
Alina pun sudah nampak segar daripada kemarin, tapi untuk rasa mual memang selalu ada, dan tetap ngga mau melihat dan mencium nai goreng, dia lebih memilih sarapan roti isi cokelat dan segelas susu.
"Kak, kakak kerja hari ini? Tanya Nura.
"Iya, kakak udah enakan kok, cuman kalau mual kadang masih ada." jawab Alina.
"Kak, keponakan kita kembar ya? Laki-laki apa perempuan kak? Tanya Nuri.
"Kalian tahu dari mana kalau kakak sedang mengandung anak kembar? Tanya Alina sambil menatap ibu nya.
"Maaf kak, semalam ngga sengaja kita mendengar pembicaraan kakak dan kak Ronald." jawab Nuri.
"Ronald? Siapa Ronald?" tanya pak Abidin dengan kenig berkerut.
"Itu pak, atasan nya Alin, yang punya mini market di depan itu." jawab bu Diah.
"Oh, mau ngapain malam-malam kesini? Tanya pak Abidin, bukan maksud pak Abidin menolak siapa pun yang datang ke rumah nya, tapi dia tidak mau tetangga menilai yang tidak baik kepada anak nya.
"Kak Ronald cuma nganterin kita berdua pak, karena kak Ronald ngga tega lihat kita jalan malam-malam." jawab Nura.
"Kalian keluar malam? Dari mana kalian?" tanya pak Abidin.
"Semalam Alina yang menyuruh mereka pak, Alina semalam ingin makan martabak keju." jawab Alina.
Pak Abidin pun terdiam, dia mengerti dengan orang yang sedang hamil muda.
"Ya sudah kita berangkat yuk Nur," ajak Nura sambil berdiri dan mengambil tas sekolah nya.
"Kalian masih ada uang jajan nya ngga?" tanya Alina.
"Ada kok kak, tenang saja." jawab Nura dan Nuri.
""Kok tumben masih ada? Kalian kalau mau jajan, jajan aja jangan sampai nahan lapar di sekolah." ucap Alina.
"Iya kak, kita ngga nahan lapar kok, cuman semalam uang buat beli martabak jadi uang saku kita." jawab Nuri sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kok bisa? Terus martabak nya kamu bayar pakai apa?" tanya Alina heran.
"Kak Ronald yang bayarin." jawab Nuri.
"Jadi martabak semalam?" gumam Alina dan menggantung kalimat nya.
"Ya, martabak semalam di bayarin kak Ronald, dan kak Ronald bilang kalau uang nya buat uang saku kita aja, jadi kakak jangan marah karena ini kak Ronald yang nyuruh." jawab Nura.
"Sudah, sudah, mereka memang ngga salah, ya sudah ayo kalian berangkat nanti terlambat lagi." ucap bu Diah.
Nura dan Nuri pun berangkat dengan bibir tersenyum, sedang kan Alina kesal kepada mereka.
Alina ngga mau hidup tergantung kepada Ronald, apalagi semenjak Ronald menyatakan perasaan nya tadi malam.
"Sudah lah nak, itu rezeki mereka, ya sudah bapak juga berangkat kerja dulu." ucap pak Abidin.
"Alin juga berangkat ya bu." ucap Alina sambil berdiri, lalu mencium telapak tangan kedua orang tua nya dan berangkat kerja.
*
*
"Bi mulai sekarang aku ngga mau lihat roti dan susu ini di meja makan." ucap Gilang dengan tatapan tajam nya.
"Tapi nak, itu kan kesukaan kamu." ucap bu Dewi dengan tatapan heran nya.
"Ngga, mulai sekarang aku ngga suka roti dan susu." jawab Gilang sambil menahan rasa mual ketika melihat roti dan susu di depan nya.
"Bi, tolong singkir kan semua roti dan susu yang ada di meja ini." teriak Gilang.
