Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Murung


__ADS_3

Ronald semakin panas hati nya terus-terusan melihat kemesraan Nazwa dengan Rehan.



"Bang, tolong tiupin mataku, aku kelilipan." bisik Nazwa, sepintas terlihat kalau Rehan seperti sedang mencium Nazwa.



"Breng sek, pakai di cium di tempat umum segala lagi." gumam bathin Ronald dengan mata yang memerah karena menahan amarah.



"Cemburu kan lo kak, akui saja lah kalau kakak itu mencintai Nazwa." gumam bathin Risma sambil melirik ke arah Ronald.



"Seperti nya abang cemburu melihat mereka berdua, kenapa ngga jujur saja sih bang, kalau menyukai nya." gumam bathin Dhea sambil melihat kearah Ronald.



"Bang, beli cemilan ya? Sekalian buat nanti malam." ucap Dhea membuyarkan lamunan nya.



"Ya ambil saja." jawab Ronald.



"Double Nur, ayo ambil sesuka kalian, biar bang Ronald yang bayar." ucap Dhea sambil tersenyum.



Nura dan Nuri hanya saling menatap bingung karena merasa ngga enak.



"Malah diam, ayo ambil saja semua yang kalian suka." ucap Dhea dan memaksa mereka mengambil cemilan yang mereka suka.



"Jangan lupa sekalian buat kakak kalian." ucap Dhea sambil mengambil beberapa snack kesukaan nya.



Risma di mini market bukan nya belanja, tapi dia fokus sama gerak gerik Ronald.



"Terjawab sudah perasaan kamu kak." gumam bathin Risma sambil tersenyum.


*


*


Di rumah pak Abidin sudah rapi buat acara akad nanti malam, menjelang ijab wajah Alina sedikit mendung.


"Kenapa dengan wajah kamu nak? Kamu kelihatan murung?" tanya bu Diah, kini mereka sedang ada di dalam kamar Alina.



"Ngga apa-apa bu, kakak cuma ngga nyangka aja secepat ini kakak menjadi seorang ibu." jawab Alina.



Sebenar nya bukan itu yang Alina sedang pikirkan, dia sedang memikirkan nanti malam pas akad dia harus memakai baju apa, tapi Alina ngga mau bilang sama ibu nya karena takut ibu nya kepikiran juga.



"Dinikmati saja nak, mungkin ini sudah jalan hidup kamu." ucap bu Diah sambil mengelus lembut puncak kepala Alina.



"Nak, ibu boleh masuk." teriak bu Dewi dari luar sambil mengetuk pintu kamar Alina.



"Biar ibu saja yang buka, kamu tidurkan saja si kembar." ucap bu Diah sambil berjalan menuju pintu.


__ADS_1


"Masuk saja bu, Alina baru saja selesai menyusui." ucap bu Diah sambil membukakan pintu lebar-lebar lalu menutup nya kembali.



"Makasih bu," ucap bu Dewi sambil masuk ke dalam kamar.



"Nak, ini ibu bawakan baju buat ijab qabul nanti." ucap bu Dewi sambil memberikan sebuah kebaya putih kepada Alina.



"Bagus sekali bu, kapan ibu membeli nya?" tanya Alina dengan mata yang berbinar.



"Tadi ibu minta tolong sama Ronald, dan langsung di kirim ke sini sama yang punya butik nya." jawab bu Dewi sambil tersenyum.



"Terimakasih bu, entah bagaimana aku membalas semua kebaikan keluarga ibu sama saya." ucap Alina sambil memeluk calon mertua nya.



"kamu cukup memanggil kami papah dan mamah, juga selalu menyayangi dan mencintai Gilang apa adanya." jawab bu Dewi sambil mengelus lembut punggung Alina.



"Baik bu, eh mah." jawab Alina yang masih kaku dengan panggilan mamah.



Bu Diah pun tersenyum dan ikut bahagia, karena anak nya begitu sangat di sayangi oleh keluarga kaya raya itu.



"Apa wajah murung nya kakak tadi itu karena memikirkan baju untuk nanti malam ya?" gumam bathin bu Diah sambil melihat wajah bahagia anak nya.



