
Hari ini adalah hari yang Gilang dan Alina nantikan, mereka telah melewati berbagai kendala untuk duduk bersanding di kursi pelaminan, walaupun status mereka sudah sah menjadi suami istri sejak tiga bulan lalu.
Gilang bersama kedua orang tua nya berangkat di malam hari, dan kantor pun di liburkan selama dua hari, semua karyawan di pastikan hadir karena pak Surya sudah menyiapkan lima buah bus untuk keberangkatan para karyawan nya.
Para pekerja sangat bahagia sekali, karena selain menghadiri pernikahan anak nya pak Surya, mereka juga sekalian berekreasi di daerah nya Alina.
Diantara para karyawan semua nya yang paling bahagia adalah Suci, dia bisa sekalian bertemu kembali dengan ibu nya, karena semenjak Alina lahiran dan ibu nya di rawat Suci belum pernah kembali ke rumah orang tua nya.
"Des, kakak ikut ya?" tanya Rena.
"Ngga mbak, karena ngga ada tempat untuk orag luar, semua fasilitas hanya untuk para karyawan." jawab Desi.
"Kamu mau perhitungan dengan saudara kamu ini, kakak juga dulu sering ngajak kamu." ucap Rena dengan nada sedikit tinggi.
"Kak, bukan aku ngga mau ngajak kakak, tapi fasilitas untuk pergi kesana memang perusahaan yang siapkan, dan aku hanya di jatah kursi cuma satu kursi aja." jawab Desi.
"Ya sudah kalau gitu kakak pergi sendiri saja sini minta alamat nya." ucap Rena.
Rena memang sudah bertekad ingin menghancurkan rumah tangga Gilang, karena Rena tidak mau kalau Gilang menjadi milik orang lain.
"Tuh udah ku kirim." ucap Desi, Desi terpaksa memberikan alamat kediaman Alina karena dia ngga mau berdebat dengan Rena.
"Gila, jauh banget rumah nya, kamu berangkat jam berapa Des?" tanya Rena.
"Kita berangkat jam empat pagi, biar nanti di sana kita bisa istirahat dulu walaupun cuma sebentar." jawab Desi.
Rena pun terdiam, bagaimana pun dia harus datang ke acara resepsi nya Gilang.
*
*
Pagi ini mereka sibuk mempersiapkan diri nya untuk acara siang nanti, Dhea yang masih sibuk kesana kemari, belum sempat bertemu dengan orang tua dan kakak nya, mereka hanya berkomunikasi lewat telepon saja.
Alina sudah memandikan dan membuat si kembar rapih dan wangi.
"Hai sayang-sayang nya aunty apa kalian sudah ready?" teriak Nura sambil masuk ke kamar nya Alina di ikuti Nuri dari belakang.
"Sudah dong aunty, kita sudah pada cakep dan wangi." jawab Alina dengan menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
"Kalau gitu kita ke depan yuk, mereka udah pada kenyang belum kak?" tanya Nuri.
"Sudah dek, oh iya itu semua peralatan nya si kembar, di situ juga sudah ada dot dan susu formula nya si kembar." ucap Alina sambil menunjuk sebuah tas yang berukuran sedang.
"Permisi, boleh saya masuk?" ucap seseorang yang sudah berdiri di depan pintu kamar nya Alina.
"Oh iya mbak eh mas, masuk saja." jawab Alina sambil melihat ke arah pintu, Alina bingung harus panggil apa karena dia seorang pria tapi seperti wanita.
"Kalau gitu kita bawa si kembar ke depan ya kak." ucap Nura sambil menggendong baby Azzam.
"Nur, si kembar nya di stroller aja jadi kita sekalian bawa tas nya." ucap Nuri.
"Oke deh, baby Azzam sama baby Azzura di stroller dulu ya? Nanti di sana kita gendong lagi." ucap Nura.
"Wah mereka pada lucu ya? Baby kembar di asuh sama aunty kembar." ucap mbak sambil tersenyum menatap mereka.
"Kita bawa si kembar ke depan dulu ya, mari mbak eh mas." ucap Nura dan Nuri lalu pergi meninggalkan kamar kakak nya sambil sedikit tersenyum karena merasa lucu melihat orang yang mau merias kakak nya.
"Iya, em maaf saya harus memanggil apa ya?" tanya Alina merasa tidak enak.
"Terserah mbak saja enak nya gimana, tapi mereka suka manggil saya Yanti kalau lagi merias." jawab Yanto.
"Terus kalau lagi ngga merias mereka manggil nya apa?" tanya Alina penasaran.
"Mereka manggil nya YANTO." jawab Yanto dengan suara laki-laki nya.
Alina pun tertawa terbahak-bahak, sumpah demi apapun Alina tidak bisa menahan tawa nya.
"Maaf mbak bukan saya menertawakan mbak, tapi mbak nya lucu." ucap Alina di sela tawa nya.
"Ngga apa-apa santai saja, kadang saya pun merasa lucu dengan diri saya." ucap Yanto sambil mengeluarkan semua peralatan make up nya.
"Pantesan ya aku teleponin dari tadi ngga dijawab-jawab, ternyata kalian berdua lagi pada tertawa berjamaah di sini." teriak Dhea yang baru masuk.
__ADS_1
"Eh emang nya yey nelepon eyke?" tanya Yanto dengan tangan yang gemulai nya.
"Iya dari subuh eyke sudah hubungin yey, tapi ngga diangkat juga, takut nya yey kesiangan kan malam yey suka deketin om-om." ucap Dhea menirukan nada bicara nya Yanto.
Dhea sudah mengenal lama Yanto, dan hasil riasan nya pun tidak mengecewakan, makanya Dhea meminta dia untuk merias Alina.
"Enak aja, malam ekye libur, kan yey yang undang eyke kesini, eyke ngga berani ganggu om-om di sini." ucap Yanto.
"Kenapa ngga berani? Biasa nya juga agresif." tanya Dhea.
"Takut diarak orang sekampung\>" jawab Yanto, Dhea dan Alina pun tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari Yanto.
"Mbak nya sudah sarapan belum? Kalau belum mbak sarapan dulu, takut nya nanti pingsan lagi." tanya Yanto sambil memulai aksi nya.
"Sudah mbak." jawab Alina.
"Terus yey sudah sarapan belum? Tanya Dhea.
"Sudah tadi sarapan berondong." jawab Yanto sambil merias wajah Alina.
"Wah seger dong kalau gitu." ucap Dhea sambil tersenyum, Dhea itu suka sekali menggoda Yanto.
"Uh banget, yey tahu ngga kalau berondong sudah jalan sama eyke, dijamin ngga bakalan bisa move on." jawab Yanto.
"Yang, kunci mobil dimana? Aku mau ajak jalan-jalan si kembar dulu sebentar." ucap Glen sambil mengetuk pintu.
"Masuk saja pak Glen." teriak Alina yang sudah kenal dengan suara Glen.
Glen pun melangkah masuk sambil tersenyum, Yanto yang sedang merias pun dibuat nya melongo dengan ketampanan Glen.
Yanto memang belum tahu pacar nya Dhea, karena mereka memang jarang bertemu, kecuali kalau ada acara tertentu saja.
"Uh mas nya ganteng banget, mas nanti malam kita jalan yuk, aku nginap di hotel xxxx no 123, kalau boleh minta no ponsel nya dong mas." ucap Yanto dengan genit dan centil.
__ADS_1
"Eh yey jangan ganggu calon suami eyke ya? Awas ye kalau yey jadi pelakor diantara kita, eyke cincang yey jadi perkedel." ucap Dhea membuat Yanto menggidikan kedua bahu nya.