"Terus kamu mau sarapan apa nak?" tanya bu Dewi, sedang kan pak Surya hanya diam sambil menatap kelakuan aneh Gilang anak nya.
"Aku mau nasi goreng atau pecel lele." jawab Gilang dengan wajah yang antusias.
"Apa! Pecel lele?" teriak bu Dewi dan pak Surya bersamaan sambil saling menatap heran.
"Ada apa sih masih pagi udah ribut? di meja makan lagi." ucap Dhea yang baru gabung di ruang makan dengan setelan kerja nya.
__ADS_1
"Pagi ini kakak kamu itu aneh dek, masa dia mau sarapan pecel lele." ucap bu Dewi.
"Ya sudah lah kalau memang ngga ada pecel lele, aku ngga sarapan saja, aku berangkat." ucap Gilang sambil berdiri lalu pergi meninggalkan mereka di ruang makan setelah mencium telapak tangan kedua orang tua nya.
"Tuh lihat, aneh kan? Lagian dia kan ngga suka ikan, apalagi ikan lele, kenapa sekarang tiba-tiba ingin makan pecel lele, pagi hari lagi." ucap bu Diah sambil menggeleng kan kepalanya.
"Sudah lah bu, jangan terlalu di pikirkan, mungkin Gilang lagi teringat Alina saja, mungkin ada kenangan bersama Alina dengan pecel lele, kalau gitu papah berangkat, soalnya ada meeting pagi." ucap pak Surya.
Pak Surya pun pergi meninggalkan istri dan anak nya berdua di meja makan.
"Bu, kakak aneh itu bukan pagi ini saja, tapi dari semalam tahu ngga." ucap Dhea sambil menyantap sarapan nya.
"Maksud adek? Memang nya apa yang telah kakak kamu lakukan semalam?" tanya bu Dewi.
"Semalam kakak ngajak adek untuk membeli pecel lele, tapi pas lagi di jalan kakak melihat pohon mangga yang lebat, dan akhir nya minta berhenti di depan rumah yang ada pohon mangga nya." ucap Dhea.
"Terus apa yang di lakukan kakak kamu?" tanya bu Dewi penasaran dengan cerita dari Dhea.
"Kakak nyuruh aku minta tuh buah mangga yang masih muda, karena dia ingin makan mangga itu." jawab Dhea.
"Mangga muda? Kakak kamu makan mangga muda di malam hari?" tanya bu Dhea lagi.
"Iya bu, dan alhamdulilah nya si ibu yang punya pohon mangga itu baik dan ramah hingga kita di kasih mangga nya." jawab Dhea.
"Terus kakak kamu memakan mangga nya, apa cuma iseng saja?" bu Dewi makin penasaran.
"Dimakan lah bu, dan ibu tahu ngga? Kakak bilang itu mangga manis, pas adek mencoba nya, ya Allah bu itu mangga asem nya sampai ngga kuat adek." jawab Dhea sambil bergidik, karena merasa asem yang semalam masih tersa oleh lidah nya.
"Ya ampun, ada apa dengan anakku Gilang, apa karena di tinggal pergi kekasih nya terus dia," bu Dewi pun menggantung kalimat nya karena Dhea memotong bicara nya.
"Bu, jangan berpikir macam-macam tentang kakak, ibu yang punya mangga semalam bilang kalau istri nya kakak pasti lagi ngidam, makanya permintaan nya aneh-aneh." ucap Dhea.
"Apa! Teriak bu Dewi sambil berpikir, "Apa jangan-jangan Alina sedang mengandung anak nya Gilang." gumam bu Dewi yang masih bisa di dengar oleh Dhea.
__ADS_1
"Nah Dhea juga berpikir kesana bu, berarti kalau memang Alina sedang hamil, dhea akan punya keponakan, tapi apa kita akan bertemu lagi dengan Alina?" ucap Dhea sambil menatap ibu nya dengan tatapan yang sendu.