Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Periksa


__ADS_3

"Tante nya sudah pindah ya mah?" tanya Azzam.



"Seperti nya sayang, mudah-mudahan mbak Rena sadar dan hidup nya leboh baik lagi,." jawab Alina.



"Sekarang kita ke rumah nenek ya mah?" tanya Azzura.



"Kita ke dokter dulu, papah ingin mamah kalian di periksa sama dokter." jawab Gilang.



"Terus kapan ke rumah nenek nya?"tanya Azzura.



"Besok saja sama aunty mau ngga? Sekalian aunty mau rekap laporan." ucap Dhea.



"Mau aunty mau, tapi Gracia juga di ajak ya, biar kita man bersama aunty kembar." ucap Azzura dengan wajah berbinar.



Sedang kan Azzam diam seribu bahasa sambil mengerucutkan bibir nya.



"Kamu kenapa? Kok cemberut gitu? Kalau mau ikut, ikut saja sayang." ucap Dhea.



"Percuma ikut juga, ngga ada yang ngajak Azzam main." jawab Azzam.



"Kan om Glen juga ikut sayang, jadi kamu bisa main sama om Glen." ucap Dhea.



"Azzam ingin adik laki-laki." jawab nya ketus.



"Ya nanti juga Azzam pasti dapat adik lagi kok, tapi kalau adik nya perempuan lagi gimana? Kita kan ngga tahu kalau nanti nya adik Azzam laki-laki atau perempuan?" tanya Dhea.



"Ya ngga apa-apa, tapi mamah sama papah harus buat lagi sampai dapat adik laki-laki." jawab Azzam dengan begitu enteng nya.



"Ya ampun nak, kalau mamah terus-terusan harus melahir kan capek nak." ucap Alina sambil menggelengkan kepalanya.



"Ngga apa-apa lah Yang, kan aku akan selalu ada buat kamu." ucap Gilang sambil tersenyum.



"Kamu enak mas, kamu ngga mengandung sedangkan aku, aku harus membawa nya kemana pun aku pergi, kamu hanya enak nya saja." jawab Alina.



"Sudah jangan bahas banyak anak kecil." ucap Glen.



Mereka pun terdiam karena menyadari apa yang di ucapkan Glen benar adanya.



"Rumah sakit ini aja ya? Biar ngga jauh dari rumah." ucap Gilang sambil masuk ke area parkir rumah sakit.



"Ini kan rumah sakit pas aku lahiran dulu." ucap Dhea.



"Oh iya ya, kakak juga baru sadar." ucap Alina.



"Mudah-mudahan dokter kandungan nya masih dokter Mery." ucap Dhea.


__ADS_1


"Ya sudah ayo kita turun," ucap Glen.



"Mas tolong gendong Grac dia tidur." ucap Dhea.



Mereka pun semua nya turun dan masuk ke rumah sakit.



"Sus maaf kalau mau cek ke dokter kandungan masih bisa ngga ya jam segini?" tanya Alina pada suster jaga.



"Maaf bu, dokter nya baru saja selesai praktek." jawab suster.



"Memang nya dokter kandungan nya siapa sus kalau saya boleh tahu?" tanya Dhea.



"Dokter Mery." jawab suster itu.



"Ruangan nya masih yang dulu kan?" tanya Dhea.



"Iya bu, tapi maaf ibu ngga di izinkan masuk." seakan-akan suster itu tahu kalau Dhea akan menerobos masuk ke ruangan dokter Mery seketika itu pun suster nya langsung melarang Dhea.



Dhea teringat kalau dia masih menyimpan no ponsel nya dokter Mery, Dhea pun langsung mencari kontak dokter Mery lalu menghubungi nya.



"Ya sudah mas, kita pulang saja, nanti hari senin kita kesini lagi, kita beli tespek aja dulu." ucap Alina.



"Ya sudah, mau gimana lagi dokter nya sudah selesai praktek, anak-anak ayo kita kembali ke mobil." ajak Gilang.




"Nanti hari senin saja, dokter nya sudah selesai praktek nya." jawab Gilang.



"Ya sudah kita pulang saja lah." ucap Azzam sambil berjalan mendahului mereka.



