
"Permisi pak, ini pesanan yang bapak mau." ucap Hendra setelah di persilahkan masuk ke dalam ruangan Gilang.
"Buruan Hen, lama banget, saya sudah ngga sabar ingin mencicipi nya." ucap Gilang dengan mata yang berbinar.
"Saya sajikan di meja saja ya pak." ucap Hendra.
"Tidak, tunggu sebentar, kita makan di pantry saja biar kita semua mencicipi nya." ucap Gilang sambil berdiri lalu pergi ke ruang pantry di ikuti oleh Hendra dari belakang.
"Ret tolong ambil kan piring, Ci siapkan air minum buat pak Gilang." ucap Hendra yang sudah masuk ke ruang pantry.
Retno dan Suci pun menyediakan apa yang di minta Hendra, sedangkan Gilang sudah duduk dan menunggu pecel lele nya di hidang kan dengan sudah tidak sabar.
"Silahkan di nikmati pak, pecel lele nya." ucap Hendra sambil memberikan satu porsi pecel lele ke depan Gilang.
"Terimakasih, ayo kalian juga makan." ucap Gilang sambil langsung menyantap pecel lele itu dengan sangat lahap sekali.
Mereka bukan nya ikut makan, tapi mereka malah bengong lihat Gilang m,akan.
"Selesai, akhir nya kesampaian juga aku makan lele." ucap Gilang dengan bibir tersenyum.
"Lo, kalian ngga makan, ayo makan saja, saya sudah kenyang kok." ucap Gilang.
"Iya pak, nanti kita makan." jawab mereka bersamaan.
"Hen, makan rujak yang pedas enak kayak nya ya?" ucap Gilang sambil menelan saliva nya.
"Hah?" ucap mereka bersamaan sambil saling menatap.
"Man, tolong belikan saya rujak di depan sana yang pedas ya? Kalau ngga pedas awas saja, banyakin mangga muda nya." ucap Gilang sambil memberikan uang berwarna merah satu lembar.
"Baik pak." jawab Irman sambil mengambil uang yang di berikan Gilang.
"Pak, saya perhatikan bapak kok seperti orang ngidam sih, tapi bapak kan belum punya istri." ucap Suci yang memang suka blak-blak kan dan mendapat sebuah sikutan kecil dari tangan Retno.
"Ngidam? Maksud kamu?"tanya Gilang sambil menatap Suci.
__ADS_1
"Maaf pak, soalnya sikap bapak ini seperti yang lagi ngidam, misalkan istri bapak lagi hamil, nah kadang kemauan nya suami juga ikut yang aneh-aneh, gitu lo pak." ucap Suci.
Gilang pun terdiam sambil berpikir, "Hamil? Apa Alina lagi hamil? Kalau benar, aku akan punya anak?" gumam bathin Gilang sedikit tersenyum.
Tapi senyuman nya itu tidak lama ketika Gilang mengingat kalau Alina belum di temukan nya.
Mereka yang melihat sikap Gilang seperti itu hanya bisa saling menatap satu sama lain nya.
*
*
Waktu terus berjalan, perut Alina semakin kelihatan dan membesar.
Risma selalu mencibir Alina, tapi Alina hanya diam saja.
"Dasar perempuan ja lang, sudah hamil sama orang lain pun masih ngedeketin cowok orang." ucap Risma.
"Udah lah Ris, jangan gitu, lagian kita juga ngga tahu masalah dia." ucap Nazwa sambil menggenggam tangan Risma.
"Kamu ngga bisa diam saja dong Wa, memang nya kamu rela kalau cowok yang kamu suka jadi milik dia, yang hamil entah sama siapa." ucap Risma.
"Mbak, maaf kan sahabat saya ya? dia memang seperti itu kalau ngomong, tapi aslinya dia baik kok." ucap Nazwa pada Alina.
