Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Ingin Makan Rujak


__ADS_3

Seharian ini Gilang pun tertidur di temani Alina istri nya, Alina yang memang semalam kurang tidur ikut tidur nyenyak sambil memeluk suami nya.



"Yang, bangun." ucap Gilang sambil menggoyangkan tubuh Alina.



"Iya mas, ada apa?" tanya Alina sambil mengerjap kan kedua mata nya.



"Mas ingin makan rujak, beliin rujak dong Yang." ucap Gilang.



"Rujak? Tidak, mas lagi sakit jangan makan rujak." ucap Alina sambil bangun dari tidur nya.



"Iya Yang, mas ingin makan rujak yang sangat pedas, ayo dong Yang belikan." Gilang pun terus merengek minta di belikan rujak yang pedas.



"Tapi mas lagi sakit, mamah juga pasti akan marah kalau tahu mas makan rujak apalagi rujak nya pedas, bukan nya mas ngga suka makan pedas?" tanya Alina dengan tatapan heran.



"Pokok nya mas mau makan rujak." teriak Gilang lalu menutup seluruh tubuh nya dengan selimut tebal.



"Kamu ini aneh sekali sih mas, kenapa kamu tiba-tiba mau makan rujak? Pakai merajuk segala lagi." gumam Alina lalu turun dari tempat tidur nya.



"Kakak ipar ada di dalam ngga?" teriak Dhea sambil mengetuk pintu kamar Gilang.



"Suara Dhea?" gumam Alina lalu membuka pintu kamar nya.



"Dhea? kapan kamu kesini?" tanya Alina sambil memeluk erat Dhea.



"Baru saja, papah sama mamah lagi pada keluar ya?" ucap Dhea sambil melepaskan pelukan nya.



"Iya, tadi sih mamah bilang mau menemani papah, mungkin mau ketemu klien nya, oh iya Gracia mana?." tanya Alina.



"Di bawah sama mas Glen, Kakak ipar lagi ngapain di dalam kamar terus, ngga bosen seharian di kamar?" tanya Dhea.



"Aku lagi jagain mas Gilang, dia lagi sakit sampai ketiduran, ini baru aja kebangun." jawab Alina sambil melihat kearah tempat tidur nya.



"Sakit apa kakak?" tanya Dhea sambil masuk ke dalam kamar Gilang.



"Badan nya lemes, pusing makanya ngga masuk kantor dulu." jawab Alina sambil duduk di sisi tempat tidur.



"Mas, ada Dhea lo." ucap Alina sambil berusaha membuka selimut tebal yang menutupi tubuh suami nya.



Tapi selimut itu susah untuk di singkapkan atau di tarik, karena Gilang memegang nya dengan sangat erat sekali.


__ADS_1


"Kenapa dengan kakak, sampai ditutup seperti itu tubuh nya?" tanya Dhea sambil menatap Alina.



"Dia lagi merajuk." jawab Alina.



"Memang nya kenapa? Kok bisa merajuk seperti ini?" tanya Dhea.



"Tadi dia mau makan rujak yang pedas, tapi aku bilang ngga boleh kan lagi sakit, apalagi rujak nya pedas, kan takut kenapa-napa sama lambung nya, apalagi tadi pagi sampai muntah-muntah segala." jawab Alina.



Dhea pun terdiam dan mencerna semua yang diucapkan Alina, Dhea pun teringat di kala Alina sedang mengandung si kembar, malam-malam Gilang minta di petikin mangga muda dan langsung memakan nya dengan lahap.



"Aku tahu dengan sakit nya kakak ini, sudah lah kak kita belikan saja." ucap Dhea sambil tersenyum.



"Kok kamu malah mau ngasih sih Dhe? Mas Gilang kan lagi sakit." ucap Alina.



"Kakak benar ngga merasakan dan menyadari nya?" tanya Dhea.



"Maksud kamu apa sih Dhe? Kakak ngga ngerti." ucap Alina yang belum paham dengan pertanyaan Dhea.



"Nanti juga kakak akan tahu dan akan menyadari nya, kak Gilang ayo bangun nanti adek belikan rujak yang pedas buat kakak." ucap Dhea.



