Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Kedatangan Pak Surya dan Bu Dewi.


__ADS_3

Kini Alina pun sudah rapih dan cantik, setelah mendengar cerita dari dhea tadi Alina langasung membersihkan tubuh nya.



Gilang dan Dhea lagi berkumpul dengan keluarga Alina sambil berbicang dan sesekali memperebutkan si kembar.



Ada sebuah mobil mewah memasuki pelataran rumah pak Abidin.



Pak Abidin dan bu Diah daling menatap, karena mereka ngga tahu siapa yang datang.



Gilang dan Dhea yang sudah hapal dengan mobil itu mereka pun tersenyum lalu berdiri menyambut nya.



"Mamah, papah, pasti kamu yang kasih tahu kan dek?" tanya Gilang sambil melihat ke arah Dhea.



"Iya lah, memang nya siapa lagi, kalau kakak kan ngga mungkin, ngasih kabar ke mamah saja ngga." jawab Dhea.



"Tapi kok tahu kalau rumah Alina di sini?" tanya Gilang yang kepintaran nya sedikit hilang karena rasa bahagia nya.



"Ya tahu lah, kan sekarang zaman nya mbah, kakak kok ngadak-ngadak lola ya?" ucap Dhea sambil menghampiri bu Dewi.



"Akhirnya ketemu juga kan mah?" uucap Dhea setelah melihat bu Dewi turun dari mobil.



"Iya sayang,, sampai muter-muter dulu karena titik lokasi nya susah di cari." jawab bu Dewi.



Mendengar Dhea memanggil nya dengan panggilan mamah, pak Abidin dan bu Diah pun langsung berdiri ikut menyambut kedatangan orang tua Gilang.



Gilang dan Dhea pun mencium telapak tagan orang tua nya.



"Kamu ini dari dulu sampai sekarag suka ngga ngasih kabar, sampai kabar sebahagia ini mamah ngga di kasih tahu juga." ucap bu Diah sambil menjewer pelan telinga Gilang.



"Maaf mah, tapi ini memang di luar rencana kita." ucap Gilang.



"Sudah, sudah, malu di lihat yang punya rumah." ucap pak Surya sambil melangkah menghampiri pak Abidin dan bu Diah.



Bu Diah pun melepas tangan dari telinga Gilang lalu mengikuti suami nya.



"Selamat datang pak, ayo silahkan masuk." ucap pak Abidin dengan sopan.



"Kenalkan kami orang tua nya Gilang dan Dhea, maaf kalau mereka sudah menyusahkan di sini." ucap pak Surya sambil mengulurkan tangan nya.



"Kami orang tua nya Alina, mari masuk pak, bu." jawab pak Abidin ramah.



"Itu cucu saya?" tanya bu Dewi sambil masuk dan langsung menghampiri si kembar.


__ADS_1


"Ah, cucu omah tampan dan cantik, boleh ngga ibu menggendong nya nak?" tanya bu Dewi sambil menatap Nura.



"Boleh kok bu." jawab Nura sambil tersenyum.



"Ah, cucu omah cantik sekali." ucap bu Dewi sambil menggendong Azzura, tiba-tiba Azzam menangis dengan kencang.



"Lo, kok nangis, apa mau di gendong omah juga?" tanya bu Diah sambil menghampiri Azzam.



"Ya sudah kalau begitu biar saya yang gendong." ucap pak Surya sambil menghampiri Azzam lalu menggendong nya.



Seketika Azzam yang lagi nangis kencang pun terdiam dan tersenyum.



"Wah, ternyata Azzam nangis itu ngambek ya? Ngga di gendong omah dan opah." ucap Dhea.



Mereka pun tersenyum dengan tingkah laku bayi yang baru lahir itu.



"Sebentar, kalian juga kembar ya?" tanya bu Dewi sambil melirik ke arah Nura dan Nuri bergantian.



"Iya bu, kami kembar, saya Nura dan ini saudara kembar saya Nuri." jawab Nura dengan sopan.



"Ah, cantik-cantik sekali kalian, pantesan mereka juga kembar, ternyata ada gen turunan." ucap bu Dewi.



