Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Jadi Ayah nya Zidan


__ADS_3

Zidan begitu menikmati makan nya, dia tidak memperdulikan ibu nya yang sedang berbicara dengan Randi.



"Ren kalau boleh jujur, dari awal kamu masuk station saya sudah melihat kamu dan saya mengikuti kamu hingga saya bisa duduk di depan kamu, dan demi mendekati kamu biar ngga ada yang mengganggu saya beli tiket dua, hingga ngga ada orang yang duduk diantara kita bertiga." ucap Randi sambil menatap Rena.



"Ya ampun mas, jadi kamu mengikuti aku dari awal aku datang ke station?" tanya Rena kaget.



"Ya, entah kenapa hati ini mendorong saya untuk mengikuti kamu, dan perjuangan saya mengikuti kamu ngga sia-sia, ternyata kamu juga sama seperti saya yang dalam keadaan sendiri, dan punya masa lalu yang hampir sama." jawab Randi.



"Maksud mas?" tanya Rena yang belum paham dengan perkataan dari Randi.



"Bagaimana kalau saya jadi ayah nya Zidan?" tanya Randi.



"Uhuk,uhuk." Rena yang sedang makan pun tersedak begitu mendengar permintaan dari Randi.



"Pelan-pelan dong Ren, ini minum dulu." ucap Randi sambil memberikan minum nya kepada Rena.



Rena pun mengambil minum yang di berikan Randi kepada nya. "Makasih mas." ucap Rena sambil menyimpan kembali gelas nya ke meja.



"Pelan-pelan dong bu, kita ngga bakal rebut makanan ibu kok." ucap Zidan sambil terus menikmati makanan nya.



Rena pun hanya terdiam sambil membersihkan mulut nya dengan tisu.



"Jadi bagaimana Ren?" kembali Randi bertanya pada Rena.



"Bagaimana apa nya?" tanya Rena.



"Mau ngga menerima aku jadi ayah nya Zidan?" tanya Randi yang pertanyaan kali ini terdengar oleh Zidan.



"Mau dong bu, aku mau ayah Randi ini jadi ayah ku." ucap Zidan.



"Kamu mau kan menerima ayah jadi ayah kamu nak?" tanya Randi.



"Mau ayah, Zidan dari kecil belum pernah di peluk dan main sama ayah, sekarang ada yang mau jadi ayah Zidan, ku mohon terima ayah jadi ayah nya Zidan ya bu? Kalau ibu mau menerima ayah Randi, Zidan janji Zidan akan jadi anak yang lebih baik lagi." Zidan pun merengek pada Rena.



"Tapi kita baru mengenal ayah Randi nak, ngga mungkin ibu langsung menerima nya." ucap Rena.

__ADS_1



Rena yang sekarang jelas banget berbeda dengan Rena yang dulu, kalau dulu jangan kan diajak nikah di ajak enak-enak saja dia duluan yang minta asal apa yang dia ingin kan terpenuhi.



Sungguh sikap dan perilaku si kembar telah membuat Rena sadar dan benar-benar bertaubat.



"Bagaimana kalau kita jalanin saja dulu, kita saling mengenal dulu sekitar satu sampai tiga bulan, setelah kamu yakin kita menikah." ucap Randi.



Rena pun terdiam dan berpikir dengan permintaan dari Randi.



"Apa benar mas Randi mau menerima aku dengan tulus? Tapi ngga ada salah nya juga kalau aku menerima permintaan dia, kasihan juga Zidan, dia sangat menginginkan ada sosok seorang ayah di hidup nya." gumam bathin Rena sambil melirik ke arah Zidan.



"Baiklah mas, kita jalani saja dulu, kalau memang kita di takdir kan untuk bersama aku akan menerima nya, tapi kalau kita tidak di takdirkan untuk bersama, kita jadi teman saja." jawab Rena.



Randi dan Zidan pun tersenyum mendengar jawaban dari Rena.



"Makasih ya Ren, kamu sudah mau menerima aku, walau pun kita baru saling kenal." ucap Randi sambil tersenyum.



