
***Bestie kita ceritakan dulu para OB ya?
Soalnya kemarin Hendra datang ke rumah, katanya kapan saya tampil lagi, masa hilang begitu saja, sedangkan dia masih tamp[i.π€
Lets go***.
Hampir di setiap waktu luang Gilang selalu video call bersama istri dan anak-anak nya, Gilang tidak mau melewatkan masa pertumbuhan anak kembar nya, dia tidak mau kehilangan momen sebagai seorang ayah.
Siang ini seperti biasa Gilang di sibukan dengan setumpuk kerjaan, dan dengan serius nya Gilang mengerjakan semua nya.
"Aku kok kangen sama bu Alina ya? ada kali ya setahun lebih kita ngga bertemu dengan nya." ucap Hendra.
"Iya ya Hen, gimana ya khabar nya bu Alina sekarang," jawab Irman.
"Woi, kalian lagi pada ngapain pada merenung di sini?" tanya Suci yang baru datang bersamaan dengan Retno.
"Dia lagi kangen seseorang." jawab Irman dengan sengaja tidak langsung menyebutkan nama Alina karena mau mengerjai Hendra dan Retno.
Mereka semua sudah mengetahui hubungan antara Hendra dan Retno.
"Kangen siapa? Kan orang yang selalu di kangenin nya ada di sini?" tanya Suci sambil melirik Retno.
"Kangen sama seorang perempuan cantik dan baik yang sudah setahun ngga bertemu." jawab Irman sambil tersenyum jahil.
Retno yang mendengar semua itu muka nya langsung berubah, dia kesal, marah karena cemburu mendengar Hendra lagi merindukan seseorang selain dirinya.
"Bohong Yang, Irman jangan di dengarkan." ucap Hendra sambil menatap tajam ke arah Irman.
"Elo kok gitu sih Hen, gue ngga terima ya kalau sahabat gue ini elo sakiti, apalagi bulan depan kalian mau menikah, lo jangan menghancurkan impian seorang wanita dong." ucap Suci.
"Ngga, gue ngga nyakitin sahabat lo, gue sayang sama dia." jawab Hendra.
"Tadi lo kan yang ngomong ke gue kalau lo lagi kangen wanita cantik yang sudah lama ngga elo temui, dan lo khawatir banget." ucap Irman yang mulai jadi kompor.
"Man, awas lo ya," teriak Hendra sambil mengarahkan telunjuk nya ke wajah Irman.
"Kalau memang kamu sudah ada yang lain atau kamu memang sudah ada yang lain dari dulu lebih baik pernikahan kia dibatalkan saja, aku ngga mau di duakan." ucap Retno dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Yang, dengarkan aku dulu, semua yang diomongin Irman memang benar tapi dia itu." ucap Irman yang belum menyelesaikan kalimat nya karena sudah di potong oleh Retno.
"Sudah cukup Hen, aku sudah ngga mau mendengar nya lagi, mulai sekarang aku ngga perduli lagi dengan kamu." teriak Retno sambil berlari menuju toilet.
"Yang, dengarkan aku dulu." teriak Hendra sambil memeluk Retno dari belakang dan membuat langkah Retno terhenti.
"Lepaskan, aku ngga sudi di sentuh kamu." teriak Retno sambil berusaha melepaskan tangan Hendra yang melingkar di perut nya.
"Emang nya beneran kalau Hendra lagi merindukan wanita? Siapa memang nya?" bisik Suci kepada Irman.
"Benar, Hendra sedang merindukan seorang wanita, dia adalah bu Alina." jawab Irman balik berbisik.
"Brengsek kamu, kenapa kamu tidak langsung bilang kalau bu Alina yang kalian kangenin? Jadi salah paham kan?" ucap Suci.
"Sudah diam, sekali-kali kita lihat drama mereka, kan jarang-jarang kita punya hiburan seperti ini di tempat kerja." ucap Irman.
