
Alina mengerjapkan matanya, "Mas, bangun ini sudah pagi lo, aku mau ngurusin anak-anak dulu." ucap Alina, bukan Alina ngga bisa bangun sendiri tapi tangan Gilang memeluk tubuh Alina dengan sangat erat sekali hingga Alina ngga bisa berbuat apa-apa.
"Sebentar lagi Yang, mas masih ingin meluk kamu." jawab Gilang dengan mata yang masih terpejam.
"Mas, tapi ini sudah siang." ucap Alina sambil berusaha melepaskan tangan Gilang dari tubuh nya.
"Yang bisa diam ngga? Si otong nya mas jadi bangun lagi kan, gara-gara kamu ngga diam." ucap Gilang sambil menempelkan si otong nya ke paha Alina.
Alina pun merasakan sesuatu yang keras di paha nya. "Mas semalam kan udah dua kali, masa mau nambah lagi, udah ah lepas aku mau mandi." ucap Alina sambil melepas pelukan Gilang dari tubuh nya.
"Ya sudah kalau kamu ngga mau." ucap Gilang dengan wajah kesal nya lalu melepaskan pelukan nya dan pergi ke kamar mandi tanpa menghirau kan istri nya.
"Nah kan ngambek, padahal aku cuma bercanda." gumam Alina lalu turun dari tempat tidur dan menyusul suami nya ke kamar mandi.
Dengan perlahan dan tubuh yang masih tanpa penghalang satu lembar kain pun, Alina berjalan ke kamar mandi dan membuka pintu kamar mandi.
Begitu pintu terbuka nampak lah tubuh suami nya yang sedang membelakangi pintu kamar mandi, dia lagi mengguyur tubuh nya dengan air yang turun dari shower.
Alina langsung memeluk tubuh suami nya dengan tangan sambil mengabsen seluruh tubuh suami nya di bawah guyuran shower.
Gilang hanya diam sambil memejamkan matanya merasakan setiap sentuhan yang di berikan istri nya.
"Segitu aja ngambek, kalau mas ngambek aku ngga kasih seminggu." ucap Alina sambil melepaskna pelukan nya dan berjalan kearah bathtub.
Gilang yang merasakan kalau Alina melepaskan pelukan nya langsung membalikan tubuh nya dan menarik tangan Alina hingga kini Alina ada dalam pelukan nya.
"Mas ngga marah kok, mas hanya kesal saja." ucap Gilang lalu mencium mesra bibir Alina.
Alina pun kembali melayani hasrat suami nya di pagi hari itu di dalam kamar mandi.
*
*
"Bang, bangun udah pagi adek sudah siap lo." teriak Azzura sambil mengetuk pintu kamar Azzam saudara kembar nya.
"Iya dek, abang juga sudha siap kok, ayo kita sarapan." ajak Azzam sambil menutup kembali pintu kamar nya.
__ADS_1
"KIta bangunin mamah sama papah dulu yuk bang." ajak Azzura sambil berjalan menuju kamar kedua orang tua nya.
Mereka pun berjalan menuju kamar kedua orang tua nya lalu mengetuk pintu sambil memanggil-manggil mamah nya.
"Mah bangun udah siang." teriak Azzura sambil terus mengetuk pintu nya, namun udah beberapa kali Azzura dan Azzam mengetuk pintu ngga ada sahutan sama sekali dari dalam kamar orang tua nya.
"Sudah lah dek, kita tunggu di meja makan saja, mungkin papah sama mamah lagi sibuk buat adik." ucap Azzam.
"Memang nya buat adik itu gimana cara nya ya bang?" tanya Azzura.
"Abang juga ngga tahu, tapi katanya kalau papah sama mamah tidur berdua terus pas di panggil ngga ada suara itu tanda nya mereka lagi buat adik." jawab Azzam.
"Kok abang tahu? Kata siapa?" tanya Azzura sambil menatap Azzam saudara kembar nya.
"Kata om Glen, waktu itu om Glen yang bilang." jawab Azzam.
"Ya sudah kalau gitu kita tunggu di meja makan aja lah." ucap Azzura sambil membalikan tubuh nya lalu pergi meninggalkan kamar orang tua nya.
Si kembar sibuk memanggil manggil kedua orang tua nya dari luar kamar, sementara yang di panggil-panggil sedang sibuk memenuhi hasrat nya di pagi hari.
"Untuk sekarang sih sudah cukup, tapi ngga tahu kalau nanti malam." jawab Gilang sambil tersenyum jahil nya.
"Mas, aku juga capek kalau harus tiap malam melayani kamu." ucap Alina.
"Kamu ngga usah bergerak, biar mas saja yang bergerak, kamu tinggal menikmati nya." ucap Gilang.
"Kalau ngga gerak kan ngga enak juga mas, ngga ada sensasi nya." jawab Alina.
"Nah kan kamu mulai nakal ya? Kalau gitu kamu saja yang gerak mas yang diam." ucap Gilang.
"Aku kan nakal sama suami ku bukan sama suami orang." ucap Alina.
"Aku suka lo Yang, kalau kamu yang mendominasi permainan nya, aku tuh suka kamu yang nakal di atas tempat tidur, jadi nanti malam kamu harus lebih liar dari tadi ya?" ucap Gilang lalu mencium lembut bibir Alina.
__ADS_1
"Sudah ah jangan bahas itu terus yang ada kamu ngga jadi pergi ke kantor, terus bisa-bisa aku ngga bisa jalan gara-gara ulah kamu mas." ucap Alina sambil menarik tangan Gilang untuk pergi ke ruang makan.
Gilang pun tersenyum melihat kelakuan Alina yang menurut nya lucu itu.
"Pagi kesayangan papah dan mamah, wah kalian sudah benar-benar mandiri ya." teriak Alina sambil langsung mengambil piring kosong buat melayani suami nya.
"Mereka juga kesayangan kita lo." ucap Bu Dewi.
"Oh iya yah berarti kesayangan kita semua." jawab Alina sambil memberikan piring yang sudah berisi makanan untuk suami nya.
"Dek benar kan kata abang tadi kalau papah dan mamah sedang buat adik." bisik Azzam.
"Abang tahu dari mana?" tanya Azzura sambil berbisik juga.
"Lihat leher mamah merah-merah, kata om Glen kalau leher mamah atau leher papah pada merah-merah itu tanda nya papah dan mamah habis buat adik." ucap Azzam dengan sangat pelan.
"Kalian lagi pada bisikin apaan nak? Serius amat?" tanya Alina sambil menatap si kembar.
"Ini mah kata abang papah sama mamah habis buat adik untuk kita ya?" tanya Azzura dengan wajah polos nya.
Alina yang sedang ngunyah makanan pun langsung tersedak begitu mendengar pertanyaan dari Azzura.
"Pelan-pelan Yang, ini minum dulu." ucap Gilang sambil memberikan gelas yang sudah di isi air putih.
"Kalian kenapa bicara seperti itu? Dari mana kalian tahu?" tanya Gilang sambil menatap kearah si kembar.
"Om Glen yang bilang kalau leher papah dan mamah merah berarti habis buat adik." jawab Azzam.
"Glen jadi semua ini kamu otak nya, awas kamu." gumam bathin Gilang.
"Omongan om Glen ngga usah di dengar ya nak." ucap Gilang.
"Berarti papah ngga jadi buat adik untuk kita, adik ayo kita berangkat, jangan mau bicara sama papah lagi." ajak Azzam sambil berdiri.
__ADS_1
Pak Surya, bu Dewi dan Alina hanya bengong melihat kelakuan si kembar pagi ini.