
"Kakak." ucap Dhea sambil meraih tangan Gilang bertepatan pintu sudah terbuka.
"Yang, aku datang." teriak Gilang setelah pintu terbuka dan melihat Alina yang sedang menahan kesakitan.
Semua yang ada di dalam ruangan langsung menatap ke arah pintu yang terbuka, Alina melihat sosok yang ia rindukan saat-saat ini.
Mata Alina berkaca-kaca begitu melihat Gilang, bukan karena kehadiran Gilang Alina meneteskan air mata nya, tapi ada sosok sahabat nya yang sedang menggenggam erat tangan Gilang.
Entah kenapa Alina merasakan cemburu di hati nya melihat Gilang bersama wanita lain, apalagi ini adalah sahabat nya sendiri.
"Mas Gilang, Dhea, kalian?" gumam Alina sambil melihat ke arah Gilang dan Dhea dengan tangan Dhea yang masih memegang erat tangan Gilang.
Gilang dan Dhea pun menghampiri Alina, mata Gilang sudah berkaca-kaca, dia bahagia melihat Alina, tapi ia juga sedih karena belum tahu dengan pasti anak yang di kandung Alina itu anak siapa.
"Mau apa mas kesini?" tanya Alina sambil melihat kearah tangan Dhea yang masih menggenggam tangan Gilang.
Dhea yang peka dengan tatapan Alina pun langsung melepaskan genggaman nya.
"Mas," jawab Gilang yang belum menyelesaikan kalimat nya sudah di potong oleh Alina.
"Semoga kalian berbahagia, seperti aku yang sudah bahagia bersama mereka." ucap Alina sambil menahan rasa sakit.
"Lin, dengar dulu penjelasan ku." ucap Dhea.
"Ah, sakit." teriak Alina yang kembali merasakan sakit di perut nya.
Gilang dan Dhea pun hanya menatap kasihan kepada Alina yang sedang berjuang menahan rasa sakit di perut nya.
"Maaf pak, bu yang boleh mendampingi pasien hanya satu orang, jadi yang lain nya mohon untuk menunggu nya di luar." ucap dokter Bela.
Bu Diah pun menatap ke arah Gilang lalu mengangguk, seolah-olah memberikan posisi nya kepada Gilang untuk mendampingi Alina melahirkan.
"Ibu tunggu di luar ya nak." ucap bu Diah sambil mengelus puncak kepala Alina.
Alina hanya diam sambil menahan rasa sakit, dan juga memang di dalam hati nya yang terdalam ingin sekali dia di dampingi oleh Gilang ayah nya si kembar.
"Mari nak, kita tunggu di luar." ajak bu Diah pada Dhea.
__ADS_1
Dhea pun mengangguk lalu melangkah keluar ruangan bersama bu Diah.
"Bu, kenalkan saya adik nya kak Gilang, atas nama keluarga, saya pribadi meminta maaf atas semua yang telah di lakukan oleh kakak saya." ucap Dhea dengan sopan.
"Apa! jadi bu Dhea ini adik nya pak Gilang, oh no, mereka benar-benar bisa menyembunyikan jati diri nya." gumam bathin Suci yang memang masih ada di situ dan melupakan ibu nya yang sedang berada di ruangan rawat inap sendirian.
"Kami sudah memaafkan nya nak, karena semua bukan salah nya nak Gilang, tapi memang dari kecil Alina tidak suka sama orang yang telah membohongi nya." jawab bu Diah.
"Kak Gilang juga sebenar nya tidak bermaksud untuk membohongi Alina, dan kita semua mau menjelaskan semua yang terjadi waktu itu, tapi rumah Alina sudah kosong." ucap Dhea.
"Iya nak, karena hari itu juga pas Alina tahu siapa nak Gilang sesungguh nya, Alina langsung ngajak kami pindah kesini, ke rumah kakek nya." jawab.
"Terimakasih pak, bu atas kebesaran hati kalian yang sudah mau memaafkan keluarga kami terutama sudah memaafkan kak Gilang." ucap Dhea sambil tersenyum.