"Kak tunggu, kakak bisa di periksa sekarang, aku sudah menghubungi dokter Mery barusan." teriak Dhea.



"Yang benar dek?" tanya Gilang.



"Iya kak, ayo kita langsung ke ruangan nya." ajak Dhea.



"Bang, sini mamah jadi di periksa nya." panggil Gilang, Azzam yang sedang berjalan pun langsung membalikan tubuh nya dan menghampiri keluarga nya lagi.



Mereka pun semua berjalan menuju ruang rawat dokter Mery diantar suster jaga yang tadi.



"Silahkan masuk." teriak dokter Mery yang memang masih ada di dalam ruangan sedang membereskan meja kerja nya.



"Sore dok? Maaf mengganggu waktu pulang anda." ucap Dhea sambil mengulurkan tangan nya.



"Sore juga, ngga apa-apa nak, wah rombongan rupa nya." ucap dokter Mery yang melihat Gilang dan Alina beserta si kembar, sedang kan Glen memilih menunggu di luar sambil menggendong Gracia.



"Wah ini si kembar ya? Udah besar ya sekarang? Gimana? Apa ada rencana mau nambah lagi?" tanya dokter Mery.

__ADS_1



"Iya, dan sebentar lagi mereka masuk sekolah dasar." jawab Alina sambil tersenyum.



"Nah kita datang ke sini juga ingin memastikan dok, apa istri saya sedang mengandung lagi apa belum." jawab Gilang.



"Ya ampun sampai lupa, ayo duduk tapi kursi nya cuma dua." ucap dokter Mery.



"Ngga apa-apa dok." jawab Dhea dan Alina bersamaan.



"Gimana mamah kalian? Sehat? Sudah lama saya ngga bertemu semenjak kamu melahirkan, oh iya anak kamu mana Dhe?" tanya dokter Mery.



"Mamah alhamdulilah sehat, anak saya ada di luar sama ayah nya dok." jawab Dhea.



"Syukur kalau sehat, sampaikan salam saya sama mamah kalian ya." ucap dokter Mery.



"Insya Allah dok." jawab Dhea sambil tersenyum.



"Ya sudah jadi siapa yang mau saya periksa?" tanya dokter Mery sambil menatap Dhea dan Alina secara bergantian.



"Kakak ipar dok, soalnya kak Gilang mulai bersikap aneh lagi." jawab Dhea.



"Ya sudah kalau gitu silahkan rebahkan tubuh nya." ucap dokter Mery.



Alina pun naik ke ranjang pasien di bantu oleh Gilang.



Seandainya benar perkiraan adik nya kalau Alina sedang hamil, Gilang ingin selalu ada dan selalu menjaga istri nya, dia ingin menggantikan waktu dulu pada saat istri nya hamil si kembar yang tidak ada di samping nya.



"Maaf ya bu,." ucap dokter Mery sambil menyingkapkan baju atasan nya Alina lalu mengoleskan gel di atas perut nya.



Mereka semua menatap layar monitor yang ada di hadapan mereka.



Dokter Mery pun tersenyum sambil terus menggulir alat yang ada di atas perut Alina.



Azzam dan Azzura pun dengan sangat serius menatap layar monitor seakan-akan mereka mengerti dengan yang di tampilkan di layar monitor tersebut.



"Bagaimana dok? Apa istri saya sedang mengandung?" tanya Gilang dengan harap-harap cemas.



"Istri anda memang sedang mengandung lagi, nah titik kecil ini adalah janin kalian, saya perkirakan usia nya baru tiga minggu." jawab dokter mery sambil mengarahkan kursor ke arah titik yang di prediksi janin.



"Jadi kita mau punya adik lagi mah, pah." teriak Azzam dengan sangat antusias.



"Iya nak, do\*a kalian terkabul, kalian akan menjadi kakak." jawab Alina.



Azzam dan Azzura sangat bahagia sekali sampai-sampai mereka langsung memeluk dan mencium seluruh wajah Alina.



"Makasih mah, sudah memberikan kita adik." ucap Azzam dan Azzura.

__ADS_1


__ADS_2