"Ayah, ibu, aku sudah kenyang, ayo kita ke rumah nenek, aku sudah ngga sabar ingin bertemu nenek." ucap Zidan.




"Biar mas yang bawa." ucap Randi sambil mengambil alih koper Rena.



Rena pun berjalan sambil menggandeng tangan nya Zidan.



Dengan secara perlahan tangan Randi pun menggenggam tangan Rena yang sebelah nya dan itu membuat Rena sedikit kaget.



"Kan kita sudah jadian, jadi boleh dong genggam tangan nya? Soalnya takut ada yang nyulik." bisik Randi sambil tersenyum.



Rena yang sedikit kaget ikut tersenyum setelah mendengar bisik kan dari Randi.



Nampak begitu indah di pandang mata, mereka berjalan bertiga layak nya keluarga harmonis.


*


*


"Dokter, adik bayi nya laki-laki kan?" tanya Azzam sambil menatap dokter Mery.


"Dokter belum tahu nak, soal nya adik kecil nya belum kelihatan jenis kelamin nya, kalian ber do\*a saja agar adik yang kalian minta nanti nya lahir dengan selamat." jawab dokter Mery.

__ADS_1



Azzam hanya diam setelah mendapat jawaban dari dokter Mery.



"Mari bu." ucap dokter Mery sambil berjalan menuju meja kerja nya.



"Begini pak, bu, janin yang ibu kandung kan masih muda, jadi ibu jangan melakukan kegiatan yang akan membuat tubuh ibu capek dan lelah, ibu harus menjaga pola makan dan ingat makan makanan yang sehat dan jangan lupa minum susu dan vitamin." ucap dokter Mery.



"Kalau itu em, em." ucap Gilang sambil melirik ke arah si kembar.



Dokter Mery yang memang seorang dokter senior pun sudah paham dengan apa yang akan di pertanyakan kepada diri nya.



"Oh itu ya pak, kalau bisa jangan terlalu sering, bapak harus menahan nya saja dulu." ucap dokter Mery sambil tersenyum.



"Tapi kalau misal nya istri saya yang minta duluan gimana dok?" tanya Gilang dan mendapat pukulan di bahu nya dari Alina.



"Lakukan saja pak, mungkin itu yang mau anak bapak dan ibu tapi lakukan dengan pelan-pelan." jawab dokter Mery.



"Papah jangan menyakiti mamah ya? awas saja kalau papah menyakiti mamah adek akan jambak dan cakar papah sampai kulit papah berdarah." ucap Azzura.



"Tenang saja dek, abang akan kirim ayah ke dunia antariksa." ucap Azzam dengan tatapan tajam nya.



Mereka yang mendengar celotehan si kembar pun tertawa terbahak-bahak.



"Ya ampun kalian ini, ada-ada saja." ucap Dhea sambil menggelengkan kep\[alanya.



"Pak, ini resep vitamin nya, dan nanti kontrol lagi bulan depan ya? Kalau misalkan ada keluhan langsung datang saja kesini tanpa harus nunggu satu bulan." ucap dokter Mery sambil memberikan secarik kertas.



"Terima kasih dok," jawab Gilang sambil mengambil kertas resep dari dokter Mery.



"Kalau begitu kami undur diri, maaf sudah mengganggu waktu pulang dokter." ucap Alina sambil berdiri dan mengulurkan tangan nya.



"Tidak apa-apa lagian saya juga ngga ada kerjaan lagi kok, jangan lupa titip salam buat mamah kalian." ucap dokter Mery sambil menerima uluran tangan dari Alina.



"Iya dok, kalau gitu kami permisi." ucap Alina lalu pergi keluar dari ruangan dokter Mery.


__ADS_1


"Dok, ini hanya sekedar tanda terimakasih saya karena dokter sudah mau memeriksa istri saya padahal dokter sudah mau pulang." ucap Gilang sambil memberikan beberapa uang lembar yang berwarna merah lalu melangkah mengikuti istri nya yang sudah duluan keluar dari ruangan.


__ADS_2