"Iya nak, sama-sama, semoga ke depan nya hubungan mereka berdua lebih baik dan saling menerima satu sama lain nya." jawab pak Abidin.
Dhea pun tersenyum mendengar jawaban dari pak Abidin.
"Ngomong-ngomong kalian tahu kami ada di sini darimana? tanya bu Diah.
Pak Abidin dan bu Diah pun hanya mengangguk dan tersenyum paham.
"Ci, antar saya ke kantin yuk, saya mau beli cemilan dan minuman." ajak Dhea pada Suci.
"Baik bu." jawab Suci.
"Pak, bu maaf saya tinggal dulu." ucap Dhea.
"Iya nak, silahkan." jawab pak Abidin dan bu Diah bersamaan.
Dhea dan Suci pun pergi meninggalkan kembali keluarga Alina untuk membeli makanan dan minuman, karena Dhea melihat tidak ada satu cemilan pun buat mereka.
"Sudah lahir belum?" tanya Ronald yang baru kembali dari toilet.
"Belum kak, kak Ronald kok lama sekali ke toilet nya?" tanya Nuri.
"Iya tadi habis dari toilet ketemu teman dan biasa berbincang-bincang dulu sebentar." jawab Ronald.
__ADS_1
"Lo bu, Alina di dalam sama siapa?" tanya Ronald yang kaget melihat ibu nya Alina berada di luar ruangan.
"Ada ayah nya si kembar yang menemani." jawab bu Diah sambil tersenyum.
"Ayah nya? Jadi laki-laki yang sudah membohongi Alina ada di dalam?" tanya Ronald ingin memastikan nya.
"Iya nak, dia sudah menemukan Alina." jawab bu Diah.
Ronald pun terdiam, dia sedikit sakit hati nya mendengar ayah dari anak yang di kandung Alina sekarang berada di samping Alina.
Bu Diah tahu kalau Ronald kecewa mendengar kalau ayah si kembar sekarang ada di dalam, karena bu Diah sebagai orang tua merasakan kalau Ronald menyukai Alina anak nya.
*
*
Dokter Bela yang sudah memeriksa jalan lahir nya pun memberikan arahan.
"Siap ya bu, ini sudah waktu nya si kembar melihat papah dan mamah nya." ucap dokter Bela.
"Si kembar? Maksud nya?" tanya Gilang sambil menatap ke arah Alina, lalu menggenggam tangan Alina.
"Jangan pegang-pegang, pegang saja tangan Dhea sana." ucap Alina sambil menepis tangan Gilang.
Gilang pun tersenyum, setidak nya walaupun Alina marah pada dirinya, masih tersimpan rasa untuk nya, karena Gilang merasa kalau Alina sedang cemburu pada Dhea adik kandung nya.
Walaupun Alina terus-terusan menepis tangan nya, tapi Gilang tidak menyerah dia terus mencoba menyentuh dan menggenggam tangan Alina yang sedang menahan sakit.
"Ah sakit mas." teriak Alina sambil menjambak, memukul bahkan mencakar Gilang, seakan-akan Alina meluapkan kemarahan nya yang ia pendam selama ini.
Dokter Bela pun memeriksa kembali jalan lahir nya Alina.
"Oke bu siap ya? Ini sudah waktu nya" ucap dokter Bela.
Alina bukan seperti orang yang mau melahirkan pada umum nya, dia mengejan sambil memarahi Gilang hingga tidak terasa bayi pertama pun lahir.
"Kamu jahat mas, kamu sudah bohongin aku." teriak Alina sambil terus memukul dan menjambak Gilang.
Hingga terdengar lah suara seorang bayi pertama keluar.
"Oek, oek, oek." seorang bayi laki-laki tampan akhir nya menunjukkan wajah nya ke dunia pernovelan.
"Bayi pertama berjenis kelamin laki-laki, dia sangat tampan bu." ucap dokter Bela sambil mengangkat bayi yang sedang menangis kencang itu.
__ADS_1