
"Nur kita udah di transfer kamu cek deh, aku dapat notif nya ini." ucap Nuri sambil melihat isi notif dari suatu bank.
"Wah lima juta, kalau gini tabungan kita bisa makin banyak Nur, mulai sekarang kita ngga boleh minta uang sama kakak dan juga bapak sama ibu." ucap Nura.
"Iya Nur, alhamdulilah ya kakak mendapat suami baik seperti kak Gilang." ucap Nuri.
"Iya, dan kita harus membuktikan kepada kakak dan kak Dhea kalau kita berprestasi di sekolahan hingga nanti kita bisa bekerja di perusahaan nya kak Dhea." jawab Nura.
"Ya sudah kita tidur yuk, si kembar juga kelihatan nya sangat nyenyak sekali." ucap Nuri sambil menatap si kembar yang sudah terlelap dari tadi.
Nura dan Nuri pun tidur dengan di tengah-tengah si kembar yang sudah terlelap.
*
*
Semua yang ikut menghadiri resepsi pernikahan Gilang pada bangun kesiangan karena kecapek an, untung nya hari ini hari minggu, jadi para karyawan pak Surya memanfaatkan nya untuk beristirahat.
Alina mulai mengerjap kan mata nya, yang pertama dia lihat adalah wajah suami nya yang damai.
"Aku ngga menyangka kalau aku akan jadi istri kamu mas." gumam Alina sambil mengelus lembut pipi Gilang.
"Terima kasih mas, sudah mau jadi pendamping aku dan sudah mau bertanggung jawab dengan si kembar, aku sangat bahagia sekali." gumam Alina sambil tersenyum dan terus menatap wajah Gilang suami nya.
"Jangan di lihat terus, aku sudah tampan kok." ucap Gilang yang memang sudah bangun semenjak Alina membuka mata nya.
"Kamu sudah bangun mas? Narsis juga kamu ya mas." ucap Alina dengan sedikit kaget.
"Yang bawah pun ikut bangun Yang sejak kamu sentuh pipi mas." ucap Gilang dengan tatapan sendu nya.
"Mas, masa harus melakukan nya lagi, semalam saja sudah tiga kali." ucap Alina.
"Masih kurang Yang, itu kan malam sekarang pagi, jadi belum masuk hitungan dong." jawab Gilang sambil memeluk erat Alina.
Alina merasakan ada sesuatu yang kerasa pada paha nya.
"Mas beneran mau lagi?" tanya Alina sambil menatap wajah suami nya.
"Apa mas berbohong, mas ingin banget Yang, kamu juga udah merasakan nya kan." jawab Gilang sambil sedikit menggesek kan nya ke paha Alina.
Alina pun hanya mengangguk pasrah, karena Alina tahu kalau dirinya menolak itu sangat berdosa sekali.
__ADS_1
Gilang tanpa basa basi lagi langsung mengulang apa yang telah mereka lakukan semalaman hingga Alina dibuat nya tidak berdaya.
"Kak, sudah bangun belum? Si kembar kayak nya lapar ini." teriak Nura dan Nuri sambil mengetuk pintu.
"Mas, seperti nya si kembar sudah bangun." ucap Alina sambil melepaskan pelukan suami nya lalu mencari daster yang tergeletak di lantai lalu memakai nya tanpa dalaman.
Gilang pun langsung bangun dan mencari baju dan celana yang Alina lempar ke sembarang tempat semalam.
"Iya dek kakak udah bangun kok." jawab Alina sambil membuka pintu.
Alina dan Gilang pun mengambil si kembar dari gendongan nya NUra dan Nuri.
"Kita kembali ke kamar dulu ya kak, nanti kalau si kembar nya sudah selesai kasih ke kita lagi aja." ucap Nura.
"Iya dek." jawab Alina sambil membawa masuk baby Azzam.
"Kak makasih ya transferan nya." ucap Nuri dan Nura pelan dengan bibir tersenyum.
"Iya sama-sama, kakak masuk dulu ya." jawab Gilang lalu masuk membawa baby Azzam.
"Untung sudah selesai ya Yang, kalau belum mas akan pusing seharian ini." ucap Gilang sambil duduk di samping Alina dengan baby Azzura di gendongan nya.