Gilang yang mendengar akan di belikan rujak pun langsung menyingkapkan selimut nya lalu terbangun dari tirdur nya.




"Iya kakak ipar juga ikut kok, sekarang kakak bangun dan cuci muka, lalu kita pergi beli rujak." ucap Dhea sambil menarik selimut dari tangan Gilang.



"Bener Yang?" tanya Gilang sambil menatap Alina.



Alina pun mengangguk setelah mendapat sebuah anggukan dari Dhea.



"Iya, aku juga ikut." jawab Alina sambil tersenyum tak mengerti.



Gilang pun langsung pergi ke kamar mandi dan mencuci muka nya.



"Kenapa kamu malah ngajak mas Gilang beli rujak Dhe? kalau tambah sakit gimana?" tanya Alina.



"Kakak ipar tenang saja, nanti juga bakalan tahu, nanti setelah beli rujak kita mampir ke apotek dulu ya." jawab Dhea sambil tersenyum.



"Terserah kamu lah Dhe, pusing aku memikirkan nya, kalau gitu aku ganti baju dulu." ucap Alina.



"Ya sudah kalau gitu aku tunggu di bawah ya kak." ucap Dhea lalu pergi meninggalkan kamar Gilang.

__ADS_1



Dhea pun menghampiri Glen dan Gracia yang sedang duduk di ruang keluarga sambil nonton televisi.



"Kenapa kamu senyum-senyum Yang? Kakak ipar nya mana?" tanya Glen sambil melihat ke arah tangga.



"Nanti mereka nyusul." jawab Dhea lalu duduk di samping suami nya.



"Mereka? Maksud kamu Yang?" tanya Glen sambil mengerutkan kening nya karena setahu Glen Gilang pasti lagi di kantor.



"Ya mereka? Kak Gilang sama kakak ipar." jawab Dhea santai.



"Memang nya Gilang ngga ke kantor?' tanya Glen kaget.



"Ngga, kak Gilang lagi sakit, tapi menurut aku sih itu bawaan orok." jawab Dhea.



"Maksud kamu kakak ipar lagi hamil lagi?" tanya Glen.



"Ya perkiraan aku kakak ipar lagi hamil, soal nya kak Gilang minta di beliin rujak yang sangat pedas, tapi kakak ipar ngga menyadari nya." jawab Dhea.



"Berarti mereka belum tahu kalau mereka akan punya?" ucapan Glen terhenti karena terdengar suara Gilang dari arah belakang mereka.



"Punya apa? Kalian kapan kesini? lo ngga kerja Glen?" tanya Gilang sambil menghampiri mereka.



"hai bro, lo ngga kerja? Tumben lo ngga masuk kantor?' bukan nya menjawab Glen malah memberikan pertanyaan lagi kepada Gilang.



"Gue lagi ngga enak badan, badan gue lemes terus pusing, bahkan tadi pagi gue muntah-muntah segala." jawab Gilang sambil duduk di depan Glen dan Dhea.



"Hai cia sayang, kamu sangat cantik sekali nak, sini sama mamah." ucap Alina.



Alina memang ingin di panggil mamah sama anak adik ipar nya, bahkan sama anak-anak adik kembar nya pun nanti nya ingin di panggil mamah.



"Ya sudah ayo dong Yang, kita berangkat sekarang aku sudah ngga sabar ingin makan rujak." ucap Gilang.



"Lo mau makan rujak? Bukan nya lo ngga suka makan pedas?" tanya Glen.



"Entahlah, pokok nya sekarang gue ingin makan rujak." jawab Gilang



"Ya sudah ayo kita berangkat, bang ayo sekalian ikut, kita sekalian makan siang di luar saja." ajak Dhea.



"Ya sudah ayo, tapi kakak kamu yang bayar ya?" ucap Glen sambil tersneyum.

__ADS_1



"Iya gue yang bayarin, dasar laki-laki matre." ucap Gilang sambil berjalan keluar di ikuti mereka sambil tersenyum Melihat kelakuan Gilang.


__ADS_2