Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Keras Kepala


__ADS_3

"Ada apa kak?" tanya Dhea yang baru kembali dari toilet.



"Ini ada wanita yang haus kasih sayang karena sudah ngga ada yang beli." jawab Alina sambil melirik ke arah Rena.



"Kurang ajar kamu." teriak Rena sambil melayangkan tangan nya hendak menampar Alina.



"Apa yang akan kamu lakukan kepada istri saya." ucap Gilang sambil menahan tangan Rena dengan erat lalu menghempaskan nya.



"Oh ternyata kamu, cari kak Gilang lagi ya? Karena udah ngga ada yang bisa kamu peras lagi? di sana ada pengusaha kaya, kalau kamu mau aku kenalkan sekarang juga." ucap Dhea sambil tersenyum miring.



"Breng sek kalian semua, awas saja nanti." teriak Rena sambil nunjuk mereka bertiga.



"Ada apa ini Yang?" tanya Glen sambil menatap mereka.



"Bang tolong usir perempuan gila harta ini, dia sudah buat rusuh acara kakak." ucap Dhea.



"Perempuan seperti ini yang membuat persahabatan lo dan Ronald hancur, ngga ada bagus-bagus nya juga, cantikan pegawai mini market nya Ronald." ucap Glen yang tanpa sadar telah membuat Dhea marah.



"Kalian semua menghina saya, saya akan buat acara ini kacau." teriak Rena.



Desi yang sedang menikmati hidangan bersama teman-teman nya tanpa sengaja melihat ke arah pelaminan.



"Kak Rena? Kenapa dia bisa ada di sini?" gumam bathin Desi.



"Eh aku kesana dulu sebentar ya." ucap Desi sambil berdiri, lalu pergi meninggalkan teman-teman sekantor nya.



"Kak Rena, kakak lagi ngapain di sini?" tanya Desi yang sudah berada dekat dengan mereka.



"Kamu kenal dia Des?" tanya Gilang.



"Dia saudara sepupu saya pak, maaf kalau sudah membuat semua nya merasa terganggu dan tidak nyaman." ucap Desi sopan.



"Karena dia saudara kamu saya maafkan, tapi tolong bawa dia pergi jauh dari sini, saya sudah muak melihat wajah nya lagi." ucap Gilang dengan tegas.



"Baik pak, kak ayo kita keluar." ajak Desi sambil menarik tangan Rena.



"Tidak, aku tidak mau, aku akan menghancurkan pesta nya." teriak Rena.



"Sudah cukup kak, kakak jangan mempermalukan diri kakak lagi, bagaimana pun pak Gilang sudah menikah dengan bu Alina." ucap Desi.



"Kamu jangan ikut campur urusan kakak, kamu tidak akan mengerti." ucap Rena sambil menghempas kan tangan Desi.



"Baik, Desi tidak akan ikut campur lagi urusan kakak, jadi kalau ada apa-apa kakak tanggung sendiri akibat nya, dan jangan sekali-kali melibatkan Desi." teriak Desi yang sangat kesal dengan saudara sepupu nya ini.


__ADS_1


"Maaf pak, saya sudah membuat rusuh di acara bapak, sekarang terserah bapak mau diapakan saudara saya ini, saya sudah ngga perduli lagi." ucap Desi sambil menunduk kan kepala nya.



"Ya sudah mbak Desi, mbak Desi ngga salah kok, silahkan mbak Desi menikmati lagi hidangan dan acara nya." ucap Alina sambil tersenyum.



"Terima kasih bu, kalau begitu saya permisi." ucap Desi lalu pergi meninggalkan Rena.



"Dasar keras kepala, mau di tolongin agar jauh dari masalah, malah membuat masalah, ngapain juga sih dia pakai acara ke sini padahal diam saja sana di luar negeri, untung mereka baik, kalau ngga aku bisa di pecat gara-gara kak Rena." gumam Desi sambil berjalan menemui teman-teman kantor nya.



"Jadi kamu mau pergi dengan suka rela atau di seret?" tanya Glen sambil menatap tajam Rena.



"Kamu jangan ikut campur, ini urusan saya sama Gilang." ucap Rena.



"Jelas jadi urusan saya, karena dia adalah kakak ipar saya." jawab Glen.



