Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Ngga Sabar


__ADS_3

Alina pun masuk kedalam ruang bersalin, ditemani ibu nya, sedangkan pak Abidin, si kembar dan Ronald menunggu di luar ruangan.



"Bu, sakit." teriak Alina sambil menggenggam erat tangan ibu nya.



"Sabar ya nak, nanti juga sakit kamu akan tergantikan sama bayi yang lucu dan imut." jawab bu Diah sambil mengelus lembut punggung nya Alina.



"Kita periksa dulu ya bu." ucap dokter Bela yang menangani persalinan Alina.



"Gimana bu dokter?" tanya bu Diah sambil menatap ke arah dokter Bela.



"Masih di pembukaan tujuh bu, seperti nya bayi-bayi ibu ingin di dampingi sama ayah nya." ucap dokter Bela.



Bu Diah pun menatap ke arah Alina yang sedang menahan sakit, bu Diah bingung harus apa dan harus bagaimana.



"Ya Allah berikan keajaiban mu untuk anak dan cucu hamba." gumam bathin bu Diah.



"Nak kalau kalian mau keluar, keluar dengan selamat ya nak? Nanti papah kalian akan nyusul kesini dan bertemu dengan kalian." gumam bu Diah sambil mengelus lembut perut Alina.


*


*


"Ini kan rumah sakit nya?" ucap Gilang sambil melihat nama rumah sakit di depan nya.


"Gila kamu kak, seandainya mamah dan papah tahu kamu nyetir seperti tadi, kamu bakalan di hukum tahu ngga." teriak Dhea.



"Sudah lah Dek, ini kan lagi buru-buru, jadi wajar saja." jawab Gilang.



"Wajar pala mu kak, badan adek sampai lemes begini kakak bilang wajar? Wajar dimana nya?" teriak Dhea yang kesal dengan cara mengemudi Gilang yang benar-benar diluar dugaan nya.



"Sudah lah jangan drama, coba hubungi Suci lagi, kali aja kita salah rumah sakit." ucap Gilang.



Dhea pun mengambil ponsel lalu mencari no Suci di panggilan masuk, karena Dhea tidak menyimpan nya.


*


*


"Sudah terlalu lama aku di luar, masuk ke kamar lagi lah, kasihan ibu, nanti pas kebangun melihat aku ngga ada di ruangan nya." gumam bathin Suci lalu melangkah masuk ke dalam rumah sakit.


Baru juga masuk ke dalam rumah sakit, ponsel Suci pun bergetar.



Suci melihat kontak di layar ponsel nya, "bu Dhea? Ada apa bu Dhea menghubungiku?" Suci pun bertanya-tanya dalam hati nya sambil menggulir icon warna hijau.



"Iya bu? kenapa?" tanya Suci sambil kembali melangkah kan kaki nya.


__ADS_1


"Ci, nama rumah sakit nya xxxx ini kan?" tanya Dhea.



"Iya bu benar, memang nya ibu dimana sekarang?" tanya Suci sedikit heran.



"Saya lagi di parkiran rumah sakit xxxx, kalau kamu benar ada di rumah sakit ini, tolong sekarang kamu keluar dan temui saya." ucap Dhea dengan sangat jelas.



"Apa bu? Ibu sudah ada di parkiran rumah sakit xxxx ini? Kok bisa bu?" jawab Suci kaget, karena menurut Suci belum ada dua jam lebih Suci memberitahukan Dhea rumah sakit ini, dan sekarang malah sudah ada di parkiran.



"Nanti saja saya cerita, sekarang kamu keluar dulu." ucap Dhea.



Suci pun membalik kan kembali tubuh nya dan melangkah keluar lagi.



"Bu saya ini sudah ada di luar ibu dimana?" tanya Suci sambil melihat ke sekitar halaman rumah sakit.



"Ini saya lagi jalan kesana, oke, saya sudah melihat kamu." ucap Dhea sambil mematikan sambungan telepon nya.