"Apa sih Wa, ngapain juga kamu harus minta maaf sama perempuan yang sudah merebut kak Ronald dari kamu." ucap Risma.
"Ris, udah cukup, aku memang menyukai kak Ronald, tapi kan aku ngga bisa maksa kak Ronald untuk menyukai ku." jawab Nazwa.
"Ya sudah kalau begitu kami permisi duluan ya mbak? atas nama sahabat saya sekali lagi saya minta maaf." ucap Nazwa.
"Iya, ngga apa-apa saya sudah memaaf kan nya kok, dan kalian harus tahu kalau saya ngga ada hubungan apa-apa sama kak Ronald, saya dan kak Ronald hanya sebatas teman dan saya sudah menganggap kak Ronald seperti kakak saya sendiri." ucap Alina.
Nazwa hanya diam mendengar penuturan dari Alina, "Ya sudah kami pergi duluan ya mbak, ayo Ris kita pulang." ajak Nazwa sambil menarik tangan nya Risma.
Alina pun kembali melangkahkan kaki nya untuk pulang ke rumah, tapi seperti biasa sebelum masuk ke dalam rumah, terdengar
omongan para tetangga yang selalu memojokkan dan membuat sakit hati Alina.
"Dia itu baru beberapa bulan tingga di sini perut nya kok sudah besar aja." ucap bu Yeti tetangga nya Alina.
__ADS_1
"Iya, padahal kan setahu saya dia itu belum menikah ya?" jawab bu imas.
"Jangan-jangan mereka pindah kesini untuk menutupi kehamilan anak nya di sana." ucap bu nyai.
"Kalau bukan sama pacar nya, bisa jadi dia itu perempuan malam, terus kebablasan hingga sampai hamil." ucap Yeti.
"Wah kalau begitu kita harus hati-hati ke depan nya, takut suami kita terjerat sama dia, apalagi dia masih muda." ucap bu Imas.
"Eh tapi saya sering lihat bos mini market itu masuk ke dalam rumah nya deh." ucap bu Nyai.
"Yang benar? Kamu jangan salah info ya? Kalau salah info nanti kita yang malu." ucap bu Yeti.
"Benar, saya pernah melihat pas malam-malam pulang dari beli sate sama suami saya, bos mini market itu keluar dari rumah nya.
"Waduh, apa bos mini market itu ayah dari anak yang sedang dia kandung ya?" tanya bu Imas,
"Kelihatan nya saja baik dan polos, ternyata dia pemain handal." ucap bu Yeti.
Alina yang mendengar omongan para tetangga pun hanya diam dan menitik kan air mata nya, lalu masuk ke dalam rumah.
"Kenapa nak? Dengar omongan tetangga lagi?" tanya bu Diah yang sudah paham.
"Ya begitulah bu, tapi ini resiko yang harus Alina dapat kan." jawab Alina.
"Ya sudah, jangan terlalu di pikirkan, nanti juga reda dengan sendiri nya, sekarang kamu fokus saja sama si kembar." ucap bu Diah.
"Iya bu." jawab Alina, lalu masuk ke dalam kamar nya.
Alina membaringkan tubuh nya menatap langit-langit atas kamar nya, hari ini bathin nya sangat tertekan, sudah lah sahabat Nazwa yang omongan nya bikin sakit hati ditambah lagi dengan omongan para tetangga.
"Aku sadar kalau aku keras kepala, coba kalau aku ngga pergi dari kamu mas, mungkin kita sekarang sudah bersama,.dan anak-anak kita akan mendapat kasih sayang dari kamu, maafkan mamah ya nak." gumam Alina sambil mengelus perut nya yang sudah membesar.
Perut Alina pun bergerak, seakan-akan anak-anak yang ada di dalam perut nya mendengar gumam man dari ibu nya.
__ADS_1
"Ah manis sekali kalian ini, bisa menjawab lewat gerakan kalian." ucap Alina sambil tersenyum dan terus mengelus peut nya.