"Oh berarti kalian sekeluarga sekongkol untuk mengeroyok saya, baik lihat saja nanti saya akan lapor polisi dengan pasal pengeroyokan." ucap Rena sambil mengambil ponsel dari dalam tas nya.



"Ngga usah repot-repot memanggil polisi, saya sudah memanggil nya kesini dan sekarang polisi dalam perjalanan ke sini untuk menangkap seorang perusuh dan penipu." ucap Ronald yang kini sudah ada diantara mereka.



Semua nya melihat ke arah Ronald termasuk Rena.



"Bajingan kamu Ronald, awas kalian semua." teriak Rena lalu pergi dari acara resepsi pernikahan nya Gilang.



"Dasar perempuan gila, pergi sana yang jauh dan ngga usah kembali di muka bumi ini." ucap Glen.




"Ngga, kakak cuma menggertak dia saja." jawab Ronald santai.



"Gue kira beneran." ucap Gilang.



"Lagian dia keras kepala banget, pakai ngaku-ngaku hamil segala." jawab Ronald.



"Jangan-jangan anak itu." ucap Gilang menggantung kalimat nya.



"Apa." jawab mereka bersamaan.



"Anak nya Ronald." ucap Gilang sambil tertawa.



"Breng sek lo." teriak Ronald sambil menatap tajam pada Gilang.



"Anak kak Ronald maksud nya?" Tanya Nazwa yang baru menghampiri mereka.



"Ngga, kamu jangan dengarkan apa yang dia katakan." ucap Ronald.



"Tadi katanya anak kak Ronald, apa kak Ronald sudah punya anak?" tanya Nazwa sambil menatap mereka satu per satu.

__ADS_1



"Bukan Yang, perempuan yang menemui kita tadi ngaku-ngaku hamil sama Gilang." jawab Ronald.



"Oh kirain kakak punya anak." ucap Nazwa.



"Si kembar sama siapa Yang?" tanya Ronald.



"Lagi sama kak Rehan dan kak Cindy di sana." jawab Nazwa.



"Ya udah kita ajak main si kembar lagi Yang." ajak Ronald sambil menggandeng tangan Nazwa.



"Aku ikut." teriak Dhea tanpa memperdulikan Glen yang ada di samping nya.



"Yang aku ikut." teriak Glen, tapi Dhea tidak memperdulikan nya sama sekali.



"Kenapa dia?" tanya Glen sambil menatap Gilang dan ALina.



"Seperti nya Dhea lagi marah deh." ucap Alina.



"Lo sudah berbuat apa dengan adik gue?" tanya Gilang.



"Ngga tahu, tadi baik-baik aja kok." jawab Glen.



"Ya sudah kalau gitu kakak samperin Dhea, tanya kenapa dia marah." ucap Alina.



"Ya sudah kakak samperin Dhea dulu." ucap Glen lalu pergi meninggalkan Gilang dan Alina.



"Yang, kamu marah sama abang?" tanya Glen sambil meraih tangan Dhea.



"Lepaskan bang, ngapain abang perduli sama Dhea?" tanya Dhea sambil menepiskan tangan nya.



"Bentar-bentar, tolong kamu jelaskan dulu apa salah abang sama kamu, sampai kamu marah sama abang seperti ini." tanya Glen.



"Samperin aja sana pegawai mini market nya kak Ronald, bukan nya pegawai mini market kak Ronald lebih cantik." jawab Dhea.



Glen pun terdiam dan mencerna semua yang di ucapkan oleh Dhea.



"Ya ampun Yang, kamu marah sama abang hanya karena abang tadi bilang lebih cantik pegawai mini market nya Ronald ketimbang Rena?'" ucap Glen sambil tertawa.



"Kenapa abang tertawa? Memang nya ada yang lucu." tanya Dhea sambil cemberut.



"Ya lucu aja Yang, kamu marah hanya karena abang membandingkan Rena dengan pegawai mini market nya Ronald." jawab Glen sambil tersenyum.



"Kamu itu ngga bisa di bandingkan sama siapa pun, kamu adalah wanita tercantik di hati abang." ucap Glen sambil menyimpan tangan Dhea di atas dada samping nya.

__ADS_1


__ADS_2