Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Aku Hendra bukan Bambang


__ADS_3

Akhir nya Gilang sudah duduk di kursi dimana yang ia nantikan selama ini, wajah tampan nya tidak luput dari senyuman yang selalu menghias bibir nya, matanya terus memandang ke arah pintu masuk karena sudah ngga sabar menunggu pujaan hati nya untuk ikut duduk di pelaminan.



"Udah ngga sabar ya?" tanya Glen yang kini sudah berada di samping Gilang, Glen di suruh Dhea untuk menemani kakak nya itu.



"Ntar juga lo ngerasain." jawab Gilang.



Para tamu pun sudah hadir memenuhi gedung resepsi.dari para karyawan sampai sahabat, teman, tetangga dan relasi bisnis nya antar ke dua keluarga.



Diantara banyak nya orang yang hadir di sana ada satu orang yang sedang memantau dan terus menatap kearah Gilang.



"Dia tampan sekali, aku harus bisa mendapatkan nya, akan aku buat istri nya pergi meninggalkan nya,dan di saat istri nya pergi aku akan hadir dan membawa nya ke dalam genggaman ku." gumam dalam hatinya sambil tersenyum smirk.



Selagi berbincang MC mengatakan kalau mempelai wanita akan memasuki ruangan, jantung Gilang sudah berdebar tak karuan, ini memang cuma acara resepsi tapi tetap saja jantung Gilang selalu berdegup di buat nya.



Gilang pun berdiri untuk menyambut istrinya, dengan gagah nya Gilang berdiri di apit oleh kedua orang tua nya dan Glen.



Alina pun masuk dengan di apit oleh Dhea dan ibu nya tidak lupa sang ayah juga ikut di samping nya, sedangkan baby kembar nya mengikuti di belakang dengan masing-masing di gendong oleh double Nur.



Semua orang berdecak kagum melihat Alina yang sangat cantik hari itu ditambah dengan si kembar yang terlihat menggemaskan yang di gendong oleh anak kembar juga.



"Eh lihat si kembar sudah besar, udah makin menggemaskan lagi." ucap Suci.



"Memangnya mereka anak siapa Ci?" tanya Hendra.



"Anak nya pak Gilang dan bu ALina lah." jawab Suci.



"What! Kok bisa." teriak Hendra dan Irman barengan.



"Syut kalian jangan keras-keras dong teriak nya." ucap Retno.



"Kamu kok ngga kaget si Ret?" tanya Irman.



"Kan aku udah tahu dari Suci." jawab Retno sambil tersenyum.


__ADS_1


"Kalian merahasiakan nya dari kita." ucap Hendra.



"Bukan begitu, tapi aku menghargai pak Gilang, biar nanti pak Gilang sendiri yang mengumumkan nya, karena itu bukan hak aku." jawab Suci.



"Sejak kapan kamu mengetahui nya Yang?" tanya Irman.



"Sejak ibu ku sakit, ternyata bu Alina dan pak Gilang juga ada di rumah sakit yang sama di saat bu Alina mau melahirkan." jawab Suci.



"Berarti kalau gitu pak Gilang dan bu Alina sudah menikah dong." ucap Hendra.



"Ya iya lah Bambang, ini kan resepsi doang." jawab Suci.



"Gue Hendra bukan Bambang." ucap Hendra dengan wajah kesal nya.



"Sudah-sudah kalian ini ngga dimana-mana selalu saja berdebat, kita fokus ke pengantin saja." ucap Retno melerai Suci dan Hendra.



"Wah pak Gilang sangat tampan sekali, andai aku dulu mau menerima dia pas jadi OB, mungkin sekarang yang duduk di sana menemani pak Gilang adalah aku, tapi ya sudah lah, dari kejadian ini aku mengambil kesimpulan kalau hidup jangan di lihat dari penampilan." gumam bathin Desi.



