Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Sah


__ADS_3

"Baiklah kalau begitu kita mulai saja ijab nya, silahkan nak Gilang jabat tangan dari wali mempelai wanita." ucap ustadz Soleh.



Gilang pun menjabat erat tangan pak Abidin, lalu melakukan ijab qabul nya.



"Untuk maskawin nya apa sudah di siapkan?" tanya ustadz Soleh.



"Ini pak ustadz." jawab bu Dewi sambil mengeluarkan sebuah kotak sedang dan membuka nya yang ternyata isinya adalah seperangkat perhiasan emas putih.



Mata Nazwa dan Risma menatap perhiasan tersebut tanpa berkedip. "Ya ampun, itu pasti harga nya mahal, kamu beruntung sekali mbak punya suami dari kalangan kaya raya dan kelihatan juga orang nya pada baik-baik." gumam bathin Nazwa.



"Baik kedua pengantin sudah siap, para saksi dan wali juga siap serta maskawin sudah disiapkan, mari kita mulai acara ijab qabul ini, kasihan mempelai pria sudah ngga sabar kayak nya." ucap ustadz Soleh.



Ustadz Soleh pun membimbing Gilang untuk membaca kalimat istighfar, dua kalimat


syahadat juga shalawat, lalu dilanjutkan dengan ijab qabul.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Gilang Ramdani Saputra bin bapak Surya Saputra dengan anak saya yang bernama Alina Pratiwi Permana dengan maskawin nya berupa seperangkat perhiasan, tunai." ucap pak Abidin dengan sangat jelas.



"Saya terima nikah nya Alina Pratiwi Permana binti bapak Abidin Permana dengan maskawin seperangkat perhiasaan dibayar tunai." jawab Gilang dengan suara yang sangat lantang.



"Gimana para saksi sah?" tanya ustadz Soleh sambil menatap mereka satu per satu.



"Sah." jawab mereka serempak.



Seakan ikut bahagia dengan kedua orang tua nya yang sudah bersatu si kembar pun tertawa, dan membuat semua orang menatap si kembar.



"Si kembar pun bilang sah itu." ucap Dhea pelan.



"Alhamdulilah akhir nya ijab selesai dan mulai sekarang kalian sudah sah sebagai suami dan istri, tapi ingat kalian belum boleh tidur satu ranjang, tunggu tiga bulan lagi." ucap ustadz Soleh sambil tersenyum.



Acara ijab pun selesai Gilang memakai kan cincin ke jari manis nya Alina dan Alina memakaikan cincin ke jari manis nya Gilang, lalu Alina mencium telapak tangan Gilang dan Gilang mencium mesra kening nya Alina.



Setelah menandatangani buku nikah dan yang lain nya, maka selesai sudah acara malam ini.



"Selamat ya buat kalian berdua, jangan pernah kamu sakiti istri kamu apapun alasan nya, sayangi dan cintai istrimu, mulia kan dia." ucap ustadz Soleh sambil membereskan semua berkas nya.



"Insya Allah saya akan selalu menjaga, menyayangi dan mencintai istri saya." jawab Gilang.



"Kalau begitu tugas saya sudah selesai, jadi saya mohon undur diri." ucap ustadz Soleh.

__ADS_1



"Jangan pulang dulu pak, kita makan malam sekalian, sayang kan mubazir ntar makanan yang sudah istri saya siap kan ngga di cicipi nya." ajak pak Abidin sambil tersenyum.



"Ya sudah kalau begitu, ayo kita makan semua nya." jawab ustadz Soleh.



Mereka pun semua nya melakukan makan bersama di rumah pak Abidin setelah memberikan selamat kepada Gilang dan Alina.



"Selamat ya mbak, akhirnya mbak dipertemukan dengan ayah nya si kembar, dan ini ada sedikit hadiah dari kita berdua buat si kembar." ucap Nura.



"Makasih ya, kalian berdua sudah mau jadi saksi pernikahan mbak." jawab Alina sambil tersenyum dan saling memeluk.