"Cobain nak, takut nya ngga muat atau kebesaran, mumpung masih ada waktu buat di benerin." ucap bu Dewi.




"Mau kemana nak?" tanya bu Dewi.


"Mau nyobain baju mah di kamar nya adek." jawab Alina.


"Oh, kirain mamah kamu mau kemana." jawab bu Dewi.



Bu Dewi ngga sadar kalau kamar Alina ngga sebesar kamar yang ada di rumah nya.


*


*


Di perjalanan pulang tangan mereka berempat penuh dengan barang bawaan yang mereka ambil dari minimarket nya Ronald.


"Sebulan kamu di sini bangkrut mini market abang dek." ucap Ronald bercanda.



"Kan katanya abang, masih ada cabang-cabang di kota lain nya, jadi ngga mungkin bangkrut kan?" ucap Dhea sambil tersenyum.



"Kalau begitu kita bayar saja semua nya kak." jawab Nuri.



"Ngga usah dek, kakak cuma bercanda kok." jawab Ronald.



"Jangan di dengar omongan nya bang Ronald, asal kalian tahu bang Ronald uang nya banyak, tapi sayang jomblo." ucap Dhea sambil tertawa.

__ADS_1



Nura dan Nuri pun ikut tertawa mendengar ucapan dari Dhea.



"Kamu ya dek, awas kamu." ucap Ronald dengan wajah kesal nya.



"Bang, jujur deh sama adek, abang cemburu kan tadi melihat siapa tadi itu namanya ya aku lupa." ucap Dhea.



"Kak Nazwa kak." jawab Nura dan Nuri bersamaan.



"Ah, iya nazwa, cemburu kan abang lihat nazwa jalan dengan mesra bersama seorang pria." ucap Dhea sambil melirik kearah Ronald yang berada di samping nya.



"Ngga, abang biasa aja tuh." jawab Ronald.



"Jujur saja lah bang, ni ya bang aku kasih tahu, kalau abang menyukai wanita terus diam saja dan mengabaikan perasaan abang, abang bakalan sakit hati, jadi seharusnya abang jujur dan ungkapkan perasaan abang pada Nazwa." ucap Dhea serius.



"Yang dikatakan sama kak Dhea benar kak, kalau kakak menyukai kak Nazwa, kakak harus jujur dan mengatakan nya, biar kak Nazwa nya ngga direbut orang lain." ucap Nuri.



"Nah benar kan, mereka aja paham, masa kakak ngga paham sih." ucap Dhea.



Ronald pun terdiam mencerna semua omongan Dhea sambil berjalan.



"Apa iya aku menyukai Nazwa? Atau aku hanya sebatas kagum saja? Tapi kenapa hatiku sakit ketika melihat dia bersama pria lain." gumam bathin Ronald.



Sementara Nazwa, Rehan dan Risma kini sedang berada di taman dekat mini market.



"Gimana sandiwara kita tadi, keren ngga?" tanya Rehan sambil membuka minuman kaleng nya.



"Keren, sandiwara kalian keren banget, aku puas dengan yang kalian lakukan tadi." ucap Risma sambil mengangkat kedua jempol nya.



"Tapi tetap kan kak Ronald tetap tidak mau melihat aku walaupun hanya sedikit." ucap Nazwa dengan wajah sendu nya,



"Kata siapa? Orang dari awal saja kak Ronald terus menatap kamu dengan wajah cemburu nya kok." jawab Risma sambil tersenyum.



"Masa?" ucap Nazwa.



"Iya beneran, dari awal dia melihat kamu sama kak Rehan sudah terlihat kalau dia itu sedang cemburu, apalagi pas kak Rehan niup mata kamu tadi, kelihatan banget kalau dia lagi menahan amarah nya." jawab Risma.



"Berarti kak Ronald mu itu sebenar nya menyukai kamu, tapi dia ngga berani mengungkap kan nya." ucap Rehan.



"Benar kata kak Rehan, mungkin ada hal yang memang kak Ronald ngga bisa mengungkapkan isi hati nya

__ADS_1


__ADS_2