Alina terus berjalan menghampiri suami nya yang sedang berdiri di dekat kursi pelaminan dengan arahan dari MC.




Mereka kini sudah bersanding duduk di pelaminan, tidak lupa si kembar yang menemani nya, dan si kembar pun selalu menjadi rebutan keluarga dan juga orang yang gemas melihat nya dan mereka selalu ingin menggendong si kembar.



Kini giliran Ronald dan Nazwa yang sedang menggendong si kembar, mereka duduk di kursi yang sedikit jauh dari para tamu undangan, karena mereka ngga mau si kembar merasa ngga nyaman.



"Mereka lucu ya kak, aku juga jadi ingin punya anak kembar seperti ini." ucap Nazwa sambil tersenyum.



"Tenang nanti kita bikin, nanti kakak minta tutorial nya sama Gilang." jawab Ronald sambil tersenyum menggoda.



"Is kakak ini belum apa-apa sudah mesum." ucap Nazwa.



"kakak bukan mesum, tapi kan kamu yang bilang tadi mau punya anak kembar seperti mereka." jawab Ronald.



"Udah ah jangan bahas itu lagi." ucap Nazwa karena malu.

__ADS_1



"Tapi itu juga perlu di bahas sayang, kan biar nanti kita tinggal praktek nya." jawab Ronald.



"Kakak kan udah sering praktek dulu." ucap Nazwa yang membuat Ronald langsung terdiam.



"Ronald? Jadi Ronald juga ada di sini?" gumam Rena.



Rena hadir, dan dia rela menemani supir bus semalaman demi dirinya ikut ke acara resepsi Gilang.



Tidak di pungkiri supir bus itu memang tampan dan masih muda, makanya Rena mau menemani nya.



Rena memang ikut bus rombongan perusahaan Gilang, tapi dia berada di bus yang berbeda dengan Desi, jadi Desi tidak tahu kalau Rena ikut dengan rombongan para karyawan.



"Oh rupanya kamu sudah mempunyai anak dan istri." ucap Rena yang kini sudah ada di hadapan mereka.



"Rena? kenapa kamu ada di sini? Jangan buat kacau acara nya Gilang, awas kamu." ucap Glen sambil menatap marah ke arah Rena.



"Tenang saja, aku ngga akan membuat acara ini kacau kok, aku hanya akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik ku." jawab Rena.



"Jangan macam-macam kamu." teriak Ronald sambil menggendong baby Azzam.



"Kak, sabar jangan teriak, malu sama para tamu." ucap Nazwa menenangkan Ronlad.



"Oh ini istri kamu ya? Cantik juga, tapi asal kamu tahu aku lah yang pertama membuat dia melayang-layang dan selalu memanggil namaku di saat dia mendapatkan kenikmatan nya." ucap Rena yang tidak tahu malu.



"Rena stop." teriak Ronlad.



"Kak, sudah diam jangan teriak." ucap Nazwa sambil menyentuh tangan Ronald.



Nazwa berdiri dari duduk nya sambil menggendong baby Azzura.



"Ya mungkin kamu orang yang pertama membuat kak Ronald melayang-layang, tapi aku lah yang selama nya akan selalu membuat kak Ronald melayang, bahkan sampai di sisa hidup nya, mungkin dulu kamu yang menghabiskan harta kak Ronald, tapi asal kamu tahu sekarang dia sudah menjadi bos besar yang mempunyai segala nya, dan saya yakin saat ini dan nanti kak Ronald ngga akan perduli lagi sama kamu walaupun kamu sedang mengemis di jalanan." ucap Nazwa dengan santai.



"Kamu! Berani-berani nya kamu menghina saya." ucap Rena sambil mealyang kan tangan kanan nya hendak menampar Nazwa.

__ADS_1



"Maaf mbak, anda tidak akan bisa menyentuh sahabat saya meski seujung kuku pun.' ucap Risma sambil menahan tangan Rena.


__ADS_2