
Si kembar kini sudah tidur kembali, Gilang dan Alina menatap kedua nya dengan senyuman yang mengembang.
"Ngga nyangka aku akan punya anak kembar yang tampan dan cantik seperti ini." ucap Gilang pelan sambil terus menatap kagum sama si kembar.
"Sekarang kamu jadi seorang papah mas, kamu jangan nakal dan jangan berbohong lagi yang nanti nya akan di tiru sama anak-anak kita." ucap Alina.
"Iya sayang, mulai saat ini dan seterusnya aku akan selalu jujur sama kamu dan si kembar." jawab Gilang sambil menyentuh kedua pipi Alina.
Mereka pun saling menatap penuh damba, selama satu tahun mereka ngga ada di situasi seperti ini, rasa rindu yang ada di diri mereka benar-benar sangat besar.
Perlahan wajah Gilang mendekati wajah Alina, Alina yang sudah paham dengan apa yang akan di lakukan oleh Gilang yang berstatus suami nya kini pun memejamkan mata nya, seakan-akan dia sedang menanti sentuhan dari Gilang.
Kini bibir kedua nya sudah saling bersentuhan, rasa hangat dari sentuhan bibir itu menjalar ke seluruh tubuh mereka berdua.
Gilang pun yang merasa bibir nya di sambut oleh sang istri, sedikit bermain-main dengan bibir nya.
Awal dari saling bertemu nya kedua bibir mereka, tangan Gilang pun kini merambat ke puncak bukit kembar Alina yang besar itu.
"Kok berasa makin besar ya Yang?" tanya Gilang sambil terus mengelus puncak bukit kembar milik nya Alina.
"Kan aku lagi menyusui mas." jawab Alina.
"Sekarang ini milik si kembar, tapi nanti kalau si kembar sudah melepas nya akan kembali milik aku seutuh nya." ucap Gilang lalu memberikan tanda kepemilikan di atas bukit kembar kesukaan nya itu.
"Mas, jangan di situ." ucap Alina dengan nada yang membuat Gilang ingin melakukan lebih.
Gilang pun menatap wajah istri nya lalu kembali meraup bibir merah sang istri, mereka terus ber cum bu seakan-akan lupa kalau di sana ada si kembar yang lagi tidur nyenyak
"Kakak ip pa r, maaf mengganggu aku kira ngga ada kak Gilang." teriak Dhea yang langsung menutup kembali pintu kamar Alina.
Alina yang mendengar teriakan dari Dhea pun langsung melepaskan pagutan bibir nya dan berlari ke arah pintu.
"Dek, masuk aja, ada apa?" tanya Alina dengan wajah sedikit merah karena malu kepergok lagi bercumbu oleh Dhea sahabat yang kini menjadi adik ipar nya itu.
__ADS_1
"Ada apa sih dek, ganggu saja." ucap Gilang yang kini sudah ada di belakang Alina.
"Ye, suruh siapa pintu nya ngga di kunci, lagian ya, adek ngga tahu kalau ada kak Gilang di sini, terus ngapain kakak di kamar kakak ipar? Kan kalian belum boleh melakukan malam pertama." ucap Dhea.
"Kakak cuma ingin menikmati malam ini saja sebelum besok kakak pulang." jawab Gilang.
"Tapi kan belum boleh tidur bareng." ucap Dhea.
"Pikiran kamu ya dek, jangan-jangan kamu sudah ngebet mau nikah ya, kalau gitu kakak bilangin sama papah dan mamah ni." ucap Gilang.
"Siapa bilang, ngga lah, adek kan cuma ngingetin kakak aja." jawab Dhea.
"Sudah-sudah, kalian malah berdebat, ada apa dek tadi manggil?" tanya Alina.
"Kakak di suruh makan dulu, kata ibu kakak belum makan dari siang." jawab Dhea.
"Kamu belum makan Yang?" tanya Gilang sambil menatap ke arah Alina.
"Ya sudah kalau gitu kita makan dulu." ajak Gilang, tapi belum juga mereka melangkah terdengar tangisan si kembar.
"Mas, si kembar nangis, jadi kamu saja yang makan sana, aku mau nenangin si kembar dulu." ucap ALina.
"Ya sudah dek, temenin kakak ipar mu sana, kakak mau makan dulu." ucap Gilang sambil berlalu pergi dari hadapan mereka.
Gilang pun melangkah ke arah meja makan, di sana sudah agak sepi karena ustadz Soleh dan para tertua sudah pamit pulang, sedangkan Nura dan Nuri sedang membagikan makanan ke para tetangga dan tidak lupa pada karyawan mini market yang dulu nya teman kerja Alina.
"Nak, istrimu kok ngga diajak makan?" tanya bu Dewi yang melihat Gilang mengambil nasi.
"Si kembar tadi nangis mah, jadi nenangin dulu si kembar." jawab Gilang sambil mengambil makan sedikit banyak di piring nya.
"Tumben porsi makan kamu banyak, biasa nya hanya sedikit saja." tanya bu Dewi yang melihat porsi makan di piring Gilang tidak seperti biasanya.
"Sekalian buat ALina mah, kasihan dari siang tadi belum sempat makan." jawab Gilang.
__ADS_1
"Ya sudah sini mamah bantu." ucap bu Dewi sambil menata nya ke atas nampan biar Gilang ngga kesusahan untuk membawa nya ke dalam kamar.
Makanan pun sudah di tata, lalu Gilang membawa nya ke kamar, "makasih mah, oh iya ibu kemana mah?" tanya GIlang yang ngga melihat mertua nya.
"Barusan masuk kamar, sedikit pusing katanya, mungkin kecapek an." jawab bu Dewi.
"Oh, kalau gitu Gilang ke kamar Alina dulu ya mah." ucap Gilang.
"Iya nak, dan mamah juga mau kembali ke rumah nya Ronald, besok pagi sebelum pulang mamah mampir lagi ke sini." ucap bu Dewi.
"Ya sudah ayo mah kalau mamah mau ketemu si kembar dulu sebelum balik ke rumah Ronald." ajak Gilang.
"Kak, nanti setelah resepsi tinggal sama kami ya?" ucap Dhea sambil menepuk-nepuk pelan pantat nya baby Azzam.
"Kalau kakak gimana mas Gilang saja dek." jawab Alina.
"Yang, ayo makan dulu." ucap Gilang yang masuk dengan nampan yang penuh dengan makanan di tangan nya.
"Sini nak, si kembar nya mamah yang pegang, kamu makan saja dulu sana." ucap bu Dewi sambil menggendong baby Azzura.
"Kita makan di luar saja mas, masa makan di sini?" ucap Alina.
"Ngga apa-apa kalian makan di sini saja, mamah akan bawa si kembar sama papah, ayo dek kita bawa si kembar ke papah." ajak bu Dewi pada Dhea.
Bu Dewi orang tua yang pengertian, dia tahu kalau Gilang masih ingin berduaan sama istri nya, maka dari itu dia memilih keluar membawa si kembar.
"Ayo sini mas suapin." ucap Gilang memberikan suapan pertama pada istri nya.
"Mas, biar aku sendiri saja, kan tangan ku ngga sakit." ucap Alina sambil menerima suapan dari suami nya.
"Sudah kamu diam saja Yang, biar aku sekarang yang melayani kamu, aku tahu selama kamu mengandung si kembar kamu sudah melewati waktu sulit tanpa ada aku di samping kamu." ucap Gilang.
Alina menatap wajah suami nya sambil tersenyum, betapa manis nya ucapan yang keluar dari mulut suami nya itu.
__ADS_1