
"Apa maksud mu dek? Cucu siapa?" tanya bu Dewi dari seberang telepon.
"Mamah dengar kan adek baik-baik, mamah sekarang sudah punya dua cucu, karena Alina sudah melahir kan sepasang anak kembar." ucap Dhea dengan jelas.
"Apa! Jadi, jadi mamah sudah punya cucu? Pah, kita punya cucu pah." teriak bu Dewi sambil menitik kan air mata nya.
Pak Surya yang sedang duduk sambil sarapan sampai tersedak mendengar nya, langsung pak Surya mengambil air minum dan menghabis kan nya.
Sedangkan bu Dewi yang masih berbicara dengan Dhea di telepon pun tidak membantu pak Surya yang lagi tersedak, karena dia lagi bahagia dengan kabar dari Dhea.
"Kamu dimana sekarang dek? Memang nya Alina sudah ketemu sayang?" tanya bu Dewi dengan hati yang bergetar.
Sungguh bahagia hati bu Dewi, sampai-sampai dirinya sudah ngga sabar ingin segera menemui dan melihat cucu nya itu.
"Aku dan kakak lagi di rumah sakit xxxx di daerah xxxx, semalam kita kesini." jawab Dhea.
"Kenapa kalian ngga ngasih tahu mamah semalam?" tanya bu Dewi.
"Cerita nya panjang mah, nanti saja kalau kita sudah kumpul, adek ceritakan semuanya." jawab Dhea.
"Ya sudah nanti mamah bicara dulu sama papah, kalau papah ngga sibuk siang ini mamah kesana, sekarang kirim poto cucu mamah." ucap bu Dewi.
"Iya mah, udah dulu ya mah, ini kita lagi siap-siap mau pulang ke rumah nya Alina." ucap Dhea.
"Iya nak, jangan lupa kirim dulu poto cucu mamah." ucap bu Dewi mengingatkan Dhea kembali.
"Iya mah." jawab Dhea lalu memutuskan panggilan nya.
"Kakak ipar, aku mao poto si kembar dulu ya? Mamah ingin melihat nya." ucap Dhea.
"Apa sih Dhe, panggil biasa aja, lagian kan aku belum resmi jadi kakak ipar kamu." ucap Alina dengan wajah sedikit merah.
"Ngga, pokok nya mulai sekarang aku akan panggil kamu dengan panggilan kakak ipar." ucap Dhea sambil tersenyum.
"Terserah kamu lah Dhe, debat pun percuma kalau sama kamu." jawab Alina.
"Sini kak tidurin dulu, aku mau ambil gambar mereka." ucap Dhea sambil memposisikan keponakan kembar nya yang lagi tidur untuk di ambil gambar nya.
"Wah lucu sekali." ucap Dhea sambil melihat hasil jepretan nya.
__ADS_1
"Mana lihat Dhe." ucap Alina.
"Bentar aku kirim sama mamah dulu." ucap Dhea, lalu mengirimkan nya.
"Lihat kak, lucu kan mereka." ucap Dhea sambil memberikan ponsel nya kepada Alina.
"Kita juga mau lihat." ucap Nura dan Nuri.
"Kalian ini bayi nya kan ada, malah mau lihat gambar nya." ucap bu Diah sambil menggelengkan kepala nya.
"Aku juga mau ambil gambar nya ah." ucap Nuri sambil membidik kan kamera nya ke arah si kembar.
"Lo, kok sudah rapih? memang nya sudah boleh pulang ya bu?" tanya pak Abidin.
"Iya pak, Alina dan si kembar sudah boleh pulang." jawab bu Diah.
"Ah anak ayah sudah pada cakep-cakep, mau pulang ya?" ucap Ronald sambil menatap si kembar yang lagi tidur.
"Mulai lagi lo." ucap Gilang yang merasa tidak suka dengan panggilan yang di berikan Ronald untuk ke dua anak nya.
"Sudah lah mas, biarin saja mereka memanggil kak Ronald dengan panggilan ayah." ucap Alina.