"Ya kan itu bukan kemauan aku Yang, tapi kemauan si otong." jawab Gilang sambil tersenyum.
"Alasan saja, kan si otong nya punya kamu mas, berarti kamu juga yang menginginkan nya." jawab Alina.
Gilang hanya tersenyum mendengar ocehan istri nya.
"Ya sudah mas sana mandi dulu, nanti gantian jaga si kembar aku yang mandi." ucap Alina.
"Oke sayang, baby Azzura yang cantik, papah mandi dulu ya, nanti kita main sambil jalan-jalan." ucap Gilang sambil mencium pipi baby Azzura.
Si kembar pun sudah pada kenyang, dan Gilang sudah kembali ke kamar dengan wajah segar nya sehabis mandi.
"Yang, aku malu lo barusan sama ibu dan bapak." ucap Gilang sambil mengeringkan rambut dengan handuk nya.
"Malu kenapa memang nya mas?" tanya Alina sambil meraih baju dan celana yang berserakan di lantai.
__ADS_1
"Pas mas keluar dari kamar mandi, ibu dan bapak kan ada di ruang makan, mereka itu menatap mas dengan senyuman yang penuh arti gitu." jawab Gilang.
"Ya resiko punya kamar mandi cuma satu mas." jawab Dhea sambil tersenyum.
"Gimana kalau bapak dan ibu pindah lagi ke rumah yang lama?" tanya Gilang.
"Rumah yang lama sudah kita jual mas, ngga mungkin kita membeli nya lagi." jawab Alina.
"Siapa bilang ngga mungkin? Itu rumah milik kamu kok sekarang." jawab Gilang sambil duduk di dekat si kembar yang lagi berbaring.
"Milik aku gimana? Orang jelas-jelas bapak sudah menerima pembayaran nya kok." jawab Alina.
"Karena yang beli rumah itu adalah mas sayang, dan rumah itu sudah mas renovasi dengan atas nama kamu." jawab Gilang sambil tersenyum.
"Yang benar mas? Kok bisa?" tanya Alina dengan wajah kaget nya.
"Semenjak mas tahu kalau kalian pergi dan mau menjual rumah itu, mas langsung membelinya dengan harapan kalian kembali ke rumah itu." jawab Gilang.
"Makasih mas, makasih banyak, entah bagaimana caranya aku membalas semua kebaikan mas dan keluarga mas." ucap Alina sambil memeluk Gilang dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"kenapa kamu nangis? Jangan jatuh kan lagi air mata di depan mas." ucap Gilang sambil mengusap air mata Alina yang terjatuh di pipi nya.
"Ini air mata kebahagiaan mas, aku sangat bahagia sekali, maaf kan kelakuan dan sikap aku yang telah egois dan meninggalkan kamu waktu itu." ucap Alina yang masih memeluk Gilang.
"Sudah lupakan yang lalu, itu juga salah nya mas, kok, sekarang sana mandi udah siang ini, apa mau lagi?" goda Gilang.
"Kamu ini mas, ngga ada bosan nya, ya sudah aku mandi dulu, jaga si kembar." ucap Alina sambil melepaskan pelukan nya pada Gilang, lalu pergi ke kamar mandi.
*
*
Kini Gilang dan Alina sedang berkumpul dengan kedua orang tua nya dan juga Nura dan Nuri yang selalu siap untuk menjaga si kembar.
"Pak, bu, bagaimana kalau kalian pindah lagi ke rumah lama kalian?" tanya Gilang.
"Rumah lama yang mana nak? Rumah kami kan sudah kami jual." jawab pak Abidin yang memang belum tahu tentang rumah nya yang dulu.
"Itu masih milik kalian kok pak, saya yang membeli rumah itu dengan nama Alina, jadi bapak, ibu dan adik kembar bisa menempati nya kembali." jawab Gilang.
"Yang benar nak? Jadi rumah itu kamu yang membelinya?" tanya bu Diah sedikit ngga percaya dengan apa yang diucapkan Gilang.
__ADS_1
"Benar bu, dan ibu bisa menempati nya kapan pun." jawab Gilang sambil tersenyum.