"Ini siapa? Pacar kamu ya Wa?" tanya Alina sambil menatap kearah Rehan.



"Ini saudara nya Risma mbak." bisik Nazwa.



"Tapi kok kalian baju nya couple lan? Apa kalian ada hubungan?" tanya Alina.



"Kita hanya pasangan bohongan mbak, untuk membuat kak Ronald cemburu dan menyatakan perasaan nya." bisik Nazwa.



"Oh begitu cerita nya, tapi seperti nya kak Ronald sudah cemburu kalau mbak lihat." ucap Alina sambil melirik ke arah Ronald yang memang sedang melihat ke arah Nazwa.




"Tenang saja, mbak akan menjaga rahasia ini. Ya sudah kalian makan dulu sana." jawab Alina.



"kalau gitu kita makan dulu ya mbak." ucap Nazwa dan Risma.



Rehan pun berjalan dengan tangan memeluk bahu Nazwa, karena Risma yang nyuruh karena Ronald dari tadi melihat nya.


*


*


"Kamu sangat cantik Yang, pakai kebaya itu." ucap Gilang sambil menatap wajah cantik nya Alina.


"Kamu juga tampan mas pakai jas itu." jawab Alina sambil tersenyum.



"Andaikan kamu ngga masa nifas, malam ini akan menjadi malam panjang kita Yang, tapi apalah daya aku harus menunggu tiga bulan lagi." ucap Gilang.



"Sabar aja, kemarin aja bisa hidup tanpa aku setahun apalah artinya tiga bulan." ucap Alina.



"Sekarang beda Yang, sekarang kita sudah halal, kalau kemarin kan belum." jawab Gilang.

__ADS_1



"Memang nya mas kapan mau pulang?" tanya Alina sambil menatap Gilang sendu, seakan-akan dirinya ngga mau di tinggal Gilang.



"Besok pagi mas harus pulang, karena mau langsung ke kantor, kerjaan pasti numpuk di tinggal beberapa hari." jawab Gilang.



"Ya sudah kita terima saja lah mas, mau gimana lagi." ucap Alina sambil menunduk.



"Jangan gitu dong Yang, aku jadi ngga tega ninggalin kamu." ucap Gilang sambil menggenggam erat tangan Alina.



"Kak, si kembar kayak nya lapar deh." ucap Nura dan Nuri sambil membawa si kembar ke hadapan Alina dan Gilang.



"Ya sudah sini kakak yang gendong." ucap Gilang sambil menggendong baby Azzura sedangkan Alina menggendong baby Azzam.



"Kalian makan saja, biar kakak bawa si kembar ke kamar." ucap Alina.



"Iya kak." ucap Nura dan Nuri.



Alina dan Gilang pun membawa si kembar ke kamar nya Alina.



"Mas, aku mau kasih ASI dulu sama si kembar, mas keluar dulu deh." ucap Alina sambil duduk di tepi tempat tidur nya.



"Kan mas sekarang sudah menjadi suami kamu, jadi ngga apa-apa dong melihat kamu memberikan ASI pada si kembar." jawab Gilang.



"Oh iya ya, aku lupa." ucap Alina sambil cengengesan



Gilang pun ikut duduk di samping Alina sambil menggendong baby Azzura.



"Kamu cantik nak, seperti mamah kamu." ucap Gilang sambil mengelus lembut pipi Azzura.



"Baby Azzam juga tampan seperti papah nya." ucap Alina sambil tersenyum.



"Nak, jangan dihabiskan ya? Sisain buat papah nanti." ucap Gilang.



"Apa sih mas, di depan anak-anak ngomong nya kok gitu." jawab Alina.



Gilang yang mendengar ocehan sang istri pun hanya tersenyum.


__ADS_1


"Papah pasti kangen kalian, papah besok mau pulang dulu ya sayang, tiga bulan lagi kita bertemu, papah janji kalian akan papah bawa ke rumah omah dan opah, kita akan hidup bahagia." ucap Gilang sambil mencium pipi mungil Azzura.


__ADS_2