"Mari pak, bu, duduk dulu, capek habis perjalanan jauh, nak biarkan opah sama omah kamu istirahat dulu ya? Nanti di gendong lagi." ucap bu Diah sambil mengelus Azzam dan Azzura.




"Ya ampun pah, mereka berdua ini sangat pintar lo, seperti nya mereka mengerti dengan apa yang di ucapkan nenek nya." ucap bu Dewi heboh.



"Kita juga heran bu, dengan si kembar ini, seperti nya mereka ini nanti nya akan menjadi anak yang jenius, soalnya kalau kita bicara itu dia seperti yang sudah mengerti." ucap pak Abidin.



Bu Dewi dan pak Surya pun merebahkan kembali bayi Azzam dan Azzura di stroller.



"Nak, tolong lihat kakak kamu sudah selesai belum mandi nya, kalau sudah ajak kemari." ucap bu Diah pada Nura.



"Biar Nuri yang panggilkan kakak bu." ucap Nuri sambil berdiri.



"Ya sudah, bilang ada orangtua nak Gilang." ucap bu Diah kembali.



"Iya bu." jawab Nuri lalu berlalu dari hadapan mereka.



"Maaf keadaan kita di sini seperti ini, ruangan nya pun sempit, mohon bapak dan ibu memaklumi nya." ucap pak Abidin.



"Ngga apa-apa, sama saja kok, tapi di sini enak ya adem." jawab pak Surya.

__ADS_1



"Silahkan di minum pak, bu, maaf hanya ini yang bisa kami sajikan." ucap bu Diah sambil menata minuman di atas meja, karena cemilan sudah siapdari semenjak Gilang dan Dhea datang.



"Makasih, ngga usah repot-repot bu." jawab bu Dewi.



Mereka pun akhirnya terlibatt dengan pembicaraan serius mengenai anak-anak mereka.


*


*


"Kak, sudah selesai mandi nya?" tanya Nuri sambil membuka pintu kamar Alina.


"Sudah dek, kenapa? Si kembar nangis ya?" tanya Alina.



"Ngga kok kak, si kembar anteng malah, cuman tadi Azzam nangis sebentar ketika omah nya menggendong Azzura." ucap Nuri.



"Omah? Siapa omah?" tanya Alina dengan menatap Nuri heran.



"Ibu? ngga usah omah-omah segala panggil nya nenek saja." ucap Alina sambil tertawa.



"Bukan kak, bukan ibu, tapi mereka omah nya Azzam dan Azzura, mereka itu orang tua nya kak Gilang." ucap Nuri.



"Apa! Jadi orang tua mas Gilang ada di sini?" teriak Alina kaget.



"iya, mereka baru datang, dan mereka senang sekali melihat bayi Azzam dan Azzura." jawab Nuri.



Alina terdiam, dia masih merasa ngga enak dan takut kalau hubungan mereka tidak di restuinya.



"Ayo kak, kok malah melamun, mereka sudah nungguin lo." ucap Nuri sambil narik tangan Alina.



"Sebentar dek, penampilan kakak gimana?" tanya Alina sambil melihat kembali penamp\[ilan nya di depan meja rias.



"Udah cantik, ayo kita ke depan." jawab Nuri sambil menarik kembali tangan nya ALina.



Alina berjalan menghampiri mereka dengan hati yang berdebar, banyak sekali ketakutan-ketakutan yang ada pada diri Alina karena status mereka yang sangat jauh berbeda menurut Alina.



"Cantik." gumam Gilang sambil menatap Alina yang sedang menghampiri nya.



Mereka yang mendengar gumaman Gilang pun melirik ke arah yang sedang di pandang Gilang.



"Ini ya yang membuat anak mamah berubah menjadi seorang monster." ucap bu Diah sambil menatap ke arah Alina.



Alina hanya menunduk malu sambil mencium telapak tangan bu Dewi dan pak Surya bergantian.



"Pantesan anak mamah sampai belingsatan ketika kamu menghilang, orang nya cantik begini." goda bu Dewi.

__ADS_1



"Mah cukup, jangan menggoda terus." ucap Gilang.


__ADS_2