"Di panggil papah saja gimana? Mau ngga? Atau kalau ngga mau di panggil om saja." Alina pun menjahili Gilang, lalu menggendong bayi perempuan nya.
Enak saja aku yang ayah kandung mereka di panggil om, sedangkan dia yang bukan ayah kandung nya malah di panggil ayah, ngga adil." ucap Gilang sambil cemberut.
"Bercanda dong papah." ucap Alina dengan suara yang seperti anak kecil.
Mereka yang melihat dan mendengar candaan Alina pun tertawa.
"Oh ya kak, sebelum kita pulang, kita lihat ibu nya Suci dulu sebentar, walau bagaimana pun dia kan bekerja sama kita, udah gitu gara-gara dia kita bertemu dengan kakak ipar." ucap Dhea.
"Ya sudah ayo, tapi sebentar saja ya?" ucap Gilang.
"Yang, tunggu sebentar ya, mas mau lihat ibu nya Suci dulu, dan elo awas lo ya, kalau lo ngambil kesempatan." ucap Gilang sambil menatap Ronald.
"Udah ngga usah drama lagi." ucap Dhea sambil narik tangan nya Gilang.
Pak Abidin dan bu Diah pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala nya melihat kelakuan Gilang.
*
__ADS_1
*
Kini Gilang dan Dhea sedang berada di kamar rawat inap ibu nya Suci setelah Suci memberitahu kamar nya.
"Makasih pak, bu, sudah mau menyempatkan diri menjenguk ibu saya." ucap Suci.
"Iya, sama-sama, kita juga makasih ya Ci, udah mau ngasih tahu keberadaan Alina, sehingga bibir kakak saya sering terlihat tersenyum di banding sebelum nya." ucap Dhea.
Suci dan ibu nya pun tersenym mendengar kata-kata dari Dhea.
"Cepat sembuh ya bu, dan maaf kami tidak bisa lama-lama, soal nya Alina dan si kembar sudah boleh pulang." ucap Dhea.
"Ngga apa-apa, bapak dan ibu sudah mampir pun saya dan ibu saya sudah merasa senang." jawab Suci sambil tersenyum.
"Oh iya, ini ada sedikit buat kamu dan ibu kamu sebagai tanda terima kasih saya sama kamu." ucap Gilang sambil memberikan uang yang berjumlah sepuluh juta kepada Suci.
"Pak, tapi ini terlalu banyak, dan saya ikhlas kok memberi tahu keberadaan bu Alina." ucap Suci yang kaget melihat uang begitu banyak nya.
"Ngga apa-apa, itu sudah rezeki kamu, jadi ambil saja, dan semoga cepat sembuh ya bu, dan kamu cepat masuk kerja lagi." ucap Gilang.
Terimakasih banyak pak, bu, semoga bapak dan bu Alina segera bersatu dan selalu bahagia." ucap Suci.
"Terima kasih ya nak, semoga kalian selalu sehat dan bahagia." ucap ibu nya Suci dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya, sama-sama bu, ya sudah kalau begitu kami pamit." ucap Dhea.
Gilang dan Dhea pun pergi dari ruangan ibunya Suci.
Selagi kembali ke kamar nya Alina, suara ponsel Dhea berdering.
"Bang Glen, aduh aku lupa ngga ngasih kabar sama bang Glen." gumam Dhea.
"Siapa Dhe?" tanya Gilang sambil berjalan di samping nya Dhea.
"Bang Glen kak." jawab Dhea sambil menerima pamggilan dari Glen kekasih nya.
"Ya bang." ucap Dhea.
"Kamu dimana sih Yang? Aku cari di ruangan kamu tapi ngga ada, kemarin mau aku jemput kata kamu mau berangkat sendiri?" tanya Glen.
"Baru juga sehari ngga ketemu sudah cerewet." ucap Gilang santai.
__ADS_1
"Yang, kamu lagi sama siapa? siapa cowok yang bersama kamu sekarang?" tanya Glen dengan nada sedikit tinggi.