"Dengar dulu penjelasan aku Yang, semua yang diomongin Irman memang benar, tapi kita lagi kangen sama," lagi-lagi Retno memotong kalimat Hendra, hingga membuat Hendra tidak melanjutkan kalimat nya.
"Sama bu Alina." ucap Hendra yang jelas di dengar oleh Retno.
Retno seketika terdiam, lalu membalikan tubuh nya.
"Kamu jahat." teriak Retno sambil memukul dada Hendra.
"Di hati aku itu cuma ada kamu Yang, ngga ada yang lain, kamu adalah wanita yang akan mendampingi aku selama nya.
Retno pun terdiam, dia masih kesal dengan Hendra, kenapa ngga langsung bilang saja kalau wanita itu adalah bu Alina, kan dia jadi ngga harus marah-marah dan menangis.
"Tapi Irman bilang tadi?" tanya Retno sambil melirik ke arah Irman yang sedang tersenyum puas sudah ngerjain retno.
"Awas kamu Man, aku akan balas kamu sekarang juga." gumam bathin Retno.
"Kamu percaya aku kan Yang?" tanya Hendra sambil menggenggam erat tangan Retno.Retno hanya mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ngga jadi batal kan pernikahan kita? aku hanya kangen sama bu Alina, dia itu orang baik, kamu juga tahu kan?" ucap Hendra.
"Iya, aku juga kangen bu Alina." jawab Retno.
Retno tahu kalau Irman itu menyukai Suci dari dulu, tapi dia masih belum berani mengungkap kan nya.
"Bantu aku membalaskan dendam pada Irman." bisik Retno, Hendra pun mengangguk kecil tanda mengerti.
"Ya sudah aku sama Suci mau siap-siap bertemu dengan lelaki idaman nya Suci dulu." ucap Retno sambil melirik keara Irman.
Irman yang kaget mendengar Suci ada pria idaman nya langsung menatap ke arah Suci.
Suci pun menatap Irman lalu beralih menatap Retno yang sedang memberi kode dengan kerlingan mata nya.
"Memang nya Suci sudah punya lelaki idaman?" tanya Hendra.
"Sudah, dia itu orang nya tinggi, tampan, juga kaya, sampai-sampai kemarin pas ibu nya di rawat di rumah sakit, Suci di kasih uang sama pria idaman nya itu sepuluh juta buat bayar rumah sakit." jawab Retno.
Retno tahu semua nya, bahkan Retno tahu kalau Gilang dan Alina sudah mempunyai anak, karena Suci menceritakan semuanya kepada Retno.
"Wah, berarti sebentar lagi bakalan ada yang patah hati, aku harus siap-siap pasti nanti bakalan banyak wartawan kesini." ucap Hendra.
"Memang nya siapa yang akan patah hati kalau aku menikah dan bersanding sama pria idaman ku?" tanya Suci yang paham akan kode dari Retno sahabat nya.
"Pasti akan ada yang sakit hati di perusahaan ini, karena dia itu sudah lama menyukai kamu Ci, tapi dia tidak berani mengungkapkan nya." jawab Hendra.
Sedangkan Irman menatap tajam ke arah Hendra.
"Ya itu sih salah dia nya sendiri, suruh siapa menyukai aku tapi ngga berani mengungkapkan nya." ucap Suci.
"Memang nya lelaki idaman kamu itu seorang pemberani gitu?' tanya Irman dengan ketus.
"Jelas, dia itu seorang pemberani, tanggung jawab dan penyayang, dia itu ngga neko-neko walaupun lama ngga bertemu, dia itu setia, dia ngga pernah melirik wanita lain, padahal yang menggoda dia itu banyak, tapi dia tetap dengan hati nya." jawab Suci sambil tersenyum.
Hati Irman sangat panas mendengar Suci yang memuji lelaki lain, dia menahan amarah nya sendiri, karena mau marah pun Suci belum menjadi milik nya.
__ADS_1