"Itu Suci kak, ayo kita kesana." ucap Dhea sambil menarik tangan Gilang.



"Suci." teriak Dhea dari arah samping Suci yang sedang berdiri.




"Dimana Alina?" tanya Gilang yang sudah ngga sabar ingin segera bertemu.



"Kalau kamar nya saya tidak tahu pak, tapi tadi saya melihat nya masuk, mungkin di ruang bersalin pak." jawab Suci.



"Ya sudah ayo kita tanya suster jaga saja." ajak Dhea sambil melangkah masuk ke dalam rumah sakit itu.



Suci pun mengangguk sambil mengikuti langkah Dhea dan Gilang di belakang nya.



"Sebenar nya pak Gilang ini sama bu Alina apa sama bu Dhea sih, au ah pusing bodo amat yang penting aku sudah kasih kabar ke bu Dhea." gumam bathin Suci sambil terus mengikuti langkah Gilang dan Dhea.



"Malam menjelang pagi suster, saya mau tanya, kalau ruangan bersalin di sebelah mana ya?" tanya Dhea dengan sopan.



"Oh mbak lurus saja dari sini nanti ada arah yang ke kanan atau ke kiri, mbak ambil yang ke kenan di ujung situ ruangan nya." jawab suster jaga sambil mengarahkan tangan nya.



"Kalau atas nama ibu Alina, kamar nya sebelah mana?" tanta Dhea ingin memastikan nya.



"Oh bu Alina yang mau melahirkan yang beberapa jam lalu baru masuk itu ya?" tanya suster kembali.

__ADS_1



"Iya sus yang itu." jawab Dhea dengan mata yang berbinar bahagia.



"Iya yang saya tunjukan tadi mbak, nanti di sana tanyakan saja lagi kepada perawat yang lagi jaga." ucap suster.



"Terima kasih ya sus." ucap Dhea dan Gilang, lalu pergi mengikuti arahan dari suster.



Suci masih mengikuti langkah mereka, karena dia ingin tahu yang sebenar nya terjadi pada mereka.



"Nur, kakak ke toilet dulu sebentar ya?" ucap Ronald kepada Nura dan Nuri.



"Iya kak, tapi kalau kakak mau pulang juga ngga apa-apa, kakak kan belum istirahat." jawab Nura.



"Ngga apa-apa Nur, kakak nungguin si kembar lahir saja, pulang pun kakak ngga bakalan tenang." jawab Ronald.



"Oh ya sudah kalau begitu, makasih ya kak." jawab Nura dan Nuri.



Ronald pun hanya mengangguk dan tersenyum lalu pergi ke toilet yang sedikit jauh dari ruangan bersalin.



Gilang dan Dhea terus menyusuri kamar demi kamar yang ada di rumah sakit itu, hingga mereka melihat ada dua anak perempuan bersama seorang pria paruh baya yang sedang menunggu dengan gelisah.



"Bapak, adek." ucap Gilang setelah dekat dengan mereka bertiga.



Pak Abidin, Nura dan Nuri pun spontan membalikan tubuh nya begitu mendengar suara yang mereka kenali.



"Nak Gilang." gumam pak Abidin sambil menatap wajah Gilang.



"Kak Gilang\>" gumam Nura dan Nuri bersamaan sambil menatap ke arah Gilang.



"Pak, Alina mana?" tanya Gilang sambil mencium telapak tangan pak Abidin di susul oleh Dhea dan Suci.



"Nak Gilang tahu dari mana kami ada di sini?" Tanya pak Abidin sambil melihat ke arah Gilang dan Dhea.



"Cerita nya panjang pak, nanti saya jelaskan, tapi saya mohon izin kan saya untuk menemui Alina saat ini." ucap Gilang sambil memohon.



"Alina sedang di dalam nak, dia sedang berjuang antara hidup dan mati." ucap pak Abidin.



Gilang yang memang sudah ngga sabar pun langsung membuka pintu ruangan.

__ADS_1


__ADS_2