yuk, bu makasih ya, mangga nya manis." ucap Gilang sambil terus memakan mangga muda nya.
"Sekali lagi makasih ya bu, dan kami pamit pulang, assalamualaikum." ucap Dhea.
"Waalaikum salam, hati-hati nak." jawab si ibu.
Dhea hanya mengangguk tersenyum lalu berlalu menuju mobil nya nyusul Gilang yang sudah duduk di dalam mobil.
"Kita ngga jadi beli pecel lele nya kak?" tanya Dhea sambil melajukan mobil nya.
"Ngga ah, kakak mau makan mangga ini saja." jawab Gilang.
"Apa benar yang ibu itu bicarakan tadi ya? Apa sekarang Alina sedang hamil? Kalau benar Alina sedang hamil, mamah pasti bahagia, tapi kamu di mana Lin? Kita semua berharap kamu kembali, kasihan kakak di sini, dia sampai membeli rumah keluarga kamu dengan harapan kamu akan kembali dan mengisi rumah kamu kembali." gumam bathin Dhea sambil mengemudi dan sesekali melirik ke samping ke arah kakak nya.
Ya, setelah Gilang tahu dari pak RT tempat tinggal Alina kalau rumah Alina mau d jual, Gilang pun langsung membeli rumah itu dengan catatan pak RT jangan bilang ke keluarga Alian kalau dia yang telah membeli nya.
*
*
__ADS_1
Ronald, Nura dan Nuri pun kini sudah sampai di rumah nya.
"Ayo masuk kak." ajak Nura dan Nuri.
"Makasih." jawab Ronald sambil mengikuti Nura dan Nuri masuk ke dalam rumah.
"Bapak sama ibu sudah istirahat ya?" tanya Ronald.
"Sudah kak, sebentar ya kak, aku panggil kak Alina dulu." ucap Nuri, sedang kan Nura memindah kan martabak ke piring.
"Kak, udah tidur ya?" tanya Nuri setelah membuka kamar pintu.
"Belum, kan kakak lagi nunggu martabak, mana martabak nya?" ucap Alina sambil melihat ke arah Nuri.
"Martabak nya di ruang tamu, ayo kita kesana." jawab Nuri.
"Kok di ruang tamu sih dek, bawa aja kesini napa." ucap Alina.
"Ngga bisa kak, karena di sana ada kak Ronald." jawab Nuri sambil tersenyum.
"Kok kak Ronald kemari? Mau ngapain?" tanya Alina.
"Ngga tahu lah kak, mungkin mau ngapel sama kakak kali." jawab Nuri.
"Kamu ini." ucap Alina sambil turun dari tempat tidur dan merapihkan baju tidur nya yang sedikit acak-acak kan.
Alina pun keluar kamar dan menemui Ronald yang sudah duduk dengan Nura di kursi tamu.
"Eh, ada kak Ronald rupanya." ucap Alina basa basi.
"Maaf kakak mengganggu istirahat nya, kamu udah baikan kan?" tanya Ronal sambil tersenyum.
"Udah kok kak, besok juga udah bisa masuk kerja lagi." jawab Alina, lalu duduk di depan nya.
"Kalau begitu kita masuk ke kamar dulu ya kak." ucap Nura dan Nuri, lalu pergi meninggalkan Alina berdua dengan Ronald.
"Kalau kamu belum sehat benar, jangan masuk saja dulu ngga apa-apa." ucap Ronald.
"Ngga enak sama yang lain kak, masa kerja baru sebulan sudah banyak libur nya." ucap Alina.
"Lin, kakak ingin mengatakan sesuatu sama kamu, tapi kamu janji ngga akan marah ya sama kakak." ucap Ronald.
"Apa yang akan kakak katakan emang nya?" tanya Alina sambil melirik ke arah martabak.
__ADS_1
"Sebenar nya kakak suka sama kamu, kakak ingin hubungan kita lebih dari sekedar atasan dan bawahan." ucap Ronald.